Para pengunjuk rasa pro-demokrasi di Thailand yang didominasi anak-anak muda menghadapi dua kekuatan besar yang sama sulitnya dilawan: kekuasaan dan nalar berpikir konservatif.

Dalam aksinya, mereka menyuarakan salah satu tuntutan mereka agar PM Prayuth Chan-ocha mundur dari jabatannya. Prayuth terpilih menjadi PM Thailand melalui Pemilu 2019 silam.

Ia bukan orang baru dalam pemerintahan. Sebelumnya Prayuth memimpin pemerintahan junta militer setelah mengambil alih pemerintahan PM Yingluck Shinawatra pada 2014 silam.

Sepanjang junta militer menguasai pemerintahan, praktis masyarakat kehilangan kebebasan berbicara.

Kecurigaan itu terbukti setelah Future Forward Party (FFP), partai oposisi, dijatuhi hukuman oleh pengadilan pada Februari 2020 lalu karena dianggap melanggar UU Pemilu.

Pemimpin partai, Thanathorn Juangroongruangkit dilarang berpartisipasi dalam politik selama satu dekade.

Thanathorn sendiri merupakan pengusaha besar mempunyai daya tarik karena karisma dan pandangan pro-demokrasi.

Kehadiran FFP yang lahir pada 2018 silam merupakan ancaman bagi pemerintah. Partai ini sangat vokal, progresif dan digandrungi anak-anak muda.

Mereka ingin mengubah wajah politik Thailand, termasuk monarki di dalamnya, dan penghapusan peran militer dalam politik.

“Thanathorn masih muda, baru, lincah, dan menjadi ancaman terhadap suara kelas menengah perkotaan,” kata Paul Chambers, dosen di Universitas Naresuan Thailand dikutip dari Aljazeera.

Pada pemilu 2019, FFP berhasil mendapatkan 81 dari 500 kursi di parlemen meskipun Pemilu di bawah konstitusi baru yang dirancang militer supaya dapat mengurangi oposisi.

Unjuk rasa anti pemerintah di Thailand, Jumat (16/10/2020)
Unjuk rasa anti pemerintah di Thailand, Jumat (16/10/2020). (Foto: Twitter/erich_parpat)

Apa yang ditampilkan pemerintah terhadap FFP cukup mudah ditebak sebagai akal-akalan Prayuth untuk menunjukkan kekuasaannya. Pembungkaman terhadap FFP ini akhirnya mendorong aksi demonstrasi dari Juli 2020 hingga sekarang.

Tuntutan mereka terhadap Prayuth seperti jauh panggang dari api. Prayuth menolak mundur dari jabatannya sehingga menambah ketegangan di antara demonstran dan pemerintah. Puluhan aktivis ditangkap.

Selain pencopotan Prayuth, pengunjuk rasa ini dengan tegas menuntut perubahan konstitusi baru dan penghentian kekerasan terhadap aktivis.

Tidak sampai di situ, para demonstran menambah tuntutan baru, yaitu reformasi monarki.

Anak-anak muda ini menilai penghormatan terhadap Raja cukup berlebihan. Situasi ekonomi Thailand pada waktu bersamaan terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Unjuk rasa pro-demokrasi Thailand
Unjuk rasa pro-demokrasi Thailand, Minggu (18/10/2020). (Foto: Twitter/tanawatofficial)

Kegiatan tourism yang menjadi tulang punggung ekonomi negara ini ambruk. Banyak warga kehilangan pekerjaan dan terancam kelaparan.

Sementara sang Raja justru berada di Bavaria, Jerman. Memang, Raja Thailand mempunyai penginapan pribadi di tepi danau Tutzing, Bavaria dan sering menghabiskan waktu di sana sejak tahun 2007.

Namun, menjadi pertanyaan saat dia tidak pulang ke Thailand yang dilanda bencana Covid-19. Pengunjuk rasa memprotes ketidakhadiran sang Raja dan biaya semasa ia tinggal di Jerman.

Sang Raja dalam siaran TV mengatakan pula bagaimana generasi muda harus diajarkan untuk mencintai negara dan Kerajaan. Ia dikabarkan sudah pulang ke Thailand baru-baru ini.

Benarlah bahwa sebagian masyarakat masih menaruh penghormatan terhadap Raja Maha Vajiralongkorn, meski realita memperlihatkan Raja Maha Vajiralongkorn jauh dari rakyatnya.

BBC mengunggah laporannya, Minggu (18/10/2020) tentang cinta buta orangtua terhadap Sang Raja. Karena kefanatikannya, hubungan orangtua dan anak dari salah satu keluarga kelas menengah ke atas menjadi retak.

Si Ayah marah ketika anaknya mengkritik Raja Maha Vajiralongkorn dan ketika ditanyai alasannya, ia malah membalas bahwa anaknya terlalu muda untuk mengerti.

Sementara seorang mahasiswa di kota utara Chiang Mai mengungkapkan dalam postingan di Facebook, September lalu, bahwa dirinya dilaporkan oleh Ayahnya karena pandangan anti-monarki.

Si anak juga tidak diizinkan lagi mencantumkan nama keluarganya. Sentimen antara mereka yang anti dan pro monarki dilaporkan meningkat di platform media sosial.

Sementara di Indonesia, kabar unjuk rasa di Thailand juga menjadi perbincangan luas. Novelis Indonesia Okky Madasari ikut menanggapi ‘kebodohan’ anak muda di mata orang tua. “Sulitkah bagi kita menyadari bahwa justru anak muda itulah pemimpin kita?” tulisnya dalam akun Twitter, Minggu (18/10/2020).