Plt Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha mengajukan diri sebagai calon Presiden RI 2024-2029. Pengumuman ini memunculkan banyak tanggapan dari pelbagai kalangan, termasuk penulis artikel ini.

Produser dan Komika Ernest Prakasa menganggap pencalonan Giring untuk Pilpres 2024 hanya Gimmick karena rekam jejak Giring sebagai politisi belum terukur jelas.

Ernest bahkan mengaku telah mengakhiri simpatinya kepada PSI yang lama didukungnya setelah mengetahui pengumuman Giring sebagai Capres 2024.

“Bagi saya, pencalonan Giring adalah gimmick yang kebablasan. Memajukan figur untuk menjadi capres hanya bermodalkan popularitas, bukan pengalaman politik yang jelas. PSI tidak menganggap pencapresan sebagai sesuatu yang serius, maka saya pun tidak lagi menganggap mereka serius,” cuit Ernest Prakasa di Twitter, Selasa, 25 Agustus 2020.

Rekam jejak Giring sebagai kepala daerah memang tidak ada. Dia justru lebih dikenal sebagai vokalis band Nidji yang sudah ditinggalkannya pada 2017 lalu demi masuk panggung politik.

Tetapi bila merujuk pada Pileg 2019, pertimbangannya akan berbeda. Dia pernah bertarung di arena politik dengan maju sebagai calon anggota DPR RI mewakili Dapil Jabar 1.

Giring PSI
Plt Ketum PSI Giring Ganesha. (Foto: Instagram/Giring)

Dia berhasil mengumpulkan 47.069 suara. Meski demikian, ia gagal melanggeng ke Senayan setelah PSI hanya memperoleh 1,74% suara nasional atau di bawah 4% ambang batas parlemen.

Lain di luar, lain pula tanggapan di dalam. Mari kita intip dapur PSI.

Dalam laporan Tempo.co, Selasa (25/8/2020), Juru Bicara PSI Dara Nasution mengatakan PSI secara internal sudah solid mendukung Nidji.

Dara mengklaim Giring mempunyai kompetensi dan integritas sebagai politisi, dan juga mewakili wajah anak muda yang kreatif.

Meski pengumuman Giring cukup mengejutkan, akan tetapi tanda-tanda itu sudah muncul di media sosial.

Beberapa hari sebelum pengumuman Capres 2024-2029, papan baliho bergambarkan Giring Nidji sebagai Calon Presiden 2024 sempat viral di media sosial. Lokasinya sejauh yang terpantau tersebar di Solo dan Padang.

Terlepas dari Nidji, isu soal Pilpres 2024 belakangan ini cukup ramai dibicarakan, padahal belum genap setahun usia pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin sejak dilantik pada Oktober 2019 lalu.

Beberapa nama kepala daerah sering dibicarakan akan maju pada Pilpres 2024.

Mereka adalah Prabowo Subianto, Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, AHY, Ridwan Kamil, dan sederet nama lainnya.

Lembaga Survey Indometer bahkan pada Juli lalu sudah merilis survey elektabilitas 20 nama capres. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menempati posisi teratas, diikuti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan Anies Baswedan di posisi keempat.

Tidak seperti Giring, baik Prabowo maupun nama lainnya yang disebut dalam rilis survey, mereka belum mengumumkan resmi pencalonan di Pilpres 2024.

Ini bisa dimaklumi, sebab mereka saat ini sedang sibuk mengurusi jabatan masing-masing. Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat, dan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Mereka tentu saja harus menuntaskan tanggungjawab dari amanat yang diberikan kepada mereka. Dan yang pasti, mereka harus berpikir keras untuk menuntaskan masalah pandemi Corona di daerah kekuasaan masing-masing.

Barangkali banyak pihak bertanya, mengapa pembahasan Capres 2024 dilakukan sekarang? Apakah tidak terlalu cepat mengingat rentang waktu ke sana masih 4 tahun lagi?

Berkaitan dengan ini, Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun dalam video YouTube-nya pada bulan Juli 2020 mengatakan, pembahasan mengenai Capres 2024 perlu dilakukan agar masyarakat bisa menilai calon pemimpin mereka sejak lama.

Indikator yang dilihat umumnya adalah elektabilitas seseorang. Namun, elektabilitas nama capres bisa berubah seiring perjalanan waktu karena ada variabel-variabel lain yang harus diperhitungkan.

Di sisi lain, Prabowo kemungkinan akan berpikir lebih matang, tidak terburu-buru, untuk mengajukan diri lagi di Pilpres 2024. Sementara Ganjar masih harus menunggu keputusan PDI-P, partainya bernaung.

Intinya, keputusan Capres 2024 selalu dinamis tergantung keputusan pemangku partai dan loby yang ada.

Misalnya, soal pemilihan KH Ma’ruf Amin sebagai pendamping Pakde Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Padahal, nama KH Ma’ruf Amin saat itu tidak terlalu banyak dijagokan.

Yang paling diingat saat penentuan kandidat Cawapres Jokowi adalah Ketum PKB Muhaimin Iskandar. Ia sampai membuat baliho besar di beberapa kota mengklaim dirinya sebagai Cawapres Jokowi. Tetapi akhirnya, kehendak manusia justru berkata lain, yang maju sebagai Cawapres Jokowi adalah KH Ma’ruf Amin.

Boleh dikatakan, kehadiran Nidji lewat pengumuman capres 2024 akan mengubah strategi percaturan menuju Pilpres 2024.

Giring cukup beruntung dibanding kandidat lainnya karena saat ini dia mempunyai waktu luang untuk mengatur strategi bagi kemenangan dirinya. Sementara kandidat lain masih sibuk dengan tanggung jawab masing-masing.

Hal umum yang bisa dilakukan adalah menaikan elektabilitasnya atau menggaet koalisi dengan partai dan organisasi lain.

Hanya saja apakah strategi yang dimainkan masih juga sama seperti Pemilu sebelumnya, mengkritik program pemerintahan atau memberi gagasan baru untuk masyarakat Indonesia? Mari disimak bersama-sama.