Indoneside – Sebagai sebuah negara besar dari segi luas dan jumlah penduduk, kita harus mengakui bahwa upaya pemerintah dalam menanggulangi COVID-19 nyatanya biasa-biasa saja. Boleh dibilang, upaya penanggulangan ini malah terkesan buruk. Terlepas dari upaya heroik pahlawan medis, perjuangan mereka tidak akan membuahkan hasil apabila tidak didukung oleh kebijakan kesehatan yang tepat.

Logika kebijakan kesehatan Indonesia selalu disejajarkan dengan prioritas negara untuk menjaga kestabilan ekonomi. Dilansir dari theconversation.com, kebijakan tersebut dengan mudah tercermin saat Kementerian BUMN telah memerintahkan karyawan BUMN usia di bawah 45 tahun untuk kembali bekerja pada akhir bulan Mei. Lalu apa yang terjadi? perkantoran telah menjadi episentrum baru penyebaran virus.

Selain itu, instruksi pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah berjalan di beberapa daerah dengan tujuan untuk menggerakkan roda bisnis. Melalui gambaran singkat di atas, Indonesia telah melakukan kebijakan yang kontradiktif dengan apa yang dilakukan mayoritas negara lain. Negara lain bertindak ekstra hati-hati saat melakukan kebijakan pelonggaran lockdown atau karantina.

Atas kepentingan ekonomi, pemerintah terlihat tergesa-gesa melancarkan kebijakan pemulihan. Dengan kebijakan pemerintah yang terkesan ceroboh dan terlalu berorientasi kepada faktor ekonomi, kita bisa mencatat beberapa “pencapaian” yang berhasil dicetak Indonesia dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19. Berikut adalah sedikit rangkuman penulis.

Atas kepentingan ekonomi, pemerintah terlihat tergesa-gesa melancarkan kebijakan pemulihan.

1. Pandemi Covid-19 berhasil mencatat beberapa pejabat publik dengan kemampuan komunikasi publik yang buruk

Tidak dapat disangka, poin negatif yang kita pahami dari pemerintahan adalah komunikasi publik yang sangat buruk. Kondisi ini mungkin sudah dapat kita telisik semenjak beberapa menteri berguyon mengenai masalah pandemi yang berpotensi mengancam Indonesia. Misal kementerian kesehatan kita, Terawan Agus menyatakan bahwa Covid-19 tdak lebih dari flu biasa.

Maaruf Amin, Sumber: www.liputan6.com

Selain itu, Wakil Presiden kita yang super sibuk, Ma’ruf Amin menyatakan bahwa Covid-19 tidak berani datang ke Indonesia berkat istiqasah dan doa ulama. Kurang cukup bercanda? pada tanggal 18 Februari 2020, lagi lagi lontaran pernyataan konyol diberikan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Menurutnya, virus Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena masyarakat memiliki kekebalan tubuh lantasan setiap hari gemar makan nasi kucing. Mirisnya sebulan berselang, Menteri Budi menjadi menteri pertama yang terinfeksi Covid-19. Untuk bapak-bapak yang terhormat, sesungguhnya, Covid-19 bukanlah sebuah objek guyonan atau pernyataan konyol, jadi komunikasi publik di masa pandemi adalah hal yang tidak boleh dianggap remeh dan sangat penting.

2. Jumlah infeksi mengalahkan negara asal virusnya

Pertanggal 18 Agustus 2020, Indonesia berhasil masuk ke dalam 25 besar negara dengan jumlah kasus teresar. Indonesia memiliki jumlah total kasus sebesar 141 ribu lebih korban. Sedangkan untuk total kematian, Indonesia berada di peringkat ke-18 dunia dengan total kematian sebesar 6.207 korban jiwa, dilansir dari worldometer.info/coronavirus. Masih kurang “berbangga”? Indonesia masuk sebagai 9 negara dengan kasus terbanyak di Asia dan peringkat ke-3 untuk jumlah kematian terbesar se-Asia. Catatan ini juga membuktikan bahwa Indonesia menjadi negara peringkat pertama jumlah korban terbanyak di ASEAN. Perlu dicatat juga, catatan ini telah melampaui negara asal di mana virus tersebut muncul, yaitu China

Peringkat total kasus COVID-19 se-asia, sumber: worldometer.info

3. Konsisten dengan kurva datar yang semakin menanjak

Apa yang kalian bayangkan saat kebijakan pemerintah tidak efektif, tetapi penguatan PSBB atau upaya lockdown tidak dilakukan?  Salah satu dampak yang bisa kita lihat yaitu adalah peningkatan grafik kurva total kasus dan kematian akibat virus.

Active Case Covid 19 in Indonesia. Sumber: www.worldometers.info

Dari grafik di atas, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat sejak kasus pertama pada bulan Maret 2020. Peningkatan tersebut terjadi signifikan di bulan Mei hingga Juli. Tidak seperti negara lainnya, di bulan Juli-Agustus, Indonesia konsisten memiliki jumlah kasus yang terus meningkat. Jika berpatokan pada kondisi negara tetangga, seharusnya Indonesia telah memasuki fase penurunan. Akan tetapi, perbedaan kebijakan kesehatan di Malaysia maupun Singapura tentu berbeda jauh dengan Indonesia.

Active Case Covid 19 in Singapore. Sumber: www.worldometers.info
Active Case Covid 19 in Malaysia. Sumber: www.worldometers.info

Dari data yang ditampilkan untuk kedua negara tetangga, penurunan jumlah kasus terjadi sangat signifikan. Penurunan tersebut terjadi karena pemerintah berusaha untuk melakukan tes secara massal dan menyeluruh, pelacakan secara masif, hingga kebijakan ketat mengenai mobilitas masyarakat. Lalu mengapa Indonesia tidak memiliki pola yang sama? jawaban dapat ditemukan di paragraf pertama.