Sudah menjadi hal yang biasa bahwa netizen Indonesia menyukai hal yang saru, terutama apabila konten tersebut terkait dengan aktivitas public figure. Blunder atau kesalahan yang dilakukan public figure akan selalu berpotensi menjadi neraka baginya. Netizen siap menjadi polisi moral, yang meneror si ‘tersangka’ dengan segala untaian kata pedas hingga tidak bermoral.

Dalam kasus Zaki-Zara, dibanding memaklumi kecerobohannya atau melihatnya sebagai korban, netizen lebih tertarik untuk menyerangnya, membuatnya menjadi trending topik, dan memenuhi narasi di ruang publik dengan kecaman-kecaman saru dan misoginis. Di satu sisi mungkin Zara memang bersalah. Ia mengunggah sebuah konten “mesra” melalui akun instagram pribadinya dengan ratusan ribu follower yang siap melihat unggahannya tersebut. Siapa yang menduga, konten mesra tersebut mengundang sanksi sosial yang masif dan tanpa ampun.

Zaki-Zara, sumber: beautynesia.id

Saya tidak perlu membuktikan seberapa ganas netizen kita. Akan tetapi, kekhawatiran saya setelah membaca komen-komen tersebut adalah mengenai bagaimana kondisi kesehatan mental Zara saat ini. Isu kesehatan mental tersebut juga dikedepankan oleh ibu Zara, Sofia Yulinar. Dilansir dari tagar.id, Sofia meminta kepada semua pihak untuk berhenti melontarkan penghakiman sepihak demi menjaga kesehatan mental anaknya.

“Untuk saat ini tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan jiwa dan mental anakku. Stop judging, please. I’m with her, no matter what,” tulis Sofia Yulinar, dikutip dari akun IG @mrssaladin pada Kamis, 20 Agustus 2020.

Sumber: Story IG @mrssaladin

Pertanyaan lainnya dalam kasus ini adalah, mengapa konten tersebut pantas menjadi pemberitaan dan trending? Di manakah sesungguhnya letak kebermanfaatan konten tersebut? Media pun berkontribusi dalam hal ini, menabrak berbagai kode etik jurnalisme dan berusaha untuk mengedepankan nilai-nilai yang kontroversial sebagai daya tarik yang ditunggu netizen, terutama perihal masalah “grepe” dan moral etisnya sebagai public figure.

Selain permasalahan masalah mental, kejamnya netizen, hingga tidak bermoralnya media-media selebritas, kasus Zara Zaki juga menciptakan fenomena yang mungkin luput dari pikiran kita. Mayoritas netizen Indonesia hanya memposisikan Zara sebagai pelaku utama yang siap untuk “disantap”.

Dalam kasus saru, pihak perempuan selalu menjadi korban dan menjadi subjek penghakiman massa, sedangkan laki-laki bisa menghilang dalam keributan tersebut

Lalu apa yang terjadi dengan Zaki, pacarnya? Hingga saat ini, saya hanya menemukan sedikit narasi yang menyudutkan Zaki di media sosial. Hal tersebut juga terbukti di portal berita, narasi kasus dimainkan dengan mengedepankan nama Zara. Zaki yang juga merupakan aktor utama dalam kasus ini malah tertutupi oleh hal tersebut.

Walaupun terjadinya pelecehan seksual dalam kasus Zara dan Zaki bisa diperdebatkan, tetapi narasi penghakiman Zara telah mencerminkan bagaimana sesungguhnya pola pikir netizen Indonesia. Kasus ini menjadi bukti bahwa dalam kasus saru hingga pelecehan seksual, perempuan selalu menjadi korban penghakiman. Sementara aktor lain, bahkan pelaku utamanya yang kemungkinan besar adalah laki-laki, dapat leluasa bersembunyi di balik penghakiman tersebut.