Setidaknya HUT ke-17 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akhir  Maret lalu berhasil menyita perhatian publik. Beritanya tercetak jelas di halaman muka berbagai surat kabar. Sedangkan di warung-warung kopi, obrolan berkisar pada nasib para banteng di masa depan.

Hari itu, tanpa disangka-sangka Megawati mengungkapkan kemungkinannya untuk pensiun. Dalam pidatonya dia mengatakan, “Saya sebetulnya sudah dari tahun lalu mau pensiun. Karena tidak mudah apalagi seorang wanita menjadi ketua umum partai di Republik ini.”

Sebagai partai yang telah berdiri selama 17 tahun sejak 1999, juga berbagai dinamika yang terjadi sejak orde baru, Megawati Soekarnoputri jelas merupakan figur sentral. Sejak sebelum partai itu mendapatkan akhiran kata “perjuangan”, ia sudah dengan tegas memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah. Dan itu dilakukannya ketika penguasa negeri masih orang yang sangar, Soeharto.

Selama itu pula Megawati mempunyai daya tariknya sendiri sebagai trah Soekarno. Dan kepergiannya dari panggung politik jelas menjadikan para para banteng seperti kehilangan induknya. Karena selama ini, terlepas dari friksi-friksi yang ada, PDI-P adalah Megawati dan Megawati  adalah PDI-P. Jadi sangat susah membayangkan apa jadinya partai ini tanpa hubungan keduanya.

Dari perkataan Megawati tadi, ada satu hal yang menarik. Dia mengungkapkan bahwa tidak mudah bagi seorang wanita untuk menjadi ketua umum partai di Indonesia. Lalu bukanlah Puan Maharani juga perempuan? Padahal kita tahu, opini publik sudah menganggap jika Puan lah yang bakal meneruskan jejak sang ibu. Indikasinya, dia menjadi sosok yang sering diajak Megawati berkeliing ke daerah. Juga satu-satunya Trah Soekarno yang ada di jajaran pemerintahan, yang bahkan menjadi orang yang namanya dicari Raja Salman ketika turun dari pesawat.

Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada mbak Puan, harus diakui bahwa dia belum sekuat itu untuk menggantikan ibunya. Sebelum menagmbil alih kepemimpinan PDI-P, Megawati tidak hanya kuat di internal kader partai. Namanya juga menjadi harapan akan munculnya gagasan-gagasan besar Bung Karno ketika Orde Baru mengalami kemunduran.

Sedangkan sejauh ini, Puan Maharani tidak terlalu populer di mata publik. Isu-isu tentang dia lebih banyak bernada miring dengan anggapan sebagai “Tuan Putri” dari trah Soekarno. Ketika Presiden Jokowi melakukan dua kali reshuffle kabinet, namanya yang tak tersentuh justru menambah isu miring tentang pengaruh sang ibu.

Selain Puan, jika PDI-P tetap akan mempertahankan Trah Soeakrno, ada satu nama lain. Dia adalah Prananda Prabowo. Dari banyak sumber disebutkan, putra pertama Megawati ini memang tidak banyak menjadi sorotan media. Praktis, namanya tidak banyak dikenal umum. Namun konon, ia banyak terlibat dalam menyusun langkah-langkah politik partai.

Tapi jika PDI-P hendak keluar dari kebiasaan dang angin terus berhembus ke arah istana, maka Jokowi juga bisa menjadi pengganti Megawati. Sosok yang satu ini jauh lebih populer baik di internal maupun eksternal partai. Dan posisinya yang berada di pusat pemerintahan tentu sangat strategis.

Sedangkan bagi Jokowi, hal ini bisa menepis anggapan sebagai petugas partai. Karena dia bukan lagi petugas, tapi pemimpin partai. Friksi-friksi dari kalangan internal partai yang selama ini sering terjadi juga dapat dengan mudah dikendallikan sehingga stabilitas partai, dan nantinya pemerintahan dapat tercapai.

Tapi jika demikian, Jokowi akan menjadi sama saja dengan SBY yang selama ini sering dia sindir. Sama-sama menjadi kepala pemerintahan sekaligus partai. Dan kita bisa lihat bagaimana persepsi publik tentang SBY saat ini, juga bagaimana sepak terjang Partai Demokrat. Semoga PDI-P belajar dari sana.