Tahun 2021 akan tiba dalam hitungan hari. Biasanya, orang-orang menyusun resolusi dengan harapan tahun mendatang lebih baik dari tahun sekarang.

Yang menjadi pertanyaan adalah terobosan apa yang bisa dilakukan sementara pandemi Covid-19 diprediksi masih akan terjadi?

Pertanyaan tersebut terdengar skeptis, seperti tidak ada terobosan apapun di tahun depan.

Untuk saat ini, misalnya, pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 telah mendisrupsi sektor ekonomi, politik dan sosial masyarakat.

Kasus positif bertambah tiap hari dengan total kematian mencapai 1 juta jiwa. Orang-orang mengurung diri di rumah tanpa bisa bebas berlibur. Negara-negara besar mengalami tekanan ekonomi, termasuk Indonesia yang sudah resesi ekonomi berdasarkan laporan PDB kuartal III-2020.

Baca juga: Dinasti Politik Bangkit dan Tenggelam di Pilkada Serentak 2020

Jadi, tidak ada pilihan lain selain sembuh. Salah satu jalannya dengan menurunkan kasus positif. Vaksin menjadi andalan dan terus dikembangkan demi mencapai tingkat kekebalan kolektif (herd immunity).

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pelaksanaan vaksinasi di Indonesia diperkirakan dapat dimulai pada akhir tahun ini.

Lalu, selama fase penyembuhan itu, apa lagi yang bisa dilakukan untuk membuka harapan?

Gagasan demi gagasan telah dihadirkan untuk mengatasi krisis ini semua. Sebagai contoh, pemerintah membuat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Ada juga UU Cipta Kerja yang dianggap dapat menjadi pemacu masuknya investasi dan penciptaan lapangan kerja, meski pembahasan ini dan mendapat kritikan luas dari masyarakat.

Gagasan besar lainnya secara global adalah great reset. Barang apa pula ini? Bila diterjemahkan lepas, great reset berarti penyetelan ulang secara besar-besaran.

Ini barangkali terdengar asing bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, di belahan Amerika Utara, gagasan great reset ini terus diperdebatkan bahkan memunculkan teori-teori konspirasi.

Indonesia bukan tidak mungkin akan bersinggungan dengan konsep ini yang diperkirakan akan dimulai pada 2021 mendatang sebagai bentuk pemulihan ekonomi global. Seluruh pemimpin dunia diharapkan bersatu untuk menjalankan gagasan ekonomi bersama dalam great reset ini.

Great reset diperkenalkan Pangeran Charles, ahli waris tahta Inggris dan Klaus Schwab, ekonom sekaligus pendiri World Economic Forum (WEF) dalam pertemuan virtual WEF pada Juni 2020.

Pangeran Charles mengemukakan tujuan great reset berangkat dari refleksi bahwa pandemi adalah peluang untuk mengatur ulang ekonomi global dan memprioritaskan pembangunan berkelanjutan.

Pangeran Charles
Pangeran Charles. (Foto: princeofwales.gov.uk)

Menurutnya, pandemi merupakan konsekuensi dari rusaknya hubungan antara manusia dan alam. Krisis ini dapat diperbaiki bila manusia mengakui saling ketergantungannya dengan semua makhluk hidup (the interdependence of all living things)

Sektor swasta, urainya, akan menjadi mesin pemulihan. Di sisi lain, para pebisnis mesti rendah hati mengakui kerusakan lingkungan sekarang terjadi akibat percepatan pertumbuhan yang tanpa batas.

Secara garis besar, ini lima poin great reset yang diuraikan Pangeran Charles:

  1. Menangkap imajinasi dan keinginan umat manusia-perubahan hanya akan terjadi jika orang benar-benar menginginkannya
  2. Pemulihan ekonomi harus menempatkan dunia pada jalan menuju penciptaan lapangan kerja, mata pencaharian, dan pertumbuhan yang berkelanjutan
  3. Sistem harus didesain ulang untuk memajukan transisi net zero secara global. Harga karbon dapat menjadi upaya penting menuju pasar yang berkelanjutan
  4. Ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi perlu diperkuat
  5. Investasi harus diseimbangkan kembali. Mempercepat investasi hijau dapat menawarkan peluang kerja di bidang energi hijau, bio-ekonomi, ekowisata dan infrastruktur hijau.

Sementara, Klaus Schwab mengerucutkan great reset ke dalam tiga bagian utama:

  1. Mengarahkan pasar kepada hasil yang lebih adil
  2. Memastikan bahwa investasi memajukan tujuan bersama, seperti kesetaraan dan keberlanjutan
  3. Memanfaatkan inovasi dari Revolusi Industri Keempat untuk mendukung kemaslahatan publik, terutama dalam menangani tantangan di sektor kesehatan dan sosial.

Kesenjangan yang besar

Harus diakui bahwa pandemi Covid-19 telah memperdalam kesenjangan dan ketidaksetaraan masyarakat di tiap negara. Karena itu, Schwab berpandangan bahwa tindakan penanganan yang bersifat jangka pendek tidak akan berdampak di masa mendatang.

Pelajaran lain dari pandemi adalah perubahan radikal gaya hidup manusia dan perusahaan. Kerja dari rumah, misalnya. Perusahaan juga melakukan penyesuaian seperti rapat virtual yang membatasi perjalanan udara.

“Kita harus membangun fondasi yang sama sekali baru untuk sistem ekonomi dan sosial kita,” kata Schwab. Inilah mengapa great reset hadir ke muka bumi.

Ia meneruskan bahwa pandemi merupakan momentum untuk merefleksikan, menata, dan mengatur ulang dunia untuk menciptakan masa depan yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Mengatur ulang kapitalisme

Apa yang dikemukakan Pangeran Charles dan Schwab tentang great reset setidaknya dapat menjadi pandangan baru untuk melihat dunia di masa-masa mendatang.

Namun, John Mauldin, ekonom sekaligus kolomnis Forbes, memandangnya secara berlainan. Dalam tulisannya, Mauldin menyebut great reset merupakan klimaks untuk menyelesaikan kelebihan beban utang global dunia. Ini berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, pengangguran tinggi, dan keresahan sosial akibat krisis pandemi Covid-19.

“Di tengah semua masalah yang terjadi pada tahun 2020, sangat mudah mengabaikan masalah lama. Namun mereka masih ada dan seperti virus yang menyebar diam-diam, namun diam-diam bertambah buruk.”

“Salah satu masalah tersebut adalah utang, dan khususnya utang pemerintah (AS). Semua utang memiliki karakteristik yang sama: tagihan akan jatuh tempo. Jika peminjam tidak membayar, pemberi pinjaman akan kehilangan uang mereka atau mencari orang lain untuk membayar,” katanya.

Tingkat utang global memang sangat disoroti selama masa pandemi. Institute for International Finance (IIF), dikutip dari CNBC Indonesia, memperingatkan krisis virus corona mendorong tingkat utang global ke level tertinggi baru, lebih dari US$ 272 triliun (Rp 3.859 kuadriliun, asumsi Rp 14.190/US$), pada kuartal III-2020. Dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan mencapai US$ 277 triliun (Rp 3,930 kuadriliun) pada akhir tahun 2020.

Krisis di masa pandemi menggambarkan kegagalan kapitalisme dunia. Paus Fransiskus dalam ensikliknya mengkritik bahwa kerapuhan sistem dunia dalam menghadapi pandemi telah menunjukkan bahwa tidak semuanya dapat diselesaikan dengan kebebasan pasar.

Rasa aman yang mahal

Ulah-ulah neoliberalisme yang mengagungkan pasar bebas dan persaingan bebas ternyata tidak mampu menjawab masalah di masa krisis sekarang.

Schwab juga mengamini hal demikian. Kapitalisme harus direset besar-besaran.

“Kemajuan teknologi sering kali mengambil tempat dalam ekonomi yang dimonopoli dan cenderung digunakan untuk memprioritaskan keuntungan satu perusahaan ketimbang kemajuan masyarakat,” tulisnya dikutip dari Time diunggah 22 Oktober 2020.

Hal ini secara sederhana dapat dilihat semasa awal pandemi menyerang dunia. Perusahaan-perusahaan digital tumbuh sangat cepat secara tidak terduga.

Tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah rasa aman menjadi sangat mahal.

Ketika pengumuman di awal-awal pandemi menganjurkan pemakaian masker dapat mencegah penularan virus, permintaannya meningkat tajam. Orang-orang berbondong-bondong ingin memilikinya secara bebas sehingga sempat menyebabkan kelangkaan APD bagi tenaga medis.

Keadaan ini akan bisa menimbulkan polemik untuk pelaksanaan vaksinasi. Gelagatnya mulai terlihat. Kompas.com melaporkan sejumlah rumah sakit swasta mengeluarkan pengumuman pelayanan vaksinasi Covid-19 secara mandiri kepada masyarakat.

Ada RSU Bunda Jakarta dan RS Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengumumkan di Instagram. Akun Instagram RS UII memaparkan cara pemesanan vaksin Covid-19 melalui nomor WA dengan estimasi kedatangan vaksin antara satu hingga dua bulan.

Meski pemerintah menyediakan skema mandiri, tetapi pengumuman vaksinasi yang terlalu cepat menjadi spekulasi karena saat ini belum ada keterangan resmi soal distribusi dan waktu pelaksanaannya.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Wiku Adiasmito menegaskan belum ada jatah pemberian vaksin terhadap RS swasta dan meminta semua fasilitas kesehatan mengikuti kebijakan pemerintah.

Kritis akan masa depan

Mauldin sepakat bahwa kapitalisme telah keluar jalur sehingga membutuhkan beberapa penyesuaian. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar.

Tetapi, Mauldin mencurigai great reset mungkin bisa melangkah jauh dari harapan semula. Persoalannya ada pada keberadaan kaum-kaum elit yang kaya dan berkuasa.

Ia mengatakan mereka berusaha menyelamatkan hati nurani mereka dengan “upaya palsu untuk membantu rakyat” dan dalam prosesnya membuat diri mereka lebih kaya dan lebih berkuasa.

“Masalah sebenarnya secara lebih sederhana adalah kita memiliki terlalu banyak ‘elit’. Sejarah menunjukkan ini jarang berakhir dengan baik,” katanya. Ia mengutip penggalan wawancara The Atlantic bersama Peter Turchin, Profesor Universitas Connecticut tentang sejarah manusia.

Para elit di Amerika Serikat mencoba tumbuh di kekuasaan secara biologis layaknya kekuasaan pangeran di Arab Saudi. Elit ini akhirnya memproduksi diri secara berlebihan melalui jalur ekonomi dan pendidikan tinggi.

“Ini tidak buruk dengan sendirinya. Bukankah kita ingin semua orang kaya dan berpendidikan? Tetapi masalahnya dimulai ketika uang dan gelar Harvard menjadi seperti gelar kerajaan di Arab Saudi,” kata Profesor Turchin.

Masalah berkembang yang menimbulkan kecurigaan antara orang yang ‘memiliki’ dan ‘tidak memiliki’ hal-hal elitis seperti itu.

Baca juga: Riuh Suporter Bola Menandai Momen Bersejarah Inggris Keluar dari Pandemi Covid-19

Di Amerika Serikat, gagasan great reset menjadi topik pembicaraan luas sejak sebulan terakhir. Mereka meyakini bahwa great reset merupakan gaya baru menuju tatanan dunia baru. Khayalan menjadi liar tidak menentu dengan kerangka berpikir konspirasi bahwa komplotan pemimpin global rahasia bermain di balik kehadiran great reset ini.

Setelah membuat ekonomi terpukul, rakyat pun memohon untuk segera mendapatkan vaksin. Kebanyakan dari mereka yang berpandang skeptis terhadap great reset adalah kaum konservatif.

Mereka adalah orang yang mengelukan Donald Trump telah mengambil kebijakan untuk melawan ini semua. Mereka juga orang yang percaya bahwa perubahan iklim bukan berasal dari ulah manusia.

Jajak pendapat AP-NORC yang diunggah 10 Desember 2020 memperlihatkan hanya 47 persen orang dewasa AS mau disuntik vaksin Covid-19, sementara syarat untuk mencapai herd immunity setidaknya mencapai 70 persen populasi. Ini yang membuat Amerika Serikat mempunyai tugas besar dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19.

BBC pun sampai mengonfirmasi teori konspirasi yang terlanjur viral tersebut dengan memberikan label disinformasi. Tetapi menjadi pendalaman serius, bagaimana mungkin mempercayakan program pengentasan kemiskinan kepada para kapitalis dunia.

Poin positif dari ini semua adalah semangat kolaborasi. Sebagai contoh, pengembangan vaksin antara AstraZeneca dengan Universitas Oxford. Di Indonesia, ada kerjasama Bio Farma dan Sinovac. Dan seperti kata Pangeran Charles untuk mewujudkan ini semua, harus benar-benar ada keingingan.

Baca juga: Pembelaan Kim Kardashian dan Aktivis terhadap Brandon Bernard sebelum Dieksekusi Mati