Kuliah online memberikan beragam cerita kepada mahasiswa di Indonesia. Ada perubahan kebiasaan dan fakta-fakta yang tidak terduga, Sabtu, 16 Januari 2021.

Dalam pelaksanaanya, mahasiswa dan dosen harus bertransformasi ke dunia digital. Mereka tidak dapat lepas dari perangkat elektronik seperti gawai, laptop atau komputer pribadi tiap melaksanakan kuliah online.

Mereka terhubung dalam jaringan, memanfaatkan aplikasi pertemuan Zoom Meeting, Goggle Meet dan lain-lain. Semua dilakukan di kediaman masing-masing mengingat pandemi Covid-19 membatasi pertemuan mahasiswa dan dosen di dalam kelas.

Baca juga: Curhat Mahasiswa yang Harus Jalani Kuliah Online akibat Pandemi Covid-19

Bilqis, salah seorang mahasiswa di perguruan tinggi Negeri Jawa Barat mengisahkan bahwa dirinya sempat merasa canggung mengikuti perkuliahan jarak jauh ini.

Dosen, tambahnya, masih gagap dalam memanfaatkan perangkat digital sehingga menyulitkan konsentrasi dalam proses ajar-mengajar. Ditambah lagi, terdapat kendala seperti buruknya kualitas jaringan internet.

Bilqis yang berdomisili di Sumedang, Jawa Barat mengatakan, jaringan internet di tempat ia tinggal sebenarnya cukup baik. Hanya saja, koneksi berjalan lancar tergantung dari jumlah mahasiswa yang mengakses masuk ke ruang perkuliahan.

“Google Meet, kalau tiga empat orang lancar, kalau sudah 20 orang, suaranya sudah ngga ada,” ujar Bilqis kepada Indoneside.

Gangguan teknis tersebut perlahan mulai dapat diatasi. Sembilan bulan sejak kuliah online dilaksanakan, Bilqis mengaku sudah terbiasa dengan lagam perkuliahan baru ini.

Namun ia berpendapat kuliah online belum sepenuhnya efektif. “Kadang kita di kelas saja, kadang-kadang ngga mengerti [materi perkuliahan] apalagi di masa pandemi apalagi tatap muka via online jadi kurang efektif,” katanya.

Baca juga: 5 Informasi yang Perlu Diingat tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19

Kuliah online
Ilustrasi kuliah online. (Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels)

Ia menambahkan, hal lain yang cukup memberatkan dirinya dan teman-teman lainnya adalah tugas kampus. Semasa menjalani karantina di rumah, beban tugas mahasiswa bertambah banyak.

Itu yang menyita banyak waktu mereka karena tugas dapat diselesaikan hingga larut malam. “Tapi sekarang sudah ada penyesuaian,” kata Bilqis.

Hal lain yang membedakan kuliah online dan offline adalah akses ke perpustakaan. Menurut Bilqis, selama pandemi, kunjungan mahasiswa ke kampus sangat dibatasi untuk mencegah penularan virus corona. Penjagaan begitu ketat.

“Perpustakaan kampus tutup. Perpustakaan daerah buka tapi peminjaman ngga boleh dulu, kalau diam di sana ngga boleh lama.”

“Kita dituntut bikin makalah, hal-hal yang memerlukan banyak buku sementara fasilitas hanya buku online. Jadi harus mencari digital online di luar negeri. Ngga semua ada dan harus berbayar,” kata Bilqis yang berkuliah di jurusan Sejarah.

Rasa bosan selama kuliah online beberapa kali menghampiri Bilqis dan kawan-kawan. Di samping itu, Bilqis mengaku merasakan kelelahan mata.

“Mata lelah karena sering di depan laptop karena jumlah tugasnya sama seperti waktu offline. Satu pertemuan menjadi tiga makalah, waktu di luar kuliah, lebih banyak tugas. Agustus kemarin baru mengganti kacamata yang kiri minusnya nambah 0,7,” katanya.

Baca juga: Melihat Desain Rumah Bus dan Rumah Mini untuk Solusi Lahan Sempit, Yes or No?

Meski demikian, kuliah online tetap menyimpan kisah-kisah langka menghibur. Ia mengatakan, mereka menjadi fleksibel dalam mengikuti proses perkuliahan. Bilqis bahkan mengatakan pernah mencuci pakaian sambil mendengarkan suara paparan dari dosennya saat layar desktop miliknya dinon-aktifkan.

Di samping itu, Bilqis memanfaatkan waktu yang ada untuk menekuni minat dalam kepenulisan. Ia telah mengikuti berbagai event, sesekali menyumbangkan kemampuannya di desain grafis untuk membantu temannya.

Jikapun kuliah online akan berlangsung dalam jangka panjang, Bilqis menyarankan supaya sosialisasi dan pelatihan penggunaan aplikasi pertemuan virtual lebih dimaksimalkan. Model perkuliahan juga diharapkan dapat diubah dengan terstruktur.

Beragam pengalaman dan ekspresi mahasiwa selama menjalani kuliah online dituangkan ke dunia maya. Di Twitter, terdapat akun @collegemenfess yang mewadahi curhatan mahasiswa.

Tidak sedikit di antara mereka memanfaatkan akun tersebut untuk saling berinteraksi, mendukung satu sama lain–meski tidak saling mengenal ketika menjalani kuliah online. Belum lagi curhatan pribadi dari pengguna Twitter. Misalnya ketika PLN memadamkan listrik, walhasil pengguna layanan Wi-Fi harus membeli paket internet untuk melanjutkan perkuliahan.

Kegundahan mahasiswa tersebut seolah menggambarkan hasil survey tentang evaluasi pembelajaran jarak jauh bagi mahasiwa dari Kemendikbud yang dirilis pada Juli 2020.

Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam mengungkapkan, 90 persen mahasiswa lebih memilih kuliah secara offline atau tatap muka. Namun, survei juga memperlihatkan bahwa 73 persen mahasiswa siap melakukan pembelajaran daring, sedangkan 27 persen lainnya tidak siap, laporan Kompas.com.

Sampai awal tahun 2021, penyebaran virus corona belum dapat tertangani sehingga pencegahan harus dilakukan. Pemerintah telah menetapkan PSBB ketat ke sejumlah kota di Jawa-Bali dari 11-25 Januari 2021. Ketentuan di PSBB ketat ini mencakup kegiatan belajar yang harus dilakukan secara online.

Kesehatan Mata

Di luar urusan akademi, faktor kesehatan perlu menjadi perhatian peserta perkuliahan. Indoneside pernah merangkum pemaparan Dokter spesialis mata, dr Martin Hertanto SpM dalam Webinar Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI).

Menurut penjelasan dr Martin Hertanto SpM, efek jangka panjang penggunaan perangkat elektronik berpotensi menimbulkan risiko gangguan kesehatan mata seperti rabun jauh atau miopi.

Untuk mengurangi resiko pertumbuhan mata minus, mahasiswa perlu melakukan aktivitas luar ruangan seperti berolahraga. Itu cara sederhana selain harus melakukan terapi atau memakai lensa kontak khusus.

Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan mata disebabkan computer vision syndrome (CVS) atau sekarang dikenal sebagai digital eye strain apapun jenis gawainya.

Gejalanya, mata mudah lelah, buram perih, sampai tidak fokus. Efek lain yang ditimbulkan (non-ocular symptoms) adalah badan pegal dan sakit kepala. Kelelahan mata dapat dipicu buruknya tampilan visual materi pelajaran yang dibagikan ke layar gawai atau komputer.

Untuk mengantisipasinya, dr Martin mengimbau pengajar untuk memberikan slide paparan dengan memasukkan kualitas gambar berdefinisi tinggi. Tujuannya memberi kenyamanan mata. Selain itu, pengajar mesti memperhatikan ukuran huruf, font dan kontras layar untuk memudahkan tingkat keterbacaan.

Jangan lupa berkedip untuk membasahi permukaan mata dan menghindari mata kering dan pedih.

Manfaatkan digitalisasi untuk berinteraksi

Silva, mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga mengakui bahwa kuliah online telah memberikan kendala dalam proses perkuliahan. Meski begitu, ia mengaku tetap memaksimalkan kuliah online untuk bisa menguasai keterampilan medis.

Silva menjadi mahasiswa Universitas Airlangga pada 2020 lalu. Karena itu, ia belum bertemu secara fisik dengan teman kuliahnya. Namun mereka dapat berinteraksi dan belajar bersama melalui Zoom meeting atau media komunikasi digital lainnya. Sikap saling mendukung sangat dibutuhkan.

“Kami saling menguatkan satu sama lain agar tetap bisa survive di perkuliahan ini, terutama kami masih berada di tingkat awal, dan mungkin masih beradaptasi dengan suasana baru,” kata Silva.

Silva memanfaatkan waktu untuk mengulas kembali materi-materi perkuliahan, menulis dan membaca buku di kala waktu senggang sambil mendengarkan lagu favorit. Itu dapat mengurangi tingkat stress.

Dalam masa kuliah online, ia berharap adanya kerja sama antara dosen dan mahasiswa untuk menjalankan tanggungjawab masing-masing. Menurutnya, kuliah online merupakan langkah tepat diterapkan saat ini mempertimbangkan tingginya penyebaran virus Covid-19.

“Pihak kampus pastinya sudah memikirkan baik-baik pelaksanaan kuliah daring ini. Sebagai mahasiswa, saya hanya bisa mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya dan saling berdiskusi dengan orang-orang di sekitar.”

“Saran saya untuk pelaksanaan kuliah sehari- hari yaitu akan lebih baik jika mahasiswa dan dosen saling menyalakan kamera nya agar perkuliahan terasa lebih hidup dan interaktif,” kata Silva.

Baca juga: Pahit-Manis Berlakunya PSBB Ketat Jawa-Bali ke Masyarakat