Orang bijak mengatakan talk less do more, yang artinya, lebih baik berbicara sedikit dan banyak bekerja. Kebanyakan orang berusaha meyakinkan argumennya adalah pendapat terbaik. Namun, penting untuk tahu cara menjadi pendengar yang baik.

Keterampilan mendengarkan mencerminkan kepribadian positif dari seseorang. Hal ini sering luput dari perhatian. Orang mengabaikan pentingnya mendengarkan karena merasa perlu membantah pendapat lawan bicara yang keliru.

Mari mengawalinya dari definisi dasar untuk menemukan perbedaan mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah kemampuan orang untuk merasakan suara dan kebisingan. Suara yang terdengar setiap hari memiliki fungsi untuk membuat hidup orang menjadi lebih kaya.

Baca juga: Bencana Banjir Bukan Aib yang Harus Disopankan Lewat Eufemisme

Tawa anak-anak atau nyanyian dari lagu favorit memiliki nilai yang tidak dapat diraba, tetapi berpengaruh untuk membentuk kehidupan sehari-hari, mengutip sightmd.com.

Ketika mendengarkan lagu favorit, orang merasa perubahaan suasana hati. Saat mendengarkan siaran radio yang melaporkan demonstrasi di jalan tertentu, pengemudi akhirnya mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan.

Keterampilan mendengarkan membuat orang mampu menilai situasi sosial dan lingkungan. Orang menjadi mengerti dan bertindak. Jadi, dapat diketahui perbedaan antara mendengar (hearing) dan mendengarkan (listening).

Devito (2013) dikutip dari Martoredjo (2014) menjelaskan kegiatan mendengarkan adalah suatu proses aktif dari menerima rangsangan (stimulus) pada telinga (aural). Mendengarkan merupakan tindakan yang harus disengaja dilakukan. Ini tidak terjadi begitu saja tanpa kesadaran.

Baca juga: Quarter Life Crisis Melanda Kamu? Dibawa Santai Aja

Dalam dimensi pengolahan atau evaluasi proses, mendengarkan merupakan kegiatan yang melibatkan aktivitas mengerti makna yang disampaikan, menafsirkan makna, mengevaluasi bahasa nonverbal serta mengingat pesan yang disampaikan.

Inilah kategori pendengar aktif. Menjadi pendengar aktif akan bermanfaat untuk melancarkan komunikasi interpersonal. Hal ini berbeda dari pendengar pasif. Mendengarkan lebih baik daripada diam.

Keterampilan mendengar diperlukan untuk menangkap pesan, baik dalam hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan atau dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Lalu, bagaimana cara menjadi pendengar aktif? Berikut ini ulasannya.

Diskusi
Diskusi. (Foto: Ekaterina Bolovtsova/Pexels)

1. Partisipatif

Partisipatif adalah kunci dalam komunikasi. Caranya, orang harus mendengarkan secara aktif.

Nikodemus Thomas Martoredjo dalam artikelnya berjudul “Keterampilan Mendengarkan secara Aktif dalam Komunikasi Interpersonal” yang diterbitkan BINUS menuliskan, persiapan fisik dan mental sangat diperlukan untuk membuat orang menjadi pendengar aktif.

Tubuh perlu rileks tiap menyimak pesan sambil menangkap pesan dari kata-kata yang diucapkan dan bahasa tubuh yang menyertainya. Karena itu, penting untuk menghindari sesuatu yang mengganggu atau mengintervensi komunikasi.

Caranya, temukan posisi duduk yang baik untuk menerima sumber suara secara jelas. Sebisa mungkin kondisi fisik harus berada dalam posisi nyaman.

Demikian juga keadaan psikologis, cobalah untuk tetap fokus dan siap berbagi makna. Padamkan ponsel atau laptop. Ini sangat berguna untuk dipraktikkan mahasiswa ketika mendengar penjelasan dosen saat perkuliahan.

2. Empati

Mendengarkan secara empati berarti ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Pendengar memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Dengan empati, pendengar akan terdorong untuk mampu menyelami pikiran dan perasaan lawan bicara. Empati membutuhkan keterbukaan. Hindari sikap menghindar seperti mencoba mengambil jarak fisik dengan lawan bicara.

Mendengarkan secara terbuka akan membantu memahami pesan yang disampaikan. Jika pun ingin menilai kritis pendapat lawan bicara, kedepankan keterbukaan.

Sikap kritis diperlukan untuk membantu mengevaluasi pesan, namun harus menghindari peluang bias dalam menangkap pesan.

3. Hindari merasa paling hebat

Mendengarkan secara baik adalah bentuk komunikasi kooperatif. Dalam interaksi ini, umpan balik mengalir ke kedua arah tanpa ada pihak yang bersikap defensif dengan komentar lawan bicara.

Sebaliknya, pendengar buruk dipandang sebagai orang yang kompetitif. Jack Zenger and Joseph Folkman dalam artikel “What Great Listeners Actually Do” yang diterbitkan Harvard Business Review (2016) menerangkan bahwa pendengar tipe kompetitif ini hanya mendengarkan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam penalaran atau logika.

Orang semacam ini menggunakan waktu keheningan mereka untuk mendapat kesempatan mempersiapkan tanggapan berikutnya. Jika orang tidak setuju terhadap argumen lawan bicara, jangan mencoba untuk menantang untuk memenangkan argumen tersebut. Kembali lagi pada prinsip empati dan keterbukaan.

“Itu mungkin membuat Anda menjadi pendebat ulung, tetapi tidak membuat Anda menjadi pendengar baik.”

“Pendengar yang baik mungkin berkeberatan terhadap asumsi dan ketidaksetujuan, tetapi orang yang didengarkan merasa pendengar mencoba membantu, tidak ingin memenangkan argumen,” tulis Jack Zenger and Joseph Folkman.

4. Pendengar yang baik tahu cara memberi saran

Diam sering diartikan sebagai emas. Namun, dalam komunikasi interpersonal, diam memiliki sejuta makna. Pendengar yang diam bisa diartikan sebagai pendengar pasif yang sekadar duduk untuk hearing.

Namun, dalam konteks tertentu, cobalah menjadi pendengar yang baik tanpa harus diam. Jack Zenger and Joseph Folkman menjelaskan, berdasarkan analisis perilaku 3.492 peserta program pengembangan manajer, mereka menemukan bahwa pendengar yang baik cenderung memberikan saran.

Di sini perlu perhatian. Mendengarkan dengan baik selalu mencakup beberapa umpan balik. Pemberiannya selalu dilakukan dengan cara dapat diterima orang lain dan membuka jalan alternatif untuk dipertimbangkan. Karena itu, penting untuk membangun keterampilan membuat saran.

Baca juga: 6 Bentuk Strategi Komunikasi yang Efektif supaya Mendidik dan Tidak Menimbulkan Kegaduhan

Jangan sampai cara penyampaian saran menjurus pada tindakan yang mencoba memecahkan masalah lawan bicara.

Jack Zenger and Joseph Folkman menuliskan catatan dari analisis mereka bahwa, seseorang yang diam selama percakapan dan memberikan saran mungkin tidak dianggap kredibel. Seseorang yang tampak agresif atau kritis dan kemudian mencoba memberi nasihat, mungkin tidak terlihat dapat dipercaya.

“Pendengar yang baik sering diibaratkan seperti spons yang menyerap apa yang dikatakan orang lain, sebaliknya, temuan kami menunjukkan bahwa pendengar yang baik seperti trampolin. Mereka adalah orang yang dapat memantulkan ide alih-alih menyerap ide dan energi lawan bicara.”

“Mereka memperkuat, memberi energi, dan memperjelas pemikiran lawan bicara. Mereka membuat lawan bicara merasa lebih baik, tidak hanya menyerap secara pasif, tetapi secara aktif mendukung. Ini memungkinkan lawan bicara memperoleh energi seperti seseorang yang melompat di atas trampolin,” tulis Jack Zenger and Joseph Folkman.

Baca juga: Membedah Corak Liberalisme Partai Republik dan Partai Demokrat di AS, Disampaikan Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika UI