Penjaga gawang Barcelona, Ter Stegen, menerima banyak kritik usai kekalahan timnya melawan Atletico Madrid dalam laga lanjutan La Liga, Minggu (22/11/2020). Sebagai pintu terakhir pertahanan, ia mengambil tindakan nekad, berlari menjauhi gawangnya hingga ke tengah lapangan.

Ia berusaha mematahkan serangan balik Atletico Madrid ketika Angel Correa mengirim umpan lambung kepada Yannick Carrasco yang bebas tidak terkawal di sisi samping lapangan. Ter Stegen berhadapan satu lawan satu dengannya.

Sayang, Ter Stegen kalah dalam duel itu. Carrasco berhasil menyambut bola, lalu mengambil ancang-ancang sebelum melepaskan tembakan mengarah ke mulut gawang.

Baca juga: Bagaimana Nasib Akun Twitter Donald Trump Bila Tidak Jadi Presiden?

Gol bagi Atletico Madrid tercipta di pengujung babak pertama sekaligus menjadi satu-satunya gol penentu kemenangan Atletico Madrid atas Barcelona.

Ter Stegen menjadi tumbal pada malam itu. Kekalahan itu menempatkan Barcelona ke posisi ke-10 klasemen sementara dengan 11 poin, hasil tiga kali kemenangan, dua seri, dan tiga kekalahan. Sedangkan Atletico Madrid duduk di peringkat kedua dengan 20 poin, menempel pimpinan klasemen sementara Real Sociedad.

Kekalahan yang memperpanjang catatan buruk Barcelona di awal kompetisi La Liga musim 2020/2021. Anak asuh Ronald Koeman ini tertinggal 9 angka dari Sociedad. Selisih poin mereka terhadap sang rival Real Madrid yang menempati posisi ke-4 klasemen melebar menjadi 6 angka.

Lionel Messi
Lionel Messi dalam laga lanjutan La Liga melawan Atletico Madrid, Minggu (22/11/2020). (Foto: Instagram/fcbarcelona)

Perebutan gelar juara La Liga akan terasa berat. Tidak ada kata lain bagi Barcelona kecuali berjuang habis-habisan di sisa-sisa laga sampai akhir tahun. Mereka harus mengamankan semua pertandingan untuk membuka peluang juara.

Tetapi, langkah mereka terbilang pelik. Kekalahan dari Atletico Madrid kian memperlebar isu keretakan internal tim sebagai penyebab kemandegan Barcelona di La Liga.

Blunder Ter Stegen tidak lebih buruk dari kesetiaan sang megabintang Lionel Messi. Performa Messi tidak terlalu signifikan di tiap pertandingan yang dilakoni Barcelona. Ia baru mengoleksi tiga gol di panggung La Liga, dua di antaranya didapatkan dari tendangan penalti.

Baca juga: Serangan Jantung Menimpa Legenda Timnas Ricky Yacobi, Mengingat Pemain Bola Lain yang Alami Hal Serupa

Sejak kekalahan besar Barcelona 8-2 atas Bayer Muenchen di perempat final Liga Champions musim lalu, pikirannya mulai goyah. Ia berniat meninggalkan Barcelona pada transfer musim panas lalu, tetapi urung terlaksana karena terhalang klausul kontrak.

Pep Guardiola, mantan pelatih yang berhasil mempersembahkan treble winner kepada Barcelona, baru-baru ini memberikan komentarnya terhadap peluang kepindahan Messi. Ia terlihat ragu bahwa pemain berusia 33 tahun ini bisa bertahan di Barcelona, klub yang telah dibelanya selama 16 tahun.

“Tahun ini dia (Messi) menyelesaikan kontraknya dan setelah itu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang ada di pikirannya,” kata Pep Guardiola dalam konferensi pers usai menandantangani perpanjangan kontrak kepelatihannya di Manchester City, dikutip dari Sky Sports, Jumat (20/11/2020).

Namun, sebagai mantan pemain dan pelatih Barcelona, ia berharap Messi mengakhiri karirnya di Barcelona. Keinginan Pep mungkin bisa terwujud andai Messi bisa menenangkan dirinya.

Messi terlihat terpengaruh secara emosional atas keputusan terbesarnya.  Gonjang-ganjing ini telah merambat ke pemain lain.

Ia pun menjadi sasaran empuk untuk dikambinghitamkan. Eric Olhats, mantan penasihat Antoine Griezman menganggap Messi menjadi penyebab Griezman sulit beradaptasi di Barcelona sejak pindah dari Atletico Madrid pada 2019 lalu.

Baca juga: Fleets, Fitur Baru Twitter yang Disambut Geger Pengguna Indonesia, Benarkah Demikian?

“Messi bagus di lapangan, tapi buruk di luar lapangan,” kata Olhats kepada France Football pekan lalu merujuk keengganan Messi untuk memberikan bola kepada Griezman.

Nyatanya, Messi pun dihadapkan tekanan yang lebih hebar di luar lapangan, Messi mengaku frustasi karena otoritas Spanyol terus mengintainya soal pajak pendapatannya. Ia pun terbebani oleh pernyataan Eric Olhats.

Kekalahan atas Atletico Madrid merupakan kumulatif dari pergulatan internal Barcelona. Sebagai juru taktik, Ronald Koeman mengatakan bertanggung jawab atas kekalahan ini.

“Para pemain telah melakukan segalanya untuk mendapatkan hasil terbaik dan kami harus terus melakukannya. Saya tidak khawatir tentang liga, meskipun kami tahu, kami perlu memenangkan pertandingan,” kata Koeman usai laga dikutip dari sports.es.

Optimisme Koeman memang mutlak diperlukan untuk membenahi penampilan Barcelona. Ke depan, mereka akan melakoni 7 pertandingan di La Liga, 3 laga di Liga Champions sampai akhir tahun 2020.

Koeman juga dihadapkan pada situasi sulit setelah pemain belakang Gerard Pique dan Sergi Roberto mengalami cedera dalam laga melawan Atletico Madrid tadi.

Awal musim yang melelahkan. Meski demikian, asa tetap ada kepada Messi dan kawan-kawan. Mereka telah memperlihatkan capaian cemerlang di Liga Champions dengan kemenangan sempurna tanpa terkalahkan dalam tiga pertandingan yang sudah dijalankan.

Setidaknya, hasil itu menjadi bukti bahwa Barcelona adalah tim raksasa yang memang sulit untuk ditumbangkan apapun kondisinya.