Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik “rem darurat” dengan menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemberlakuan ini sesuai rencana akan mulai berlaku besok, Senin 14 September 2020.

Beragam tanggapan muncul, dari warga, pengusaha hingga Menteri dan Kepala Daerah tetangga sekaligus.

Ada pro dan kontra atas wacana sang Gubernur sejak diumumkan pada Rabu lalu. Pertimbangannya macam-macam, secara garis besar Anies diminta untuk membatalkan penerapan PSBB.

Menko Perekonomian Airlangga Hartato salah satu pejabat yang vokal menanggapi pengumuman itu. Menurutnya, jika Jakarta ingin PSBB, sebaiknya penerapannya diubah menjadi Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM). Tingkatan pembatasan itu cukup mengatur level Kecamatan hingga RT/RW sehingga alur logistik dan distribusi tidak terganggu.

Gubernur Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: jakarta.go.id)

Itu satu hal. Pengumuman kembalinya PSBB rupanya tidak saja menyebabkan kegeraman netizen, tetapi bisa mempengaruhi keputusan pelaku pasar.

Airlangga yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) mengatakan dunia perekonomian rentan dengan sentimen negatif. Akan terjadi ketidakpastian yang menimbulkan reaksi di pergerakan pasar modal. Sehari setelah pengumuman itu disampaikan, IHSG terperosok jatuh 5,01% ke posisi 4.891,915 pada Kamis (10/9/2020).

Orang terkaya di Indonesia Budi Hartono dalam petikan suratnya kepada Presiden Joko Widodo yang diposting pengusaha Peter Gontha di Instagram, menilai bahwa keputusan untuk memberlakukan PSBB kembali itu tidak tepat.

Mudah untuk dipahami. Dengan adanya PSBB, aktivitas perekonomian akan terbatas. Hotel, restoran dan sektor lain akan langsung terdampak. Jika Anda calon investor tentu Anda akan berpikir ulang untuk menanamkan modal ke sektor-sektor yang sudah dipastikan bakal merosot selama PSBB.

Dalam masa pandemi, kesehatan dan perekonomian bak dua sisi mata uang. Ada periuk yang harus diisi agar perut masyarakat terisi. Sedangkan, sebagian orang berpendapat masyarakat harus dijaga dari penularan Covid-19 yang semakin menanjak belakangan ini.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wali Kota Bogor Bima Arya turut angkat bicara sebagai tetangga Jakarta. Ridwan Kamil bahkan mengatakan pengumuman berlakunya kembali PSBB telah meludeskan uang di pasar saham sebesar Rp300 T!

Jumlah yang fantastis meski redaksi Kumparan menuliskan bahwa nilai kapitalisasi pasar IHSG, pada Kamis itu atau berkurang Rp 297 triliun dari hari sebelumnya Rp 5.979 triliun. Dalam arti lain, bahwa selama pandemi belum berakhir, pergerakan pasar saham berpotensi fluktuatif. Anies lagi-lagi kurang mendapat dukungan.

Tetapi, bagaimanapun juga, langkah Anies ini dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan angka Covid-19 di Jakarta yang telah mencapai 53 ribu kasus berdasarkan update terbaru situs corona.jakarta.go.id.

Dalam hal ini, keputusan Anies untuk menerapkan PSBB merupakan keputusan jitu dan cenderung populis. Semua orang atau setidak-tidaknya banyak orang sepakat bahwa kesehatan adalah faktor utama, baru kemudian ekonomi.

Terlepas dari perdebatan itu, pengumuman PSBB Jakarta menjadi pembuktian kekuatan siapa paling berpengaruh. Rencana PSBB yang sedianya diterapkan besok kemungkinan bisa batal setelah ramainya desakan kiri-kanan yang ujung-ujungnya dikaitkan pada Pilpres 2024. Anies dianggap sedang mencari panggung dengan rencana PSBB ini.

Karena itu, secara resmi, pengumuman ini akan disampaikan sore nanti pukul 16.00 WIB. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Kesehatan Terawan Putranto, dan Kepala BNPB Doni Monardo akan menyampaikannya dalam konferensi pers. Baik Terawan dan Doni Monardo memang bukan politisi dan tidak berkaitan langsung sebagai Capres di 2024. Pengumuman sore tampaknya akan lebih menentukan bagaimana pengaruh Anies Baswedan ke depan.

Apakah Jakarta resmi untuk menerapkan PSBB atau PSBM? Atau malah tidak ada pemberlakuan kembali PSBB sama sekali? Ini menarik untuk disimak.