Beberapa waktu yang lalu, saya sempat melakukan diskusi kecil dengan beberapa teman. Topik obrolan kami waktu itu yakni seputar kewajiban suami dan istri. Diskusi kami sebenarnya tidak terlalu panjang waktu itu, namun bagi saya terasa cukup intens. Salah satu penyebabnya adalah ketika beberapa teman saya yang lelaki waktu itu mengatakan bahwa manakala nanti ia sudah menikah, ia tak mau istrinya bekerja. Lantas, hal ini diprotes oleh beberapa kawan perempuan, termasuk saya, dengan berbagai alasan. Obrolan kami pun akhirnya juga berkembang sampai kepada bagaimana hal tersebut dilihat dari sudut pandang agama Islam.

Yang menarik bagi saya waktu itu adalah salah seorang teman lelaki mengatakan alasan ketidakbersediaanya mengizinkan istrinya bekerja yakni karena satu hal: kodrat. Pada waktu itu, saya belum menemukan argumen yang bisa menyanggahnya, sehingga saya timpali menggunakan argumen lain. Akan tetapi, persoalan kodrat ini cukup menggelitik diri saya hingga saat ini. Saya akan memulai dengan dua pertanyaan. Apakah ‘kodrat’ itu? Lalu, benarkah bahwa ‘kodrat’ itu berlaku secara absolut, sehingga ketika ia sudah berbicara, tak ada yang bisa melawannya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, kodrat memiliki tiga arti: 1. kekuasaan (Tuhan); 2. hukum (alam); dan 3. sifat asli; sifat bawaan. Mengenai kodrat dari segi agama, pengetahuan saya masih awam soal ini. Namun demikian, sampai sejauh ini, dalam ajaran agama Islam sendiri saya belum menemukan ayat Al Qur’an maupun Hadits yang secara harafiah menjelaskan tentang kodrat lelaki dan wanita.

Adapun ayat-ayat Al Our’an dan hadits, serta penjelasan-penjelasan yang saya temukan di internet mengenai kodrat atau kewajiban pria dan wanita, tidak ada yang menyebutkan bahwa bekerja adalah dilarang bagi wanita. Bekerja, dalam Islam diperbolehkan bagi wanita, namun ada batasan-batasan tertentu seperti harus menjaga batas dalam bergaul, menjaga penampilan/tidak bersolek secara berlebihan, harus dengan izin suami bagi yang sudah menikah, dan tidak boleh melupakan kewajibannya dalam memelihara rumah tangga.

Dalam penjelasan-penjelasan Islami yang saya baca tersebut juga diterangkan bahwa bagaimanapun, kewajiban utama wanita adalah berada di rumah untuk mengurus rumah tangga (memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak). Ia boleh bekerja asalkan ia tidak meninggalkan kewajibannya ini.

Dengan demikian, benang merah antara ‘kodrat’ dan kebebasan bekerja bagi wanita dalam Islam terletak pada kewajibannya di rumah, sebagai pengurus rumah tangga, walau kajian secara alamiah mengenai kewajiban perempuan dalam mengurus rumah tangga, mengingat arti ‘kodrat’ menurut KBBI daring yang nomor 2, belum selengkap kajian kodrat menurut kekuasaan atau hukum Tuhan, sebagaimana menurut arti yang nomor 1. Sementara itu, disebutkan pula dalam beberapa penjelasan itu kewajiban laki-laki adalah memimpin rumah tangga dan menafkahi keluarga, atau bisa dibilang, demikianlah ‘kodrat’ laki-laki.

Saya tidak ingin mengkaji hal ini lebih dalam secara agamis, karena bukan itu tujuan saya membuat tulisan ini. Namun yang ingin saya soroti di sini adalah wewenang laki-laki untuk memberi izin istrinya untuk bekerja, karena dari penjelasan-penjelasan tersebut, tampak bahwa kebebasan istri untuk bekerja seluruhnya bergantung pada kehendak suami. Yang lebih menarik lagi adalah untuk mengetahui apakah sebenarnya alasan-alasan suami mengizinkan atau melarang istri untuk bekerja, terutama bagi yang melarang.

Jika alasan melarang istri untuk bekerja adalah karena ‘kodrat’, ada baiknya untuk kembali kepada pengertian ‘kodrat’ itu sendiri, yakni kekuasaan Tuhan, hukum alam, dan sifat bawaan. Kekuasaan Tuhan dan hukum alam sesungguhnya tidak dapat dipisahkan, karena dari kekuatan tak terkalahkan yang dimiliki oleh alam inilah (yang kemudian menjadi hukum alam), kekuasaan Tuhan ini dapat disaksikan dan dirasakan, selain dari firman-firmanNya dalam kitab suci. Sementara itu menurut firman Tuhan dalam kitab suci (dalam Islam), sudah ada penjelasan bahwa sesungguhnya wanita tidak dilarang untuk bekerja jika masih dalam batasan-batasan tertentu, dan di sini bagi saya dapat dilihat bahwa kunci utamanya masih pada izin suami.

Lantas, mari berpindah kepada pengertian kodrat sebagai hukum alam dan sifat bawaan. Menarik jika membicarakan hal ini, karena kita harus bertanya dahulu, apakah menurut alam perempuan itu seharusnya tidak bekerja? Atau, apakah sifat bawaan perempuan itu mengharuskannya untuk tidak bekerja? Menarik, karena jika menurut alam perempuan itu tak layak bekerja, sebenarnya beribu-ribu tahun yang lalu pada zaman pra sejarah, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga dan masyarakat karena ia ikut bekerja, bertani, berkebun, dan menyediakan makanan.

Bahkan tubuh-tubuh wanita pada waktu itu kekar dan kuat karena mereka banyak bekerja, tidak seperti sekarang di mana perempuan seringkali dianggap lebih kecil atau lemah dibandingkan lelaki. Kemudian, di Eropa, mulai abad ke-19, perempuan proletar atau kelas ekonomi bawah justru harus bekerja banting tulang sebagai buruh-buruh pabrik demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Jadi, sungguh konyol kalau perempuan itu dipandang lemah dan tidak pantas bekerja secara hukum alam, karena alam sudah membuktikan sendiri bahwa perempuan tidak lebih lemah daripada laki-laki.

Apakah sesungguhnya sifat bawaan wanita? Apakah sifat wanita selalu identik dengan kecantikan, kelembutan, malu-malu, bersih, dan rapi, sehingga tepat yang tepat baginya tak lain tak bukan adalah di rumah? Lalu bagaimana dengan fakta-fakta yang kita temui di kehidupan sehari-hari, di mana kita melihat wanita-wanita perkasa yang menjadi direktur-direktur di kantor? Bagaimana dengan wanita-wanita yang kita temui di dunia akademis, menjadi pengajar dan peneliti yang ahli di bidang masing-masing? Bagaimana dengan para pebisnis-pebisnis sukses, insinyur, tentara, polisi, dan dokter wanita? Bagaimana dengan pemimpin-pemimpin organisasi, walikota, gubernur, hingga presiden wanita, terlepas dari kesuksesan atau kegagalan pemerintahannya (yang semestinya pun dilihat dari sikap-sikap dan kebijakan yang diambil pada masa jabatannya, bukan semata-mata karena ia adalah wanita)? Tak lupa, bagaimana dengan wanita-wanita tangguh di sawah, di kebun-kebun, serta para ibu penggendong jamu dan kue-kue?

Jika menurut ‘kodrat’ wanita itu tak semestinya bekerja, lalu mengapa mereka bisa ada sampai sekarang? Lalu apakah dari semua wanita ini tidak ada yang memiliki suami dan anak? Apakah semua rumah tangga wanita ini hancur dan terlantar?

Yang terpenting, bisakah Anda membayangkan bagaimana jadinya dunia ini jika wanita-wanita ini tidak ada? Atau, mereka ada, namun semuanya tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga masing-masing?

Pendiri bangsa kita pun, Sukarno, sejak masa awal kemerdekaan telah menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi wanita di Indonesia pada saat itu, dalam bukunya, Sarinah. Ia pun mencita-citakan masyarakat yang dapat memberi keleluasaan pada wanita yang ingin melaksanakan perannya untuk memelihara rumah tangga sekaligus bekerja jika diinginkannya, sehingga masyarakat tersebut dapat memaksimalkan peran wanita dalam pembangunan bangsa. Menurut Sukarno,  kita tidak memiliki pilihan lain selain melibatkan wanita dalam pembangunan.

Jadi, bagi para lelaki, tanyakan kembali kepada diri Anda sebelum melarang istri Anda pergi bekerja, apa sesungguhnya alasan Anda untuk melarang? Apakah Anda khawatir gaji istri akan lebih tinggi peran Anda sebagai pemimpin dan kepala rumah tangga tidak bisa maksimal? Apakah anda seratus persen yakin, bahwa dengan bekerja, istri anda akan menelantarkan rumah Anda dan anak-anak Anda dan meninggalkan ‘peran’nya? Lalu bagaimana peran Anda sendiri dalam rumah tangga itu? Apakah Anda sendiri tidak memiliki kewajiban dalam memelihara rumah tangga dan mengasuh serta mendidik anak-anak Anda, sehingga semuanya menjadi tanggungjawab istri Anda? Apakah menurut Anda dengan bekerjanya istri Anda, hasil yang didapatnya tidak akan membantu keluarga Anda?

Silakan pikirkan kembali, sebelum Anda, mungkin, akan membunuh cita-cita dan impian istri Anda yang sudah mereka miliki sejak masih muda. Pikirkan, sebelum Anda mencegah ilmu dan potensi yang dimiliki istri Anda berkembang demi tujuan yang lebih besar, demi bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi saya sendiri, rumah tangga yang ideal adalah di mana suami dan istri menjadi partner dalam satu tim yang solid, sehingga segala hal yang penting bisa didiskusikan bersama secara sehat dan tidak seorangpun memutuskan sepihak bagi pasangannya atau anggota keluarga lainnya. Rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang memberi kebaikan dan kebahagiaan bagi seluruh manusia di dalamnya.