Dunia politik penuh dengan intrik Kilik sana kilik sini itu sudah wajar Seperti orang adu jangkrik Kalau nggak ngilik nggak asik

Rakyat nonton jadi supporter Kasih semangat jagoannya Walau tau jagoannya ngibul Walau tau dapur nggak ngebul

Persis seperti judul dari penggalan lagu “Asik Nggak Asik” dari Om Iwan Fals diatas, seperti itulah secara sederhana dan cepat kita dapat menanggapi setiap komentar lisan maupun tulisan dalam interaksi sosial kehidupan politik tanah air yang makin ramai dan seru saja akhir-akhir ini.

Sudah menjadi hal yang sangat lumrah dan sering juga bagi publik Indonesia adalah menghubungkan antara perhelatan politik dengan kejuaraan sepakbola. Bukan saja dikarenakan sama-sama mengenal adanya supporter, namun ada anggapan bahwa keduanya merupakan ajang kompetisi yang kompleks untuk menunjukkan kemampuan masing-masing pihak atas kerjasama tim, strategi dan taktik yang cemerlang untuk mencapai hasil paling maksimal berupa kemenangan.

Bentuk dari partisipasi publik didalam suatu perhelatan politik itu sendiri dapat diposisikan/ memposisikan diri sebagai panitia, pengawas, peserta (calon), tim sukses (timses), pendukung (supporter), pengamat (ahli/ lembaga independen), media pewarta, aparat penegak hukum, penyedia kebutuhan barang dan jasa, komentator dadakan ataupun bentuk-bentuk lain yang mempunyai istilah unik dan tersendiri.

Sama halnya juga dalam suatu kejuaraan sepakbola maka partisipasi publik itu dapat berupa panitia pelaksana, pengawas, pemain/ tim sepakbola, pelatih, manajemen tim, wasit dan hakim garis, supporter, media pewarta, komentator, aparat penegak hukum, penonton setia dan bentuk-bentuk lain sesuai kearifan berbagai macam komunitas pecinta dunia sepakbola.

Anggapan tersebut diatas kurang lebih memang benar adanya, namun harus disadari bahwa terdapat juga suatu kualifikasi tertentu bagi khalayak ramai untuk dapat ikut berpartisipasi dan terlibat dalam kedua macam ajang tersebut. Kualifikasi ini dapat ditentukan oleh kompetensi, minat, bakat, maupun reaksi yang wajar dari setiap manusia atas kejadian yang terjadi disekelilingnya.

Tentu saja untuk dapat menjadi salah satu bagian dari yang sudah disebutkan diatas maka individu bersangkutan tentu harus senyata-nyata memiliki kompetensi, minat, bakat ataupun ketiganya sekaligus misalnya untuk menjadi seorang calon pemimpin/ kepala daerah ataupun pemain bahkan kapten dari suatu kesebelasan yang akan bertanding. Ketersediaan posisi seperti contoh yang sudah disebutkan maupun beberapa posisi lainnya tentulah sangat dibatasi oleh macam kualifikasi yang ada.

Selanjutnya, kualifikasi yang paling luwes membuka peluang paling besar bagi partisipasi publik tersebut adalah berdasarkan “reaksi yang wajar” dari tiap individu atas peristiwa konkrit yang terjadi, baik pada ajang politik maupun sepakbola. Kualifikasi ini melahirkan apa yang mula-mula disebut sebagai “komentator dadakan” atau “komentator” saja bila tidak harus disebut “dadakan” yang merupakan cikal bakal komentator profesional dimasa yang akan datang bila ditekuni dengan serius dan baik.

Bentuk partisipasi seperti itu dapat melingkupi seluruh posisi partisipasi awal yang manapun, misal seorang pemain atau pelatih akan memberikan komentarnya atas pertanyaan awak media mengenai  strategi menghadapi pertandingan maupun menyangkut hasil seusai pertandingan. Kemudi juta aparat penegak hukum yang memberikan komentar mengenai jaminan situasi keamanan selama kegiatan berlangsung dan lain sebagainya.

Sampai disini dapat kita pahami bahwa komentar adalah bentuk reaksi yang wajar dari manusia sebagai makhluk hidup berakal yang reaktif terhadap realitas sosial sebagai aksi/ perbuatan/ peristiwa yang dapat diinderawi. Komentar yang muncul dapat diberi nilai yang bermacam-macam: baik-buruk, sangat baik-sangat buruk, cukup baik-kurang baik, positif-negatif, nyambung-ga nyambung, dan lain sebagainya.

Terhadap komentar yang dianggap cukup baik, baik, sangat baik, pas, cocok, positif, nyambung, atau yang senada dengan kesemuanya itu tentu tidak akan menimbulkan reaksi kembali yang bertentangan melainkan saling mengisi dan memperkuat, tetapi akan menjadi berbeda bila komentar tersebut mendapat penilaian yang sebaliknya.

Sebagaimana dijelaskan diatas maka pangsa pasar yang paling terbuka luas tanpa harus memiliki kompetensi, minat maupun bakat bagi tiap-tiap individu adalah menjadi seorang komentator yang mana basis pengetahuan dalam hal sumber informasi, kemampuan analisis dan  kecakapan penyampaian adalah faktor yang sangat menentukan kualitas komentarnya.

Kondisi objektif Indonesia sekarang ini senyatanya sedang sepi dengan drama sepakbola didalam dan luar negeri melainkan diramaikan dengan ajang pesta demokrasi yang sudah bergulir beberapa waktu lalu dan puncaknya pada tanggal 15 Februari 2017 mendatang. Kondisi objektif yang begitu mudah diinderawi secara langsung maupun via perangkat teknologi secara massif ini pada gilirannya melahirkan banyak sekali komentar dari para komentator setia maupun yang dadakan.

Fenomena tersebut  adalah suatu reaksi yang wajar sekalipun dianggap sebagai komentar yang tidak berkualitas, yang jelas dan wajib diapresisasi adalah adanya partisipasi publik begitu luas terhadap sesuatu peristiwa politik yang akan menentukan maju-mundurnya kualitas hidup bersama dalam waktu yang akan datang. Adanya kesadaran baru dibanding kerinduan diwaktu-waktu sebelumnya.

Sama halnya dengan sepakbola dimana seorang fans tim liga A biasanya tidak memiliki kecakapan yang mumpuni dalam memberi komentar atas jalannya pertandingan dalam liga B atau pada seorang individu yang baru pertama, beberapa kali, atau sudah lama tidak menonton sepakbola, maka seorang individu akan mengalami persoalan yang sama dalam memberi komentar yang tepat atas serangkaian perhelatan politik hari ini.

Seluruh kenyataan tersebut memberi pengertian kehidupan demokrasi yang dinamis, hidup, tumbuh, terus belajar mendewasakan dirinya mencapai kematangan dialektika bangsa yang hikmat dan bijaksana.

Sekali orang berkomentar, selanjutnya akan menimbulkan minat yang bila diasah terus menerus dapat menggali bakat terpendam bahkan memiliki kompetensi absolut atas posisi, fungsi, dan peranannya yang lebih spesifik didalam masyarakat. Kemanfaatannya akan terasa dan mewujud bila ada konsistensi antara komentar dengan keteladanan, bila ada satunya kata dengan perbuatan.

Semangat yang harus dijiwai dari dunia sepakbola itu kedalam dunia politik adalah menjunjung tinggi sportivitas yakni jujur dan adil terhadap lawan sekalipun. Kemudian daripada itu perhelatan politik harus dimaknai lebih dari mengangkat trofi juara dalam sepakbola melainkan sebagai serangkaian proses mendekonstruksi, menjebol dan membangun, memperlengkapi kembali segala kekurangan serta melahirkan kebaharuan demi kebaharuan dalam memajukan kualitas hidup bangsa dan kemanusiaan.

Hewan seperti burung saja bisa mengeluarkan suara menyerupai manusia, maka manusia itu malahan harus mampu berbahasa yang lebih manusiawi lagi sebagai makhluk yang beradab.

Akhir kata, selamat menikmati masa tenang pemilukada serentak tahun 2017. Semoga masa tenang ini benar-benar dapat kita gunakan sebaik-baiknya dalam menentukan reaksi yang wajar dan penuh kesadaran sebagai manusia Indonesia yang berbudi pekerti serta berakhlak mulia karunia Tuhan Yang Maha Esa. Kemenangan kita sejatinya ada didalam kerja nyata pembangunan kepribadian dan kebudayaan bangsa serta negara Indonesia.

Salam Kreatif-Revolusioner.