Tanaman Janda Bolong mendadak populer di masa pandemi Covid-19 dengan harga jual tinggi. Di Twitter, perbincangan Janda Bolong sempat menjadi trending pada akhir September 2020 lalu.

Paul, seorang penjual tanaman hias di Depok dalam wawancara dengan CNN Indonesia mengaku menjual satu lembar daun Janda Bolong seharga Rp15 juta. Bahkan satu pot dapat mencapai Rp100 juta. Harga yang menggiurkan banyak orang, apalagi perawatan Janda Bolong sama seperti tanaman lainnya.

Apa yang membuat harga Janda Bolong sangat mahal?

Ada beberapa alasan yang membuat Janda Bolong menjadi mahal.

1. Keindahan. Salah satu pemicu tingginya harga jual Janda Bolong adalah keindahan bentuk daunnya yang mempunyai berbagai lubang. Keindahan lainnya dapat ditemukan pada Janda Bolong Varigata yang mempunyai dua warna kuning dan hijau.

Karena keindahan itu, Janda Bolong dianggap dapat membantu pemiliknya terhindar dari stress ketika melihat tanaman ini. Terutama di masa pandemi, isu kesehatan mental menjadi persoalan besar bagi masyarakat sehingga orang-orang ‘berduit’ akan memburu tanaman ini selama menjalani karantina di rumah.

Janda Bolong Monstera Adansonii
Janda Bolong Monstera Adansonii. (Foto: thatplantylife.com)

2. Kelangkaan tanaman. Ketenaran Janda Bolong sebenarnya pernah menjadi perbincangan di antara kolektor dan penghobi pada 2018 silam. Namun, harga Janda Bolong kala itu tidak se-fantastis sekarang.

Di sisi lain, menurut penjual tanaman hias lainnya Josh dalam laporan Kompas.com mengatakan bahwa Janda Bolong merupakan tanaman yang cukup langka di Indonesia.

Janda Bolong memang bukan tanaman asli dari Indonesia. Contohnya, spesies Janda Bolong populer lainnya dengan nama Latin Monstera deliciosa atau lazim dikenal sebagai Swiss cheese plant adalah tanaman asli dari wilayah Meksiko bagian selatan hingga Panama.

Jadi, jumlah Janda Bolong yang sedikit tidak sebanding dengan jumlah permintaan yang mendadak melambung tinggi belakangan ini.

3. Pembeli dari Jepang. Masih dari sumber yang sama, Josh menduga popularitas Janda Bolong dimulai ketika seorang petani di daerah Bogor menjual Janda Bolong Variegata kepada orang Jepang seharga Rp120 juta.

Kabar tersebut diduga memicu perbincangan luas tentang tanaman Janda Bolong seperti saat ini.

Permainan harga?

Saat Janda Bolong menjadi viral, banyak netizen kaget saat mengetahui harganya yang sangat tinggi. Beberapa pengguna mengaku sebelum booming seperti sekarang, ia membeli bibit Janda Bolong hanya seharga belasan ribu rupiah.

Tidak sedikit netizen menjadi ‘latah’ memosting tanaman Janda Bolong mereka mulai dari jenis Monstera Adansonii, Monstera Adansonii Variegata, Monstera Obliqua yang semula seharga puluhan ribu, sekarang melepasnya dengan mematok tarif tinggi mencapai puluhan juta.

Janda Bolong Monstera Adansonii Variegata
Janda Bolong Monstera Adansonii Variegata. (Foto: Pinterest/Dawn Rayner)

Fenomena Janda Bolong pun menimbulkan persoalan tersendiri. Berkaca pada tahun 2007 silam, masyarakat juga pernah dihebohkan dengan fenomena tanaman hias Anthurium gelombang cinta yang mencapai ratusan juta rupiah.

Tetapi fenomena itu tidak berlangsung lama. Harga anthurium kembali ramah di kantong. Sekarang, bibit Anthurium gelombang cinta dijual dengan kisaran harga Rp25 ribu sampai Rp200 ribu di marketplace Tokopedia.

Fenomena irrasional Janda Bolong ini dapat dilihat dari sudut pandang perekonomian. Peneliti INDEF, Bhima Yudhistira, dalam laporan Kompas.com menyebutnya sebagai bubble economy atau gelembung ekonomi di mana harga aset menyimpang jauh dari nilai intrisiknya.

Fenomena bubble economy ini kali pertama terjadi pada 1637 ketika harga bunga tulip melambung tinggi saat itu karena pasar irrasional. Ini juga yang bisa terjadi dengan fenomena Janda Bolong sekarang.

Sementara Dosen Fakultas Pertanian Unpad Syariful Mubarok menganggap melambungnya harga Janda Bolong merupakan permainan dagang untuk tanaman hias. Bukan karena sulitnya teknik budidaya tanaman tersebut.

Memang ada berbagai kemungkinan yang membuat harga tanaman Janda Bolong menjadi melambung tinggi dan tidak masuk akal.

Penulis sendiri pernah mewawancarai kolektor Anthurium Eddy Pranoto dalam sebuah kontes Anthurium pada dua tahun lalu.

Anthurium Plowmanii
Anthurium Plowmanii. (Foto: garden.org)

Meski pamor Anthurium telah memudar kala itu, ternyata minatnya untuk merawat Anthurium tidak pernah hilang. Bahkan ia membuat greenhouse khusus untuk Anthurium di Salatiga.

Dia tetap mengoleksi Anthurium hanya karena merasa senang pada tanaman tersebut. Alasan ini juga yang melandasi kolektor tanaman hias yang berkantong tebal sehingga harga jual Anthurium masih terjaga tinggi di antara komunitas.

Jadi, jika kamu saat ini berniat untuk budidaya Janda Bolong lakukan dengan sepenuh hati karena keindahan yang bisa kamu temukan, bukan karena terdorong tindakan spekulatif semisal merawat Janda Bolong agar mendapat harga jual kembali yang sangat tinggi.

Sebab, bukan tidak mungkin harga bibit Janda Bolong yang mencapai harga Rp25 juta lewat Tokopedia saat ini justru akan terjun bebas mencapai ratusan ribu rupiah ke depannya. Apalagi dengan masa-masa mendekati resesi, dana yang dimiliki sebisa mungkin tidak dikelola untuk tindakan spekulatif.