Amerika dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan wajah suram bagi keberagaman setelah mencuatnya sejumlah kasus kekerasan dan pelecehan terhadap warga keturunan Asia.

Kejahatan rasial ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Seharusnya, kondisi saat ini menjadi momentum berjuang bersama keluar dari krisis. Akan tetapi, tekanan pandemi Covid-19 justru mengarahkan pikiran menyalahkan orang-orang keturunan Asia sebagai biang keladi kemunculan pandemi.

BBC dalam laporannya 2 April 2021 merangkum sejumlah bentuk kejahatan yang menyasar warga Asia-Amerika yang terjadi di sejumlah kota. Yang paling mengerikan adalah penembakan terhadap wanita di Atlanta.

Kasus lainnya yang dihubungkan akibat motif rasial antara lain, seorang imigran Thailand berusia 84 tahun di San Francisco, California, meninggal pada Maret lalu setelah seseorang mendorongnya secara kasar. Di New York, orang tak dikenal dilaporkan menampar wajah penumpang Filipina-Amerika.

Baca juga: Daftar Universitas Terbaik di Website dan Media Sosial, Ada Kampus Kamu?

Kejadian ini membuat pegawai restoran Asia-Amerika merasa waspada dan selalu memilih pulang lebih awal.

Munculnya pandemi Covid-19 yang kali pertama muncul akibat kasus pada 2019 telah diwaspadai akan menimbulkan kejahatan rasial. FBI telah memberi peringatan pada awal pandemi di AS.

Demikian PBB telah memberi sinyal pada akhir tahun lalu bahwa kekerasan bermotif rasial terhadap orang Asia-Amerika telah mengalami peningkatan.

Jika diukur secara angka, sulit untuk menentukan jumlah pasti angka kekerasan yang diterima lantaran tak ada organisasi atau lembaga pemerintah yang mengakomodir.

Kelompok advokasi Stop AAPI Hate mengatakan setidaknya pada tahun lalu, pihaknya menerima lebih dari 2.800 laporan insiden kebencian yang ditujukan pada orang Asia-Amerika secara nasional.

Sentimen rasial sebenarnya terasa ketika Presiden Donald Trump dalam pelbagai kesempatan di media kerap menggunakan istilah virus China untuk menggantikan virus corona penyebab Covid-19. Istilah lain yang diplesetkan adalah “kung flu”.

Peserta aksi Stop Asian Hate di Chicago, AS pada Maret 2021. (Foto: ABC 7 News)
Peserta aksi Stop Asian Hate di Chicago, AS pada Maret 2021. (Foto: ABC 7 News)

Kenapa anti-Asia bisa terjadi di Amerika?

Kejahatan rasial ini dapat digambarkan sebagai xenofobia. Kamus Merriam Webster daring mengartikan xenophobia sebagai ketakutan dan kebencian terhadap orang atau apapun yang asing.

Sejarahnya cukup panjang mewarnai perjalanan Amerika. Universitas Tufts dalam artikel berjudul The Long History of Xenophobia in America menuliskan bahwa permulaan xenophobia telah terjadi semasa kolonial Amerika.

Pada 1750, Benjamin Franklin menaruh kekhawatiran akan sejumlah besar orang asing “berkulit gelap”, yang berbicara bahasa mereka sendiri di antara komunitas mereka sendiri. Ia menganggap kehadiran orang asing ini akan membanjiri koloni dan rakyat Inggris.

Peneliti xenophobia dari Universitas Minnesota Erika Lee menjelaskan xenophobia tak semata menyangkut hal-hal tentang orang Meksiko, tetapi sudah menjadi bentuk rasisme yang tertanam dalam hukum mereka.

Pembahasan tentang xenophobia akan mengarah pada pertanyaan besar tentang sejarah, memori dan penggunaan sejarah dalam menyusun pemahaman akan diri sendiri.

Baca juga: Bagaimana Polusi Cahaya Ganggu Kesehatan dan Keselamatan? Simak Penjelasannya

“Salah satu hal terpenting tentang xenophobia, ini bisa berubah bentuk seperti rasisme. Anda pikir itu hilang dan kembali. Ini berkembang walau satu kelompok imigran akhirnya diterima, itu bisa diterapkan dengan mudah ke kelompok lain,” kata Erika Lee.

Menurutnya, xenophobia bisa berkembang di setiap komunitas dan kelas. Salah satu contohnya adalah imigran Tiongkok. Ia mengatakan, pada akhir tahun 1800-an, orang-orang Tionghoa diusir dari Seattle. Ada kekerasan massa yang dipimpin oleh mereka yang biasa diidentifikasi sebagai kelas pekerja kulit putih.

Dalam kurun waktu tersebut, bentuknya beroperasi dengan lebih halus dan sopan. Ia mengatakan, hakim, pengacara, profesional menyetujui bahwa orang China harus pergi.

Tetapi mereka berpikir, itu berarti mereka melakukan pelanggaran hukum. Siasat dibuat dengan mengatur kampanye intimidasi.

“Mari kita buat daftar hitam ibu rumah tangga, majikan yang mempekerjakan orang Tionghoa, dan menerbitkan nama mereka di koran. Kita membuatnya merasa sangat khawatir untuk tinggal di Seattle sehingga mereka akan mendeportasi diri,” kata Erika.

Xenophobia adalah warisan rasisme yang membenarkan perbudakan dan kolonialisme. Rasisme mengidentifikasi kelompok tertentu sebagai kelompok yang baik dan lebih tinggi dari yang lain. Pada awal abad ke-20, persoalan ini dianggap sebagai masalah biologi.

Saat ini, pembicaraannya lebih banyak mengenai masalah budaya. Erica menerangkan, ada anggapan “imigran baik” dan ada “imigran buruk” yang merupakan ancaman bagi “kita”.

“Garis pemisah antara ‘baik’ dan ‘buruk’ ditandai dengan agama, asal kebangsaan, kelas, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Tapi lebih khusus ras,” jelas Erika.

Stereotip Asia eksotis membuat wanita dalam posisi lemah

Selain itu, stereotip turut berkontribusi terhadap bias dan kebencian anti-Asia di Amerika. Profesor psikologi di Universitas San Francisco, Hsiu-Lan Cheng, menjelaskan orang Asia-Amerika dipandang sebagai orang sukses dan mampu beradaptasi karena memiliki sifat pendiam, penurut dan pekerja keras, mengutip laman American Psychological Association.

Stereotip lainnya adalah menganggap wanita Asia-Amerika sebagai sosok eksotis dan menarik secara seksual.

“Sangat sulit untuk memisahkan kecenderungan seksual seseorang dari cara masyarakat melakukan seksual terhadap perempuan Asia.”

Stereotip dan diskriminasi serta kebencian menyebabkan tekanan fisik dan psikologis. Masalah dalam menghadapi kejahatan rasial ini adalah adanya kecenderungan korban untuk tak melaporkan dan hanya mempertahankan kejadian tersebut, kata Richelle Concepcion, Presiden Asosiasi Psikologi Amerika Asia (AAPA).

Stereotip budaya ini tentu memiliki peran untuk membuat warga keturunan Asia-Amerika menjadi target karena dianggap lemah dan patuh, terutama kaum wanita.

Bagi Erika Lee, salah satu cara untuk mengatasi keterasingan akibat xenophobia adalah memerangi stereotip negatif tentang imigran dan pengungsi, dan membantu melihat mereka sebagai sesama manusia.

“Saya sangat yakin pada kekuatan storytelling untuk mengubah cara berpikir orang tentang imigrasi dan melawan xenophobia dan rasisme.”

“Ini yang membantu kita melihat imigran dan pengungsi sebagai orang nyata, bukan stereotip, dan mengingatkan kita apa yang mempersatukan kita, bukan yang memisahkan kita,” kata Erika yang merancang proyek Immigrant Stories di laman website.

Baca juga: Ad Hominem dan Bothsidesism, Kekeliruan Argumen yang Mesti Dihindari