Ribuan pasang mata menduduki Estadio Azteca, Meksiko. Mereka menyaksikan laga penuh gengsi yang mempertemukan Argentina dan Inggris di perempat final Piala Dunia, 22 Juni 1986. Suasana sarat emosional bagi pendukung masing-masing.

Empat tahun sebelumnya, kedua negara bertempur habis-habisan selama dua bulan untuk merebut Kepulauan Falkland dan sekitarnya yang dipersengketakan.

Tensi itu menular lagi ke pertandingan. Maradona, yang menjadi perbincangan dunia dengan kelincahannya mengolah si kulit bundar, diturunkan untuk membela negaranya Argentina.

Baca juga: Penjelasan Masyarakat Jangan Terlena dengan Kemajuan Pengembangan Vaksin Covid-19

Postur badannya memang terlihat pendek untuk rata-rata pemain sepakbola, hanya 165 cm. Tetapi ia memperlihatkan dirinya bak Nabi Daud yang bertempur melawan Goliath.

Ia membuat pendukung Argentina bersorak ketika berhasil membobol gawang Inggris. Ini bukan gol biasa, ini gol ajaib yang ia ciptakan melalui sentuhan tangan. Wasit tidak mampu mendeteksinya.

Gol Tangan Tuhan itu membantu Argentina membuka kemenangan sekaligus mengakhiri pertandingan dengan skor 2-1 atas Inggris. Argentina memaksa tim Negeri Ratu Elisabeth II angkat kaki dari benua Amerika dengan tertunduk lesu.

Gol fenomenal dari pemain legendaris dunia yang tidak pernah terlupakan jagat dunia. Meski puluhan tahun berlalu, penggemar sepakbola selalu mengenang pertandingan itu. Kisahnya diulas sejumlah media internasional hingga dibuatkan dalam sebuah film dokumenter atas namanya pada 2019 lalu.

Baca juga: Snapchat Keluarkan Jurus Baru Lawan TikTok: Spotlight

Dia pernah berkesempatan melatih timnas Argentina dari 2008-2010. Kontroversi ditunjukkannya setelah memasukan kembali beberapa pemain veteran seperti Martin Palermo yang kala itu berusia 36 tahun, Juan Sebastian Veron dan kiper ketiga Diego Pozo ke dalam skuad Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Sayang, Argentina hanya mampu mencapai babak perempat final setelah kalah 4-0 dari Jerman.

Maradona kerap disandingkan dengan megabintang Lionel Messi yang memiliki gaya permainan nyaris serupa dirinya. Keduanya memiliki kesamaan: postur tubuh mungil, kelincahan dan sama-sama berasal dari Argentina.

Meski begitu, Messi lebih menghormati Maradona. “Bahkan jika saya bermain selama jutaan tahun, saya tidak akan pernah bisa menyerupai Maradona […] Dia pemain terhebat yang pernah ada,” kata Messi dikutip dari FIFA.

Gereja Maradona

Ketenarannya di lapangan hijau semakin benderang dengan pandangan hidupnya yang memihak orang-orang miskin.

Dia benar-benar telah menjadi ‘Tuhan’ bagi penggemarnya. Pada tahun 1998, tiga penggemar fanatiknya menginisiasi berdirinya Gereja Maradona di kota Rosario, Argentina.

“Orang percaya tidak bisa mendapatkan kesejajarannya dengan Yesus Kristus. Mereka berkumpul setiap minggu di seluruh dunia untuk berbagi testimonial tentang pengaruh Maradona dalam hidup mereka,” tulis kritikus theater Honduras, Jose Sulis di website America Magazine yang dikelola Serikat Jesuit.

Jemaat Gereja Maradona bahkan memodifikasi isi doa Bapa Kami untuk memberikan penghormatan kepada ‘Sang Juruselamat’ modern mereka. Saat ini, jumlah anggota Gereja Maradona sekitar 200.000 orang dari lebih 130 negara.

Baca juga: Noam Chomsky: Meski Joe Biden Menang, Trump Telah Meraih Keberhasilan Besar

“Meskipun terlihat tidak pantas, Gereja Maradona meniru struktur Katolik dan menggemakan semangat Santo Ignatius untuk menemukan Tuhan dalam segala hal,” kata Sulis.

Salah seorang jemaat Gereja Maradona berujar sepakbola sama seperti agama lainnya. Semangat ini timbul karena kejabaiban yang ditunjukkannya di sepakbola.

Sosoknya memang sangat menginspirisi banyak orang. Contohnya ketika dia bermain untuk klub Napoli. Sulis mengatakan, Maradona berhasil mengangkat kota miskin di Italia itu menjadi perhatian dunia.

Penduduk setempat bahkan menganggap Maradona merupakan penjelmaan dari Santo Gennaro, martir Kristen yang dihormati di Napoli.

Tetapi, apakah Gereja Maradona merupakan agama resmi yang diakui dunia, tentu ini menjadi perdebatan. Mereka menciptakan 10 perintah Gereja yang beberapa di antaranya menyerukan untuk mencintai sepakbola di atas segalanya dan jangan hidup terasing dari kenyataan dan sia-sia.

Maradona
Diego Maradona. (Foto: YouTube/FIFATV)

Melawan Amerika

Di sisi lain, dia menjadi pemberi harapan bagi orang-orang pribumi dan berwarna di Amerika yang memperlihatkannya dirinya sangat dominan dengan pandangan politik kiri.

Dia mendukung kepemimpinan Presiden Venezuela Hugo Chavez dari Partai Sosialis Venezuela dan Pemimpin Kuba Fidel Castro yang mana kedua negara ini merupakan seteru bagi Amerika Serikat. Tokoh revolusioner Che Guevara diabadikan sebagai tato di lengannya.

“Diego adalah sahabat dan sangat baik. Tidak diragukan lagi, dia adalah atlet luar biasa. Dia mempertahankan persahabatan dengan Kuba tanpa memandang keuntungan materi,” kata Fidel Castro.

Dari lika-liku perjalanan dan pandangannya, maka dia hadir sebagai lawan bagi Amerika. “Saya benci segala sesuatu yang datang dari Amerika Serikat,” katanya saat berbincang dengan Hugo Chavez pada 2007 silam, dikutip dari Newsweek. Tatkala Fidel Castro meninggal pada 2016 silam, Maradona merasa sangat terpukul dan menangis.

Baca juga: Kekalahan Barcelona dari Atletico Madrid Menjerat Kesetiaan Lionel Messi

Berganti tahun, pendiriannya terhadap Amerika masih sama. Presiden Trump, katanya, merupakan pemain kartun yang kalah topnya dari pemimpin negara Sosialis. Presiden Rusia Vladimir Putin, katanya, bisa membawa perdamaian bagi banyak orang di dunia ini.

Ia juga mengkritik Paus Yohanes Paulus II yang mewakili Gereja Katolik karena menurutnya tidak berkontribusi untuk merawat orang miskin sementara Gereja di Vatikan terlihat sangat mewah dengan langit-langit emas.

Imannya terselamatkan setelah Paus Fransiskus yang berasal dari Argentina berhasil membantunya untuk kembali kepada iman Katolik.

Memasuki usia 60 tahun, kesehatannya mulai memperlihatkan penurunan. Pada awal November ini dia sempat mendapat perawatan di klinik Olivos, La Plata, Argentina, lalu menjalani operasi pengumpalan darah di kepalanya. Kondisinya kembali normal setelah perawatan itu.

Namun, Maradona kembali melambungkan duka kepada masyarakat dunia. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada 25 November 2020 akibat henti jantung. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Argentina menetapkan tiga hari berkabung nasional. Selamat jalan, legenda.