Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Jabodetabek menggelar mogok produksi menyusul kenaikan harga kedelai. Ada kekhawatiran bagi para pengrajin jika kenaikan harga kedelai berlangsung lama akan membuat mereka terancam gulung tikar, 3 Januari 2021.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto dalam pernyataan pers, 31 Desember 2020, mengatakan berdasarkan koordinasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000 per kg pada November 2020 menjadi Rp9.300-9.500 per kg pada Desember 2020.

Ketua Umum Sahabat Pengrajin Tempe Pekalongan (SPTP) Indonesia, Haryanto, mengatakan kenaikan harga kacang kedelai impor semula dari Rp 7.000, menjadi Rp 9.500 per kg, laporan Republika.

Haryanto berharap pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai untuk membantu para pengrajin dalam memproduksi tahu dan tempe.

 

Mengapa harga kedelai menjadi mahal?

Salah satu alasan penyebab kenaikan harga kedelai dari akhir tahun 2020 sampai awal tahun 2021 ini adalah tindakan China yang mengimpor banyak kedelai dari Amerika Serikat.

Suhanto mengatakan, permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat pada Desember 2020 meningkat 2 kali lipat dari biasanya 15 juta ton menjadi 30 juta ton.

Lonjakan itu menyebabkan hambatan pengangkutan kontainer di pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah. Imbasnya berdampak terhadap pasokan kedelai untuk diimpor ke Indonesia.

Suhanto mengatakan, pihaknya tengah mengantisipasi keterbatasan stok kedelai di dalam negeri sampai beberapa bulan mendatang. Pertimbangannya, kondisi harga kedelai dunia dan pengapalan yang terbatas.

Baca juga: 3 Penemuan Mutakhir di Bidang Kesehatan yang Mengandalkan Teknologi

Pada Desember 2020 harga kedelai dunia tercatat sebesar USD 12,95/bushels, naik 9 persen dari November seharga USD 11,92/bushels.

Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar 461 USD/ton, naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 435 USD/ton.

Akibat kelangkaan itu, harga kedelai di tingkat importir secara psikologis diperkirakan mengalami kenaikan sampai beberapa bulan mendatang.

Akan tetapi, kenaikan harga kedelai bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Sebelumnya, penyebab kenaikan harga itu dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah dan kekeringan yang melanda di Amerika Serikat sehingga menggangu produksi kedelai di sana.

Tempe
Tempe. Gambar oleh Dian A. Yudianto dari Pixabay

Alasan Indonesia harus impor kedelai

Indonesia harus mengimpor kedelai untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,8 juta ton per tahun. Kedelai ini adalah bahan baku untuk pembuatan tahu, tempe, kecap dan sebagainya.

Kebanyakan kedelai tersebut digunakan untuk pembuatan tahu dan tempe. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang semester-I 2020, impor kedelai Indonesia mencapai 1,27 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 1,14 juta ton berasal dari Amerika Serikat.

Selain Amerika, Indonesia mengimpor juga dari Argentina, Kanada dan Malaysia.

Baca juga: Perlunya Mengontrol Ketat Warganet yang Denial Sebelum Menyesali Sejuta Kasus Covid-19 di Indonesia

Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB Made Astawan memperkirakan, rata-rata impor kedelai Indonesia mencapai 2 juta-2,5 juta ton per tahun, laporan Kompas.com.

Sekitar 70 persen kedelai impor tersebut dialokasikan untuk produksi tempe, 25 persen untuk produksi tahu, dan sisanya untuk produk lain.

Sedangkan produksi kedelai yang dihasilkan dari dalam negeri pada tahun 2020 diperkirakan 320.000 ton. Pada tahun 2021, berdasarkan nota keuangan tahun anggaran 2021, produksi kedelai nasional ditargetkan mencapai 420.000 ton.

Jadi, tidak mengherankan jika pengrajin tahu dan tempe sangat bergantung sekali terhadap pasokan kedelai, terutama kedelai impor.

Kendala Produksi dalam negeri

Sebenarnya, Indonesia merupakan negara produsen kedelai, namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan nasional. Produksi dalam negeri hanya mampu memproduksi kurang dari 15 persen kebutuhan kedelai nasional per tahun.

Naufal Nur Mahdi dan Suharno adalah dua peneliti yang mengalisa faktor-faktor yang mempengaruhi impor kedelai di Indonesia.

Dalam artikel yang diterbitkan dalam jurnal Forum Agribisnis, 2019, mereka menyebutkan produksi kedelai dalam negeri cenderung meningkat namun relatif kecil dari periode 2002 hingga 2017, mengutip data Kementerian Pertanian.

“Hal tersebut dikarenakan kurangnya minat petani dalam mengusahakan komoditi ini sehingga berimplikasi pada luasan areal panen kedelai yang mengalami penurunan setiap tahunnya mulai tahun 2002 hingga 2017,” tulis penelitian itu.

Sebagai contoh, tahun 2002 produksi kedelai Indonesia sebesar 0,673 juta ton, namun menurun menjadi 0,671 juta ton pada tahun 2003. Penurunan produksi kedelai terjadi lagi pada tahun 2007 sebesar 0,15 juta ton karena penurunan luas areal panen kedelai sebesar 0,12 juta ha.

Perkembangan teknologi budidaya kedelai mendorong peningkatan produktivitas kedelai menjadi 1.569 kg per ha. Alhasil, pada 2014-2015, petani Indonesia mapu menaikkan jumlah produksi kedelai menjadi 0,96 juta ton.

Baca juga: Mengapa Tahun 2021 adalah Tahun Optimis? Berikut Penjelasannya

Namun, pada tahun 2017, produksi kedelai menurun tajam menjadi 0,54 juta ton akibat dampak konversi lahan pertanian kedelai ke sektor pertanian lain yang lebih menguntungkan.

Naufal Nur Mahdi dan Suharno mengasumsikan, kenaikan produksi kedelai domestik sebesar 1 persen dapat menurunkan volume impor kedelai Indonesia sebesar 0.55 persen.

Berkurangnya jumlah petani kedelai karena pindah ke tanaman lain, menurut Made, merupakan hal rasional karena beras dan jagung memiliki harga kompetitif. Ini bisa diatasi bila ada intervensi khusus dari pemerintah.

Selain itu, Made mengatakan perlunya industri perbenihan yang kuat agar kualitas kedelai dalam negeri dapat bersaing dengan kedelai impor.

Untuk diketahui, Presiden Jokowi dalam periode pertama pemerintahannya, sempat menargetkan Indonesia swasembada kedelai pada 2014 silam. Namun, Indonesia sampai sekarang belum pernah mencapai target tersebut.

Baca juga: Coba Ikuti Gaya Hidup Ini untuk Mantapkan Resolusi Tahun Baru 2021