Pandemi Covid-19 yang berlangsung selama enam bulan terakhir telah mengubah kebiasaan para pengusaha hingga pekerja dalam mengelola perusahaan.

Salah satunya penyesuaian tempat bekerja. Karyawan sekarang lebih banyak menyelesaikan tugas kantor di rumah atau lazim disebut work from home (WFH). Rapat atau pertemuan rutin berlangsung lewat aplikasi Zoom atau Google Meet.

Perubahan kebiasaan bekerja ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga di banyak negara yang dihantam pandemi Covid-19.

Microsoft dalam artikel yang tayang di website mereka mengatakan situasi saat ini sebagai “hybrid economy”. Artinya, beberapa orang tetap bekerja di kantor, sedangkan yang lainnya bekerja di rumah untuk sementara waktu.

Akan tetapi, dengan adanya resesi di berbagai negara, digitalisasi ekonomi menjadi keperluan utama. Dalam masa resesi, perusahaan-perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan digitalisasi. Proses tranformasi digital ini pun diprediksi akan terus meningkat.

Dunia usaha telah bertransformasi ke digitalisasi. Sektor ketenagakerjaan pun perlu menyesuaikan. Ini menjadi peluang besar kepada tenaga kerja yang mempunyai skills digitalisasi.

Microsoft menjelaskan, skills digitalisasi sebenarnya sudah dibutuhkan sebelum masa pandemi di mana masyarakat dunia memasuki era digitalisasi Revolusi Industri 4.0.

Dalam masa pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19 saat ini, Microsoft memperkirakan ada peningkatan tajam pada pekerjaan baru yang menyerap tenaga kerja berorientasi teknologi. Jumlahnya mencapai 149 juta pekerjaan baru hingga 2025 mendatang.

Dengan kata lain, dunia ketenagakerjaan harus menyesuaikan perubahan besar akibat pandemi ini. Ada tuntutan kepada pekerja untuk meningkatkan keterampilan (skill) digitalisasi mereka.

Menyadari pentingnya digitalisasi ini, Microsoft pun memberikan pelatihan gratis selama masa karantina kepada pekerja PHK agar mereka dapat mempunyai skill digitalisasi.

Tetapi yang menjadi pertanyaan, keterampilan digital apa saja yang dibutuhkan oleh dunia usaha?

Untuk mendapat jawaban tersebut, Microsoft bekerja sama dengan LinkedIn dalam memetakan trend skill digital yang dibutuhkan perusahaan selama beberapa tahun terakhir.

LinkedIn dalam analisanya menghimpun data global berupa daftar 690 juta pekerja profesional, 50 juta perusahaan, 11 juta daftar pekerjaan, 36 ribu skills dan 90 ribu pendidikan.

Dari data tersebut, LinkedIn telah mengidentifikasi 10 pekerjaan berdasarkan kriteria lowongan kerja paling besar, pertumbuhan stabil selama empat tahun terakhir, upah layak dan kebutuhan skill yang dapat dipelajari secara online. Tipe pekerjaan inilah yang diprediksi akan sangat dibutuhkan pada masa mendatang.

10 pekerjaan tersebut adalah:

1. Software developer
2. Sales representative
3. Project manager
4. IT Administrator
5. Customer service specialist
6. Digital marketer
7. IT support/help desk
8. Data analyst
9. Financial analyst
10.  Graphic designer

Untuk dapat meningkatkan skills seperti daftar di atas, kamu dapat mengecek YouTube untuk menemukan video pembelajaran. Microsoft pun telah menyediakan tutorial gratis.

Lebih rinci lagi, Microsoft memberikan jenis pekerjaan yang dibutuhkan dalam ekonomi digital. Dari sekitar 149 juta pekerjaan baru pada 2025 mendatang, kapasitas pekerjaan yang paling besar adalah:

1. Software development (98 juta pekerjaan)
2. Cloud and data roles (23 juta pekerjaan)
3.  Data analysis, machine learning and AI (20 juta pekerjaan)
4.  Cyber security (6 juta pekerjaan)
5.  Privacy and trust (1 juta pekerjaan)

Peluang tenaga kerja digitalisasi
Peluang tenaga kerja digitalisasi global hingga 2025. (Sumber: Microsoft)

Masih ada lagi. Dengan pendekatan berbeda dari kacamata dunia, McKinsey menyebutkan ada tiga trend yang berubah selama masa pandemi. Mereka menyebutnya sebagai “distancy economy“.

McKinsey menyebut bahwa tantangan terhadap keterampilan pekerja saat ini adalah kemampuan digital dan kognitif secara kritis, keterampilan sosial dan emosional, dan kemampuan beradaptasi dan ketahanan pekerja menghadapi masalah.

Reskilling
Reskilling selama pandemi. (Sumber: McKinsey)

Kemampuan-kemampuan seperti yang disebutkan tadi tampaknya akan menjadi strategi perusahaan dalam merekrut pekerja baru. Karena itu, pekerja perlu melakukan reskilling terhadap isu-isu tersebut.

Lebih lengkapnya, McKinsey memberi contoh berikut ini.

Pertama, model healthcare di Inggris berubah drastis selama masa pandemi Corona. Pada 2019, hanya ada 1% janji temu awal pasien-dokter melalui link video.

Sekarang dokter telah melakukan 100% konsultasi awal bersama pasien lewat sambungan telepon dan hanya sekitar 7% yang lanjut pada konsultasi tatap muka.

Menurut McKinsey, perubahan tersebut menunjukkan bahwa dokter harus belajar bagaimana melakukan diagnosis jarak jauh yang efektif dan aman. Hal ini bisa diterapkan untuk menutup rasio kesenjangan layanan perawatan di Indonesia yang memiliki rasio 4 dokter per 10.000 orang.

Kedua adalah kepekaan atau empati. Dalam hal ini, reskilling tentang empati cocok ditingkatkan pekerja di sektor perbankan.

Menurut McKinsey, dengan meningkatkannya permintaan konsumen pada layanan perbankan seperti pembiayaan, bank harus melatih karyawan mereka untuk bisa lebih empati saat mereka membantu klien yang kesulitan memakai layanan digital, produk dan layanan baru perbankan.

Ketiga, masa pandemi telah mempercepat trend digitalisasi ketimbang penjualan fisik. Di China, orang-orang berusia 36 tahun ke atas dan penduduk kota kecil telah menjadi pelanggan baru marketplace. Jumlah mereka meningkat tajam selama krisis.

Situasi semacam ini akan ditangkap oleh pengelola marketplace untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada konsumen digital, sehingga kebutuhan akan talent pengembangan marketplace akan meningkat tajam.

Itulah skills baru yang bisa kamu kembangkan selama masa pandemi Corona. Semoga berhasil.