Sebagai pengusaha, Jack Ma telah menginspirasi banyak muda-mudi dunia untuk membangun tinggi cita-cita mereka. Entah itu menjadi pengusaha atau inovator.

Pengaruhnya cukup besar dengan keberhasilannya membangun Alibaba dan kekayaan bersih mencapai 60 Miliar USD atau setara Rp844 T.  Pidatonya menjadi kutipan berkesan bagi yang memotivasi pendengarnya.

Namun, reputasi Jack Ma yang dikagumi dunia justru terpuruk. Dan yang menjatuhkannya adalah Presiden China Xi Jinping, orang yang mengantongi pendapatan sebesar 1700 USD atau setara Rp23 juta per bulan.

Xi Jinping dilaporkan telah membuat keputusan yang mempengaruhi kegagalan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Ant Group, korporasi fintech dan teknologi yang dikendalikan Jack Ma, di Shanghai Stock Exchange pada Selasa 3 November 2020 atau 2 hari sebelum perencanaan. Dunia sontak terkejut.

CNN yang mengutip pernyataan resmi, melaporkan penangguhan pencatatan Ant Group disebut konsekuensi karena korporasi tidak memenuhi persyaratan IPO.

Tentu alasannya tidak sesederhana itu. Media ramai mengendus pemicu kegagalan itu berawal dari ucapan Jack Ma yang mengusik kewibawaan pemerintah China saat berbicara dalam pertemuan puncak di Shanghai akhir Oktober lalu.

Jack Ma menyebut Bank China beroperasi dengan mental “pegadaian”, menurut laporan Reuters.

Sementara The Journal menyebut, kemarahan pemerintah China terpicu perkataan Jack Ma yang mengutip ucapan Xi Jinping bahwa “kesuksesan tidak harus berasal dari diri saya”. Pejabat di sana mengira komentar tersebut bertujuan untuk merusak reputasi pemerintah.

Dengan kontrol besar di bawah Partai Komunis China, para pejabat tampaknya tidak ingin kehilangan muka. Tanpa waktu lama, Ant Group pun ditangguhkan dari pencatatan. Penjualan saham terbesar yang dinantikan banyak orang terkubur di tangan pemerintah.

The Wall Street Journal menyebut kegagalan IPO Ant Group merupakan tanda dari puncak ketegangan hubungan Jack Ma dan pemerintah selama bertahun-tahun.

Isu lain menyebut bahwa China ingin mengurangi pengaruh korporasi besar seperti Ant Group yang terkesan melampaui pengaruh pemerintah.

Kolomnis Bloomberg Shuli Ren dalam tulisannya The Day Jack Ma Became Ray Dalio’s Nightmare pada 6 November 2020 mengkritik kesewenangan pemerintah China yang dapat memberi ketidakjelasan kepada investor jangka panjang.

Gagalnya IPO Ant Group merupakan bukti pemerintah bisa sesuka hati mengubah regulasi untuk menyelamatkan muka mereka.

Ia mencontohkan kasus lain ketika pengadilan Beijing pada September menolak pengakuan keepwell clause yang merupakan “gentlement agreement” dari fitur pasar obligasi Tiongkok senilai 790 Miliar USD yang secara teori melindungi investor jika terjadi gagal bayar.

Shuli meyakini bahwa birokrat China, seperti yang dikatakan Jack Ma, tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jack Ma sendiri belum banyak berkomentar tentang kegagalan IPO ini.

Jack Ma bicara di Shanghai Bund Summit. (Foto; YouTube/China Money Network)

China bukan tidak tahu apa yang mereka lakukan. Pejabat di sana justru bertindak benar dalam haluannya sebagai negara Komunis. Jack Ma akhirnya telah memberikan jawaban terang bagaimana China menegaskan bahwa negara harus lebih kuat daripada segelintir kelompok yang mengambil keuntungan dari negaranya.

Jack Ma mungkin telah lama melanglangbuana sebagai manusia demokrasi, menjadi pembicara di Eropa dan Amerika dengan sentilan tajam, terutama saat berdebat dengan Elon Musk tentang potensial AI di masa depan pada 2019 lalu. Sayangnya, kebiasaan demokratis tersebut tidak berlaku di tanah kelahirannya.