Selama menjelang akhir tahun 2016, kita disuguhkan fenomena intoleransi yang terjadi di Indonesia. Seperti kasus penghinaan terhadap pahlawan di uang baru Indonesia, spanduk radikalisme di salah satu daerah, bahkan kasus Ahok yang dianggap menista salah satu agama terbesar di Indonesia. Sampai-sampai kicauan-kicauan provokatif di media sosial. Padahal kalo kita flashback mundur di era kemerdekaan, para pendiri Indonesia selalu mengedepankan semangat toleransi. Seperti pidato yang dibacakan oleh Ir Soekarno Presiden Pertama Republik Indonesia.

“Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka… Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua”. – Ir. Soekarno –

Baca juga : Ahok dan Kebhinekaan

Fenomena intoleransi ini menjadi perang kita sebagai negara dan bangsa yang besar. Kaum muda di Indonesia harus menjadi pelopor toleransi di Indonesia bukan malah menjadi perusak bangsa ini. Jika kita lihat lebih seksama, ‘malah’ paham-paham radikalisme yang ada di Indonesia dilakukan oleh beberapa pemuda-pemudi Indonesia yang mengatasnamakan salah satu agama atau paham radikalisme.

Berbeda pendapat boleh saja, tetapi jika sudah melewati batas alias ‘keblinger’ sudah tidak dapat diterima. Pemuda-pemudi Indonesia harus terus meneruskan perjuangan para pendiri bangsa dengan selalu mengedapankan semangat toleransi, tenggang rasa, persatuan, yang semua dikemas dengan semangat GOTONG ROYONG bukan malah MERUSAK ! Ayo para pemuda-pemudi Indonesia sadar bahwa bangsa kita ada yang mencoba merusak tatanan sosial politik kita.

Baca juga : Menggali Keakraban dari Kakunya Identitas Part I

Jauh dilubuk hati paling dalam, saya miris melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kaum pemuda-pemudi bukan menjadi ‘agent of change’ untuk memajukan bangsa ini melainkan merusaknya. Fenomena intoleransi tidak dapat dibenarkan oleh dalih apa pun. Perdamaian harus selalu didepankan bukan diperdebatkan. LIPI saja sebagai lembaga penelitian yang ada di Indonesia menyebutkan bahwa paham radikal meningkat di kalangan muda setelah reformasi. Padahal, semangat reformasi yang dulu disuarakan oleh para pemuda-pemudi dulu adalah untuk mengkritik guna memajukan bangsa ini baik secara aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Kebhinekaan Indonesia sedang berada pada kondisi darurat atau memprihatinkan. Jangan sampai perbedaan pendapat malah menjadi ‘bumerang’ bagi kita sendiri sehingga melupakan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi kebersamaan. Tak perlu juga aparat berlaku represif jika ada beberapa masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat. Dengan cara persuasif, aparat akan makin dicintai dan disegani oleh masyarakat. Termasuk masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat. Tidak perlu dengan cara paksaan untuk dapat memenangkan pendapatnya.

Baca juga : Menggali Keakraban dari Kakunya Identitas Part II