Joan Roman Riquelme telah pensiun dari sepak bola tiga tahun silam. Argentinos Junior menjadi pelabuhan terakhir di senjakala karirnya. Setelah banyak melalang buana di Liga Spanyol dan Argentina, berbagai media mengenang kepergiannya sebagai sosok yang mampu mendefinisikan waktu di lapangan hijau. Lainnya menganggap dia sebagai “pemain nomor 10” yang terakhir.

Bahkan di masa keemasannya, Anda tidak bisa berharap melihat Riquelme berlari cepat dalam sebuah pertandingan. Ia lebih banyak terlibat dalam gerakan-gerakan atraktif mengelabui lawan, umpan yang luar biasa akurat, dan sesekali tendangan jarak jauh melengkung yang indah.

Jika Anda masih mempertanyakan keindahan sepak bola, lihatlah cara Riquelme bermain. Berposisi di lini tengah permainan, dia menjadi sosok sentral dalam mengatur serangan. Di lini tengah itu pula dia membangun singgasananya sebagai si pengatur waktu.

Tempo permainan memang merupakan pilihan untuk memenangkan pertandingan. Bersama dengan formasi dan pola permainan, ketiganya menjadi hal utama mengapa seorang manajer sepak bola dibayar mahal. Dan seorang manajer diharapkan mampu menyusun para pemain yang dibutuhkan bersama ketiga hal tadi.

Celakanya sejak Sepak Bola Kick n’ Rush ala klub-klub Inggris semakin digdaya, pertandingan sepak bola semakin membutuhkan kecepatan. Apalagi dalam 10 tahun terakhir ketika taktik parkir bus dengan serangan balik super cepat semakin diperlukan untuk melawan kedigdayaan gaya permainan penguasaan bola. Lalu gegenpressing yang mengkombinasikan tekanan terhadap pemain lawan untuk merebut bola, lalu menyerang secepat kilat.

Di tengah situasi inilah peran Riquelme semakin tenggelam. Di dataran Eropa, nyaris tidak ada gelar mayor yang dimenangkannya. Kelambanannya dalam bermain dan cenderung dianggap pemalas itu, dianggap tidak sesuai dengan gaya sepak bola modern.

Untuk memaksimalkan kemampuan Riquelme, sebuah tim harus memusatkan serangan padanya. Lalu membiarkkannya mengkreasikan bola di kakinnya. Dan tidak banyak manajer yang berhasil melakukannya. Bahkan seorang Vann Gaal sekalipun.

Barangkali Riquelme juga menyadari keterbatasannya. Namun hingga dirinya gantung sepatu, tidak tampak upayanya untuk menjadi lebih cepat sebagaimana kehendak jaman. Alasannya, “saya adalah seseorang yang mengambil keputusan dengan tenang, dan berpikir sangat dalam”, ungkapnya.

Dengan menjadi lebih cepat, ia kehilangan dua hal. Pertama kesenangannya dalam bermain. Lalu yang kedua adalah akuurasi dari umpan-umpannnya. Padahal karena kedua hal itulah Riquelme adalah seorang Riquelme yang otentik.

Visi bermain yang tak kalah hebat dibanding Andrea Pirlo ataupun Xavi Hernandez menjadikannya sosok yang sangat kreatif dalam membangun serangan. Juga operan-operannya. Jika dia menjadi lebih cepat, akurasi operan-operan dan pembacaannya terhadap situasi permainan tidak akan sehebat itu. Disitulah Riiquelme memilih menjadi dirinya sendiri dan tidak memedulikann jaman yang semakin cepat.

Karena sepak bola sejatinya adalah bentangan waktu antara sedari Kick Off hingga peluit panjang dibunyikan. Diantaranya terentang waktu selama 90 menit. Di rentang itulah semua pemain berusaha menambah angka di papan skor.

Sedangkan cara Riquelme tidak hanya tentang mengubah skor, tapi juga bersenang-senang dengan permainan itu sendiri. Itulah bagaimana dia dikenang hingga kini. Sosok yang mampu mempermainkan waktu seenaknya, tapi juga tahu benar kemana arah seluruh permainan.

Dan kini, tiga tahun setelah ia mmeninggalkan sepak bola, itulah pelajaran yang ditinggalkan Riquelme. Bahwa hidup adalah tentang waktu, pertengahan antara lahir dan mati. Seperti Kick Off hingga peluit panjang, perubahan-perubahan terjadi di sana. Dan waktu menurut Riquelme adalah ketika Anda bisa menikmatinya.