Ada berbagai macam diet sehat untuk mengatur pola makan. Dari sekian pola diet tersebut, gaya hidup vegan adalah pola yang paling dikenal banyak orang.

Tetapi, pola diet tak hanya satu macam. Diet vegan ternyata memiliki ‘kembaran’ loh!

Pernahkah Anda mendengar diet plant-based? Pola diet ini tak tampaknya tak terlalu asing karena menjadi tren dalam beberapa waktu belakangan.

Diet plant-based telah menarik perhatian selebritis Hollywood seperti Ellen Degeneres dan Beyoncé. Diet ini pernah pula menjadi perbincangan banyak warganet di media sosial.

Lalu, apa yang dapat diketahui dari diet plant-based ini?

Ilustrasi vegan
Ilustrasi vegan, (Foto: Daria Shevtsova/Pexels)

1. Beda diet vegan dan diet plant-based

Anda mungkin berasumsi bahwa diet ini sama saja dengan vegan karena hanya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Namun dua pola diet ini memiliki perbedaan mendasar dalam jenis makanan yang dikonsumsi serta cara penyajiannya.

Pola diet vegan sama sekali tidak memakan produk hewani, termasuk daging, ikan, telur, susu, dan madu. Sedangkan pola diet plant-based, menurut penjelasan Dr. Kirlew dalam laman Piedmont Healthcare, adalah mengonsumsi sebagian besar makanan yang berasal dari sumber nabati.

Dengan diet plant-based, Anda bisa menentukan sendiri apakah tetap ingin mengonsumsi produk hewani atau tidak.

Baca juga: Prediksi The Simpsons Terbukti Lagi ke Kamala Harris, Apakah ini Sebuah Kebetulan?

Pada intinya, diet plant-based menekankan pada kuantitas produk nabati yang lebih banyak serta konsumsi makanan yang utuh, Artinya, proses makanan tersebut dihasilkan dengan cara mendekati keadaan alaminya (mentah).

Ini berbeda dengan diet vegan yang secara teknis masih bisa mengonsumsi kue vegan, keripik kentang, dan makanan cepat saji vegan lainnya. Dengan kata lain, sesuatu yang vegan belum tentu ideal.

2. Manfaat diet plant-based

Mengonsumsi makanan utuh dalam praktik diet plant-based dapat memberikan manfaat yang signifikan.

Dalam ulasan laman Cleveland Clinic ‘What You Should Know About Plant-Based Diet? disebutkan, dengan mengonsumsi makanan utuh serta bahan nabati, akan membatasi penggunaan minyak, tambahan gula, dan tentu saja makanan olahan.

Ini akan memaksimalkan asupan nutrisi dan menghilangkan makanan yang dapat memberikan dampak buruk bagi tubuh. Diet ini rendah lemak jenuh, bebas kolestrol, dan kaya akan serat, vitamin, mineral, serta antioksidan.

3. Manfaat bagi lingkungan

Meski berbeda, diet vegan dan plant-based ternyata sama-sama memberikan dampak baik untuk lingkungan, terutama emisi gas rumah kaca. Bagaimana itu bisa terjadi?

Peternakan hewan menyumbang sekitar 18 persen emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia di seluruh dunia, menurut laporan Livestock’s Long Shadow yang diterbitkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dari laman Greenmatters.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa peternakan memberikan 35 hingga 40 persen dari emisi metana global dan 65 persen dari emisi oksida nitrat global yang merupakan dua gas rumah kaca terbesar di bumi.

Seperti diketahui, gas rumah kaca di atmosfer menghalangi panas keluar dari bumi, sehingga suhu di bumi meningkat dan mengakibatkan perubahan iklim yang ekstrem. Gas rumah kaca ‘hewani’ ini bersumber dari kotoran hewan seperti sendawa hewan, kentut, dan feses.

Tak hanya ke udara, peternakan juga menghasilkan limbah yang mencemari air serta lingkungan sekitarnya. Jadi, gaya hidup plant-based dan vegan secara langsung mengurangi produk hewani, sehingga produksinya berkurang dan lingkungan serta hewan pun bisa terselamatkan.

Menjalankan diet plant-based maupun vegan, tak hanya memberikan kebaikan untuk tubuh, tetapi juga membawa pengaruh besar bagi lingkungan.

Setelah mengetahui manfaat yan bisa diperoleh melalui diet plant-based, apakah Anda tertarik untuk menerapkan pola hidup sehat ini?

Baca juga: Mengapa Foto Bernie Sanders Sangat Viral di Media Sosial?