Belasan tahun silam, salah satu merek minuman kemasan menampilkan iklan TV dengan mengangkat konten persoalan sumber air di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ucapan anak kecil dalam video iklan tersebut yang berkata sumber air sudekat (sumber air sudah dekat) menjadi populer di kalangan masayarakat.

Keadaan tersebut nyata adanya untuk memberitahu krisis air bersih yang mendera masyarakat NTT. Masyarakat di sejumlah daerah selalu mengalami tantangan krisis air bersih setibanya musim kemarau tiap tahun.

Baca juga: Ad Hominem dan Bothsidesism, Kekeliruan Argumen yang Mesti Dihindari

Sebagai contoh, warga lima desa di Kabupaten Rote Ndao harus merasakan krisis air bersih selama berbulan-bulan, laporan Kompas.com. Ini cukup pelik karena air merupakan kebutuhan vital untuk kehidupan manusia.

Kepala BPBD Kabupaten Rote Ndao, Deskiel Haning, menjelaskan musabab krisis air bersih di lima desa tadi disebabkan faktor alam berupa kemarau ekstrem.

Di samping itu, curah hujan terbilang kecil sehingga menambah panjang masalah yang mesti diuraikan untuk bisa memberikan air bersih.

Karena ketersediaan air menjadi langka, warga mesti memutar akal. Mereka mencoba menghemat penggunaan air yang ada sebatas untuk aktivitas mandi dan minum.

Jika air semakin langka, warga harus merogoh kocek untuk membeli air tangki ukuran 5.000 liter berkisar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu, laporan Okezone.com.

Di lain tempat, tepatnya di Ibu Kota Kupang, krisis air bersih juga dirasakan warga. Masalah air bersih selalu menjadi topik hangat setiap musim panas tiba. Memang, barang ini sangat vital bagi kebutuhan hidup manusia.

Mengapa NTT krisis air?

Musim kemarau baru satu pemicu krisis air. Ada hal lain di luar masalah musim. Sebelum sampai pada penjelasan penyebab krisis air bersih, ada baiknya mengetahui kondisi wilayah NTT.

Made Widiadnyana Wardiha dan Pradwi Sukma Ayu Putri adalah peneliti dari Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar yang pernah melaksankan studi masalah ketersediaan air di NTT pada 2013 silam.

Dalam artikel mereka, dijelaskan bahwa kondisi provinsi NTT memiliki kondisi alam cukup berat, khususnya potensi sumber daya air.

NTT adalah daerah kering dengan curah hujan yang kecil dibanding seluruh daerah di Indonesia (Rahardjo, 2008). Rata-rata volume curah hujan tahunan di NTT hanya sebesar 1000 mm (Widiyono, 2008).

Curah hujan di sana memang terbilang kecil, namun dalam beberapa peristiwa sempat turun hujan lebat. Idealnya, hujan lebat bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.

Namun karena berlangsung singkat, debit air hujan besar tersebut harus ditampung supaya mencukupi untuk menghadapi ancaman kelangkaan air kelak.

Presiden Jokowi meninjau bendungan Sikka
Presiden Jokowi meninjau bendungan Sikka. (Foto: Twitter/jokowi)

Baca juga: Yuk, Kenali 6 Jenis Instrumen Investasi untuk Kaum Muda

Penampungan air dirancang dengan ukuran besar supaya bisa memenuhi kebutuhan air selama setahun. Penampungan air hujan itu dinamakan embung, sebuah reservoir yang memiliki kapasitas tampung lebih kurang 30.000 meter kubik.

Selain hujan, faktor lain yang mempengaruhi adalah keadaan geologi. Penelitian Susilawati (2006) menjelaskan keadaan geologi di NTT dibedakan atas pulau-pulau besar seperti

  1. Flores memiliki lapisan batuan vulkanik dan bukit-bukitnya berupa lapisan batuan sedimen seperti cadas (sandstone) dan limestone
  2. Sumba terdiri dari limestone, batuan cadas, clay stone, lapisan koral limestone, lapisan campuran batuan vulkanik, lava, dan breksi
  3. Timor memiliki lapisan batuan koral limestone (karang) yang sangat porous. Selain itu juga terdapat batuan metamorf dan basalt

Melihat keadaan geologi di atas, kemampuan peresapan air menjadi rendah dan cenderung membuat tanah mudah tererosi (Widiyono, 2008). Kemampuan peresapan air juga dipengaruhi oleh jenis tutupan lahan yang ada di wilayah NTT yaitu savana dan pertanian lahan kering.

Kebanyakan sumber air di NTT berasal dari sumber air, sumur gali dan air perpipaan dari PDAM. Ini sumber-sumber yang menentukan hajat hidup warga NTT.

Kondisi tanah, di samping jumlah penduduk dan berapa besar penggunaannya, turut mempengaruhi ketersediaan sumber air, utamanya air tanah.

Faktor yang mempengaruhi air tanah itu antara lain jumlah curah hujan, tingkat kekasaran tekstur tanah, pergerakan air secara vertikal, produksi limpasan, perkolasi dan rembesan air ke dalam tanah (Nainiti, 2004).

Solusi mencari jalan keluar dari krisis air sempat diperkeruh masalah proses pengambilalihan aset antara PDAM Tirta Lontar Pemkab Kupang dan Tirta Bening Lontar Pemkot Kupang, mengutip laporan Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) 2019.

Baca juga: Jalan Tengah Sebelum Revisi UU ITE Dibawa ke Parlemen

Sekilas, solusi untuk mencari jalan keluar atas krisis air bersih di NTT jarang diperbincangan secara meluas oleh masyarakat Indonesia. Krisis air di sana muncul seabagai perhatian tatkala isunya sudah sampai ke Istana.

Tidak kurang para pejabat. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada 19 Februari 2021 mengaku akan membahas persoalan air bersih di NTT bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Apakah ada cara lain? Ada. Ini baru saja diperlihatkan Presiden Jokowi. Optimis tersebut terpancar dengan diresmikannya bendungan Napun Gate, Kabupaten Sikka oleh Jokowi. pada 23 Februari 2021.

Bendungan ini disebut dapat membantu mengatasi krisis air bersih kepada warga setempat. Harapan terbuka untuk segera menyurutkan krisis air bersih di NTT.

Mengutip Okezone.com, bendungan Sikka bakal digunakan sebagai penyuplai air bersih untuk 300 lebih warga dan menjadi sumber irigasi pertanian seluas 300 hektare.

Kapasitas tampung air bendungan diperkirakan dapat mencapai 11 juta meter kubik.

“Setiap saya datang ke NTT awal-awal selalu yang diminta adalah bendungan, yang diminta adalah waduk. Dan permintaan itu adalah betul. Jangan minta yang lain-lain karena kunci kemakmuran di NTT ini adalah air,” kata Jokowi saat peresmian.

Bendungan Sakka hanya satu dari total 7 proyek bendungan yang digarap di NTT. Hujan turun membasahi Jokowi dan rombongan di NTT saat meninjau daerah NTT.. Dalam lawatan ke Desa Makata Keri, Sumba Tengah, Jokowi sempat memikirkan masalah krisis air.

Ia memiliki rencana lain untuk mengurai krisis air bersih di NTT. Melalui akun Twitter, akun Presiden Jokowi mengatakan pemerintah saat ini sedang membangun ratusan sumur bor dan beberapa embung di sana.

Apakah kehadiran bendungan baru dapat mengurai masalah krisis air di NTT? Tentu saja bisa. Namun hal ini perlu waktu, bisa panjang atau pendek mengingat sejumlah tempat wisata di NTT seperti Labuan Bajo tengah dipromosikan sebagai lokasi berlibur super prioritas.

Baca juga: Mimpi Buruk Krisis Listrik di Texas