Pengembangan vaksin Covid-19 semakin menujukkan hasil menggembirakan. Kali ini, AstraZeneca dan Universitas Oxford mengumumkan kandidat vaksin virus corona mereka memiliki kemanjuran rata-rata 70 persen dalam uji klinis fase tiga.

AstraZeneca dalam rilisnya menyebut analisis sementara uji klinis AZD1222 di Inggris dan Brasil diklaim telah meyakinkan vaksin buatan mereka efektif untuk mencegah Covid-19 yang telah menjangkiti banyak negara. Tidak ada perawatan atau penyakit serius yang dilaporkan peserta yang menerima vaksin.

“Satu dosing regimen (n=2.741) menunjukkan kemanjuran vaksin 90 persen ketika AZD1222 diberikan dalam setengah dosis, diikuti dengan dosis penuh setidaknya dalam satu bulan terpisah, dan dosing regimen lainnya (n=8.895) menunjukkan kemanjuran 62 persen bila diberikan sebagai dua dosis penuh setidaknya dalam satu bulan terpisah,” tulis AstraZeneca.

Baca juga: Snapchat Keluarkan Jurus Baru Lawan TikTok: Spotlight

Chief Investigator Oxford Vaccine Trial, Profesor Andrew Pollard, mengatakan, “Temuan ini memperlihatkan bahwa kita memiliki vaksin efektif yang akan menyelamatkan banyak nyawa.”

AstraZeneca juga merencanakan supaya rantai pasok vaksin dibuat sesederhana mungkin dan berkomitmen untuk memberikan akses yang luas dan adil. Dengan kata lain, vaksin akan terjangkau dan tersedia secara global dengan pasokan mencapai ratusan juta dosis.

Mereka juga sedang melakukan uji klinis di AS, Jepang, Rusia, Afrika Selatan, Kenya, dan Amerika Latin, lalu merencanakannya di negara-negara Eropa dan Asia lainnya sehingga diharapkan bisa mendapatkan 60.000 peserta secara global.

Baca juga: Hak-Hak Dasar Manusia yang Berpotensi Dilanggar Negara saat Pandemi COVID-19

virus corona
Ilustrasi virus corona. Gambar oleh PIRO4D dari Pixabay

Keunggulan vaksin AstraZeneca dapat disimpan dalam lemari pendingin normal (2-8 derajat Celcius) setidaknya selama enam bulan. Model penyimpanan ini dipuji pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. Soumya Swaminathan.

Menurutnya, dengan penyimpanan di pendingin biasa, ini akan menjadi keuntungan logistik besar untuk mengangkut dan mengirimkan vaksin ke kota hingga pedesaan di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, vaksin Pfizer perlu disimpan pada suhu sekitar minus 75 derajat Celcius.

Tetapi, ia mengingatkan masyarakat untuk bersabar karena baru diuji klinis di Inggris dan Brazil. “Saya pikir kita perlu menunggu untuk melihat hasilnya, baik kemanjuran maupun keamanannya,” kata Swaminathan sebagaimana dilaporkan Fox News, Rabu (25/11/2020)

Ia menekankan bahwa WHO terus mendorong semua pengembang lain yang melakukan uji klinis karena WHO memang membutuhkan bermacam vaksin yang bisa menargetkan kelompok berbeda dengan kondisi penyimpanan berbeda.

Dengan kata lain, keterjangkauan menjadi poin penting untuk diingat. Dan kandidat vaksin AstraZeneca bisa menjadi contoh untuk keunggulan ini.

Baca juga: Pilkada Serentak Hanya Menjadi Masalah Baru Bagi Penyebaran COVID-19 di Indonesia

Kabar baik lainnya datang Rusia. Kementerian Kesehatan Rusia, pusat penelitian Gamaleya, dan Badan Investasi Langsung Rusia (RDIF) mengklaim vaksin Sputnik V menujukkan hasil efektif sekitar 95 persen selama 42 hari setelah dosis pertama diberikan, analisis sementara data uji klinis. Pengumuman ini disampaikan pada Selasa, (24/11/2020).

Perhitungan tersebut didasarkan pada percobaan terhadap 18.794 relawan yang menerima dosis pertama dan kedua dari vaksin dan placebo.

Pengumuman Sputnik V mengikuti laporan Pfizer/BioNTech dan Moderna yang menunjukkan kemanjuran vaksin mereka sekitar 95 persen.

Rusia bahkan mengklaim dua dosis Sputnik V hanya berbiaya di bawah 20 Dollar AS yang menjadikannya sebagai vaksin Covid-19 termurah di pasaran. Tetapi temuan Rusia ini masih cukup diragukan oleh beberapa media.

Bagaimana di Indonesia?

Vaksin AstraZeneca kemungkinan kuat masuk dalam pilihan Indonesia karena kriterianya bisa memenuhi dalam pendistibusian.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjelaskan pemerintah memiliki pertimbangan memilih vaksin, salah satunya mampu didistribusikan dan disimpan di dalam suhu 2 sampai 8 derajat celcius.

“Vaksin yang akan dibeli pemerintah juga merupakan vaksin yang cold chain-nya atau distribusinya yang frendly dengan distribusi kita, (bisa disimpan dengan) 2-8 derajat celcius,” ujar Erick dalam webinar, Selasa (24/11/2020) dikutip dari Kompas.com. Alasan itu dipakainya untuk menghidari dugaan adanya permainan dalam pembelian vaksin.

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo (Foto: Twitter/jokowi)

Menurutnya, pendistribusian vaksin harus dilakukan sesegera mungkin. Sebelumnya juga, Erick Thohir dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan ke Inggris pernah melakukan lawatan kerja ke Inggris pada Oktober 2020. CNBC Indonesia melaporkan, dari kunjungan itu, Indonesia sudah mendapatkan komitmen vaksin AstraZeneca sebanyak 100 juta dosis.

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (19/10/2020) juga menjelaskan pasokan pertama vaksin AstraZeneca akan dikirim pada April 2021.

Baca juga: Hikmah Pandemi Covid-19, Ini Daftar Skills Kerja yang Bisa Dikembangkan di Rumah

Namun, pertimbangan selanjutnya adalah siapa yang akan diprioritaskan untuk menerima vaksin? Mengutip pernyataan Erick Thohir dalam webinar, pemerintah akan memutuskan besok mana wilayah prioritas vaksinasi virus corona.

Ia perlu merembukkannya besama Kepalda Daerah. “Apakah kami akan prioritaskan zona merah dulu yang jelas jelas tingkat kematian dan penularan tinggi, bisa saja kami prioritaskan zona merah dulu,” katanya dikutip dari CNN Indonesia.

Pemerintah, katanya, tetap memprioritaskan pemberian vaksin kepada penduduk usia 18-59 tahun. Mereka telah dipertimbangkan untuk menerima tahap awal vaksinasi yang diujicobakan dari Sinovac. Sebelumnya Indonesia telah menyepakati preliminary agreement (perjanjian awal) 40 juta dosis vaksin dari Sinovac Biotech China.