Dua ahli biologi Henri Silegowa dan Jean Pierre Kapale menemukan peristiwa menakjubkan dari dataran Afrika.

Kejadiannya tujuh tahun silam ketika mereka membeli bekal makan di desa Bafundo, Republik Demokratik Kongo. Di sana, mereka melihat bangkai monyet segar yang baru ditangkap warga setempat tengah digantung.

Ini bagian istimewanya. Monyet itu memperlihatkan warna-warni di sekitar tubuhnya. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu hitam, lalu pada bagian leher berwarna merah, sementara bagian bokong berwarna biru muda. Ukurannya hampir menyerupai seekor kucing.

Henri mengaku belum pernah melihat jenis monyet yang ditemuinya itu, mengutip laporan Mongabay. Saat ia bertanya lebih lanjut kepada wanita yang memburu monyet tersebut, si wanita juga tak mengetahui nama monyet tersebut.

Baca juga: Kebencian terhadap Warga Asia di Amerika, Kenapa Bisa Terjadi?

Untuk menjawab rasa penasaran, mereka mencoba menanyakan hal tersebut kepada rekan-rekan peneliti mereka yang terlibat dalam proyek TL2, merujuk nama tiga sungai di sana, yaitu Tshuapa, Lomami dan Lualaba. Hasilnya sama saja. Mereka tak pernah melihat monyet “indah” tersebut.

Peneliti TL2 kemudian memposting bangkai monyet tersebut berharap menemukan jawaban terang. Komentar datang membanjiri postingan sampai ke Jepang dan Amerika. Akhirnya, monyet tersebut diidentifikasi sebagai monyet dryas yang memiliki nama Latin, Cercopithecus dryas.

“Kami tahu kami telah menemukan sesuatu yang istimewa,” kata Henri.

Monyet dryas adalah anggota terkecil dari genus monyet guenons. Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1932 oleh ahli zoologi Jerman, Ernst Schwarz, tetapi hanya diketahui di area kecil hutan di Wamba-Kokolopori yang terletak 400 kilometer di bagian barat laut desa Bafundo.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan spesies tersebut sebagai spesies yang terancam punah. Monyet dryas diyakini berjumlah kurang dari 200 hewan di alam liar.

Proyek TL2 dibentuk pada 2007 untuk menemukan kekayaan hayati di Kongo. Hutan hujan lembah Kongo merupakan hutan hujan terbesar kedua di dunia. Beberapa spesies tak dikenal di bumi diyakini ada di sana namun banyak di antaranya terancam punah akibat perburuan dan penggundulan hutan.

Baca juga: Kamu Dibuat Jengkel di Media Sosial? Ini Karakter Orang Toxic yang Harus Dihindari

Dari sana, peneliti juga berhasil mengungkap banyak spesies unik, seperti Okapia Johnstoni dan 700 gajah hutan Afrika. Lalu, mereka menemukan spesies monyet yang tak diketahui secara sains, yang kemudian diberi nama lesula (Cercopithecus lomamiensis).

Khusus untuk monyet dryas, keberadaannya saat itu memang sulit diketahui. Peneliti perlu memikirkan cara untuk mengungkap keberadaan monyet-monyet tersebut.

Mereka memutuskan menggunakan kamera jebakan dan menyebarkannya di Taman Nasional Lomami. Kamera diletakan di sekitar kanopi pohon, di bawah tanah sampai menempatkannya di ketinggian sekitar 30 meter.

Peletakan kamera itu dikerjakan oleh seorang mahasiswa Florida Atlantic University bernama Daniel Alempijevic. Ia menghabiskan waktu selama satu semester untuk memanjat pohon hutan hujan dan memasang kamera itu di sana.

Cara mereka berhasil. Monyet dryas menampakan dirinya yang terekam kamera jebakan. Rekaman bertanggal 16 Oktober 2016 itu diunggah ke kanal YouTube universitas.

Dalam video tersebut, terlihat sekelompok monyet dryas bergelantungan di antara pepohonan, melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya.

Monyet Dryas adalah hewan yang menyukai area semak dan daerah berair. Saat terancam, mereka dapat menghilang dengan cepat ke dalam tanaman merambat dan lihai untuk bersembunyi.

Mengutip laman web endangeredwildlife.org, monyet dryas adalah hewan sosial, dan hidup dalam kelompok besar yang terdiri dari sekitar 30 hewan, bahkan dengan spesies campuran. Spesies ini rata-rata hidup antara 10 hingga 15 tahun di alam liar.

Simak penampakan monyet dryas melalui video di bawah ini.