Siapapun yang pernah berlibur ke Bali pasti memiliki kenangan dari pengalaman berinteraksi dengan alam, budaya, dan keramahan penduduk lokalnya. Bali juga mempunyai bagian lain yang tidak dapat ditemukan di banyak daerah lain, yaitu keberadaan turis asing.

Berjalan ke Ibukota Denpasar, misalnya, sekumpulan manusia berbagai ras dari berkulit coklat, putih, atau hitam tumpah ruah di sudut-sudut kota dan desa. Dalam masa tinggalnya, mereka menikmati suasana asri di Bali, berjemur di tepi pantai, atau melaksanakan aktivitas lain untuk membuang suntuk.

Menurut data Dinas Pariwisata Bali, sepanjang 2019, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai total 6.275.210 jiwa. Kedatangan turis mancanegara ini memang diharapkan dapat memberi kontribusi kepada penduduk lokal lewat aktivitas belanja selama berlibur di Bali.

Namun, kenyamanan dan keamanan kepada turis tersebut, di sisi lain, telah menimbulkan catatan memalukan yang meresahkan masyarakat setempat.

Umumnya, keresahan yang ditimbulkan para turis ini berkaitan dengan masalah narkoba. Polresta Denpasar setidaknya telah menangkap total 25 WNA sepanjang Januari-Oktober 2019 dalam kasus tersebut, laporan Merdeka.com.

Baca juga: Bagaimana Seharusnya Jurnalis Memberitakan Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182?

Kebanyakan mereka berasal dari Australia dan Rusia. Motifnya, mereka kehabisan uang sehingga mengambil jalan nekat dengan mengedarkan narkoba.

Jika dirunut, tentu catatan hukum para turis termuat cukup panjang di Bali. Namun, baru-baru ini, ada peristiwa teranyar yang menjadi perhatian luas khalayak Indonesia.

Sepasang turis asal Amerika Serikat membagikan pengalaman tinggal mereka selama di Bali melalui utasan di Twitter, 16 Januari 2021. Utasan tersebut beranjak viral setelah diretweet lebih dari 17 ribu akun.

Memang, berbagi pengalaman itu mulia. Masalahnya, warganet keberatan atas utasan tersebut yang menyertakan cara pindah ke Bali padahal sekarang pandemi Covid-19.

Begini ceritanya. Utasan tersebut ditulis oleh pelancong asing berinisial KG yang mengisahkan perjuangannya selama bermukim di Bali untuk meningkatkan gaya hidup dia dan pasangannya.

Akunnya sendiri sudah dikunci, namun beberap warganet yang sempat membacanya telah memotret layar cuitannya dan membagikannya kembali ke platform Twitter.

Dalam utasannya, terlihat bahwa KG mengatakan kepindahannya dari Amerika ke Bali pada usia 20-an merupakan game of changer. Mereka semula tinggal selama 6 bulan di Bali untuk mengumpulkan beberapa makanan dan memperbaiki gaya hidup mereka.

“Saya sebelumnya mengalami masa sulit, berjuang untuk mencari pekerjaan selama 2019 dan saya ingin mencoba kewirausahawaan,” tulis KG yang mengaku berasal dari Los Angeles, Amerika Serikat.

Baca juga: Kuliah Offline vs Online, Mana yang Lebih Baik?

Di negara asalnya, lamaran pekerjaannya telah beberapa kali ditolak. Ia pun memutuskan pindah ke Bali dan tanpa disangka, dia perlahan-lahan berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Usaha desain grafisnya mengalami kemajuan.

Dia pun membandingkan harga sewa apartemennya di Amerika seharga 1300 USD lebih tinggi daripada rumah “treehouse“-nya sekarang di Bali yang dihargai 400 USD.

Untuk memperindah utasannya, dia mengunggah foto pembanding apartemennya di Amerika Serikat pada 2019 dan Bali pada 2021. Bila dilihat, tampak pemandangan kontras apartemennya di Amerika yang biasa-biasa saja, jauh berbeda lebih baik dengan rumahnya di Bali.

Karena itu, dia mengagumi Bali yang disebutnya sebagai tempat penyembuhan yang sempurna. “Pada bulan Maret, ketika pandemi datang dan 6 bulan kami hampir habis, kami memutuskan untuk tinggal di Bali untuk ‘menunggu keluar’ dan sejak itu kami masih berada di sini,” katanya.

Pantai Uluwatu
Pantai uluwatu Bali. Gambar oleh Anna Palinska dari Pixabay

Dia menyertakan beberapa kelebihan berpindah ke Bali, di antaranya: aman, biaya hidup yang rendah, gaya hidup mewah, ramah kepada Queer (LGBT) dan Black community in Bali.

Pengalaman berbagi kisah KG ini kemudian menimbulkan perkara kepada warganet Indonesia. Salah satu pengguna Twitter @BetterWithBill menyampaikan aduannya kepada Dirjen Imigrasi karena khawatir postingan KG dapat memotivasi orang pindah ke Bali dalam masa pandemi. Kata kunci Bali dan Bule pun menempati posisi trending topic di Twitter.

Ajakan KG kepada orang untuk pindah ke Bali adalah tindakan yang sangat berisiko mengingat kasus Covid-19 di Indonesia masih tinggi.

Baca juga: Curhat Mahasiswa yang Harus Jalani Kuliah Online akibat Pandemi Covid-19

Data terakhir Covid-19 yang ditayangkan situs Informasi Corona Provinsi Bali, 18 Januari 2021, menyebutkan jumlah pertambahan harian kasus positif terkonfirmasi sebanyak 238 orang dengan jumlah kasus kumulatif positif sebanyak 21.682 orang.

Dari sekian ribu komentar, salah satu pengguna menyinggun perihal pajak yang mereka bayarkan. Tetapi, balasan pasangan KG ini cukup menohok dengan mengatakan, “Why would I have to pay taxes if I never made IRD? I pay American taxes for making USD (Mengapa saya harus membayar pajak jika saya tidak pernah menghasilkan IDR (Rupiah)? Saya membayar pajak Amerika untuk menghasilkan USD (Dollar AS)”.

Rasa penasaran tidak berhenti di sana. Pengguna lain menelusuri pelbagai akun media sosial KG dan pasangannya dari Instagaram hingga YouTube.

Semakin dicari, semakin terkuak bagaimana tindakan KG selama bermukim di Bali. Di Instagram, KG diketahui menjual e-book yang berisi pengalaman dan menawarkan agen visa untuk memudahkan orang luar pindah ke Bali selama pandemi Covid-19.

Fenomena ini telah mendapat perhatian banyak orang yang menimbulkan perdebatan di Twitter. Meski mendapat banyak komentar dari warganet, KG juga mendapat pembelaan dari warganet lainnya.

Sayangnya, beberapa pembelanya justru menggeser isu menjadi lebar tidak menentu dengan masalah rasial mengingat KG adalah warga Amerika-Afrika. Orang Indonesia dianggap bertindak diskriminasi, meski tudingan ini tidak berdasar sama sekali.

Dokter Shela yang merupakan influencer Twitter turut menanggapi percakapan ini dengan mengatakan, “Bule merasa ‘tertindas’ di negaranya pergi ke negara lain mencoba hidup di sana dengan aturan mereka sendiri lalu mendapat banyak privilege karena status pendatangnya. Lalu mengundang orang-orang bule lain untuk mengikuti mereka dan melakukan hal yang sama, sungguh mirip cerita awal kolonialisasi.

Pengguna lain mendefinisikannya tindakan KG tersebut sebagai bentuk gentrifikasi. Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, gentrifikasi diartikan sebagai, “Imigrasi penduduk kelas ekonomi menengah ke wilayah kota yang buruk keadaannya atau yang baru saja diperbaharui dan dipermodern“.

Setelah menjadi perbincangan banyak orang, kantor Imigrasi pun bergerak cepat untuk menelusuri keberadaan KG dan pasangannya. Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Hukum dan HAM Bali, Eko Budianto, mengaku tim kantor imigrasi telah menemui KG ke alamatnya di Nusa Dua, namun tidak ketemu karena sudah tidak tinggal di sana sejak dua bulan lalu, laporan SINDONews, 18 Januari 2021.

Berdasarkan data perlintasan, Gray diketahui masuk ke Bali pada 21 Januari 2020 secara legal melalui Bandara Ngurah Rai. Pencariaan KG berlanjut ke Ubud yang sampai saat ini terus dilakukan.

Baca juga: Curhat Mahasiswa yang Harus Jalani Kuliah Online akibat Pandemi Covid-19