Miliarder sekaligus pendiri Alibaba, Jack Ma, dikabarkan ‘hilang’ misterius. Di media sosial, dia tidak aktif memperbarui status postingannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Masih misteri. Namun, media internasional menghubungkan kabar Jack Ma hilang dengan Presiden Xi Jinping.

Semua bermula ketika media internasional, salah satunya The Sun, menurunkan artikel berjudul, “Mystery as Chinese billionaire Jack Ma disappears from his own reality show after criticising regime” (Misteri miliarder China Jack Ma menghilang dari reality show-nya sendiri setelah mengkritik rezim).

“Jack Ma dengan kekayaan setidaknya 35 miliar Poundsterling belum terlihat di hadapan publik sejak akhir Oktober [2020],” tulis laporan The Sun, 2 Januari 2021.

Baca juga: Kado Awal 2021: Bansos Dilanjutkan, Vaksinasi Covid-19 Ditargetkan Dimulai Pekan Depan

The Sun berkeyakinan Jack Ma hilang, salah satu alasannya, karena dirinya tiba-tiba diganti sebagai juri di final Africa’s Business Heroes, fotonya dihapus dari halaman web kontes tersebut dan gambarnya dikeluarkan dari video promosi.

Sebelumnya, Jack Ma sempat mengunggah ucapan selamat kepada para kontestan Africa’s Business Heroes di akun Twitternya pada 19 Agustus 2020. Juru bicara Alibaba mengatakan ketidakhadiran Jack Ma dalam acara itu karena dia terbentur jadwal yang padat.

Indikasi lainnya, akun Twitter Jack Ma tidak terlihat mengunggah status baru sejak 10 Oktober 2020 padahal dirinya cukup aktif mengunggah postingan di Twitter.

Pada akhirnya, semua perhatian menuju pada peristiwa ketika Jack Ma menjadi pembicara di Shanghai Bund Summit pada 24 Oktober 2020. Di sana, Jack Ma membagikan pandangannya yang dianggap merendahkan wibawa pemerintahan China, termasuk Presiden Xi Jinping.

Baca juga: Dukung Masyarakat Di Rumah, Beberapa Pemda Larang Aktivitas Berkumpul Saat Tahun Baru

Apa ucapan Jack Ma sehingga dianggap menyinggung pemerintah China?

Dalam pertemuan itu Jack Ma sempat mengatakan bahwa Bank China beroperasi dengan mental “pegadaian” karena masih mengandalkan sistem janji dan jaminan yang menghambat inovasi keuangan.

Selain itu, Jack Ma mengatakan bahwa “kesuksesan tidak harus berasal dari diri saya”. Ucapan ini dinilai memicu kemarahan pemerintah China karena perkataan tersebut sebenarnya kalimat khas Xi Jinping. Pejabat di sana mengira komentar tersebut ditujukan untuk merusak reputasi pemerintah.

Jack Ma bicara di Shanghai Bund Summit. (Foto; YouTube/China Money Network)

Jack Ma dilaporkan dipanggil pihak otoritas China untuk diinterogasi, laporan Time, 2 November 2020.

Rintangan tidak sampai di situ. IPO Ant Group, unit usaha fintech Alibaba, ditangguhkan di Shanghai Stock Exchange pada Selasa 3 November 2020 atau 2 hari sebelum perencanaan yang disinyalir berhubungan dengan ketersinggungan pemerintah terhadap ucapan Jack Ma.

Padahal rencana IPO tersebut lancar-lancar saja bahkan sudah menjadi berita dunia dan dianggap sebagai penjualan saham terbesar yang dinantikan banyak orang.

Lebih jauh ke belakang, salah seorang miliarder China, Guo Wengui, pernah memberikan komentar menghentak. Guo Wengui adalah miliarder yang mengungsikan diri ke luar negeri pada 2014 dan aktif menjadi aktivis yang vokal terhadap pemerintahan China.

Dalam video wawancara bersama Chief Investment Officer Hayman Capital Management, Kyle Bass, yang diunggah pada September 2019, Guo Wengui mengungkap hanya ada dua hal yang terjadi terhadap miliarder China, “Penjara atau mati”, seraya mengatakan bahwa Ant Financial merupakan perusahaan luar biasa karena ‘dapat menghasilkan uang’.

“Mereka [China] akan mengambilnya kembali,” kata Guo Wengui. Ucapan tersebut disampaikannya untuk menanggapi pertanyaan Kyle Bass yang penasaran mengapa Jack Ma pensiun mengurus Alibaba.

Untuk diketahui, Jack Ma pensiun sebagai CEO Alibaba pada September 2019, yang menurut Jack Ma sendiri sudah menjadi rencana selama 10 tahun terakhir di perusahaan tersebut. Kala itu ia mengatakan sudah memikirkan kepensiunannya sejak 2009 lalu.

Dari sana, dia mengatakan dalam kurung waktu itu pihaknya telah merancang sebuah sistem kepada Alibaba untuk memiliki kepemimpinan tepat yang menggantikan dirinya, dikutip dari Kontan melansir CNBC.

Ren Zhiqiang

Kabar Jack Ma hilang misterius juga mengingatkan publik pada nasib konglomerat China lainnya, Ren Zhiqiang. CNN Indonesia mengutip AFP melaporkan, Ren Zhiqiang sempat menghilang sejak Maret 2020 setelah menayangkan tulisan berisi kritikan terhadap Xi Jinping dalam menangani pandemi virus Corona di China.

Ren dituduh melakukan “pelanggaran serius” terhadap disiplin dan hukum, meski dalam tulisannya dia tidak menyebutkan nama Xi Jinping.

Dia menuliskan bahwa dirinya tidak melihat seorang kaisar berdiri memamerkan ‘pakaian barunya’, tetapi seorang ‘badut’ yang menanggalkan pakaiannya dan berkeras terus menjadi seorang kaisar.

Ia juga mengecam tindakan Partai Komunis China yang sangat mengekang kebebasan pers di sana ketika wabah corona menjangkiti China. Pada akhirnya, Ren divonis hukuman penjara selama 18 tahun atas kritik tersebut pada September 2020.

 

Xi Jinping

Kolomnis Bloomberg Shuli Ren sempat mengkritik kesewenangan pemerintah China terhadap rencana IPO Ant Group karena memberi ketidakpastian kepada investor jangka panjang. Ia meyakini bahwa birokrat China, seperti yang dikatakan Jack Ma, tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Akan tetapi, reputasi Presiden Xi Jinping dalam masa kekuasaannya terlalu kuat untuk digoyangkan. Forbes bahkan pernah mendaulatnya sebagai pemimpin paling berkuasa di dunia.

Christina Zhou dan Sean Mantesso dalam tulisan di ABC Australia menceritakan jalan panjang Xi Jinping sampai ke puncak kemimpinannya sekarang. Xi Jinping adalah putra seorang revolusioner komunis China.

Ia kerap menarasikan dirinya sebagai petani di desa terpencil selama revolusi kebudayaan berlangsung di China pada periode 1960-70-an. Xi Jinping terpilih sebagai Sekjen Partai Komunis China pada 2012, setahun kemudian menjadi Presiden China.

Pria kelahiran Beijing pada 1953 ini, menurut Zhou dan Matesso, dikenal sebagai ‘pangeran’ komunis. Dia bekerja di pedesaan dalam kurun periode revolusi kebudayaan.

Dalam sebuah wawancara 2004, dia mengatakan, dirinya mengingat jelas pada Januari 1969, semua orang menangis, hanya dia yang tersenyum ketika berada dalam kereta yang akan mengantar mereka ke pedesaan.

Baca juga: Harga Kedelai Impor Melambung, Berikut Sederet Penjelasannya

“Saya berkata kepada mereka, jika saya harus tinggal, maka saya akan menangis, karena saya bahkan tidak tahu apakah saya akan selamat,” ucap Xi Jinping.

Ia mengakui tidak terbiasa dengan kerja keras di pedesaan lalu kembali ke Beijing yang membuatnya mendapat hukuman kurungan selama setengah tahun. Ia lantas melarikan diri dengan bekerja di Desa Liangjiahe di Yanan, basis revolusioner yang terkenal, selama enam tahun dalam kemiskinan sambil menyesuaikan diri untuk hidup di rumah gua.

Narasi kehidupan tersebut digunakannya sebagai “validasi politik”, menurut Direktur Lau China Institute di King’s College London, Kerry Brown.

“Seperti yang mereka katakan dalam bahasa China, mereka makan kepahitan, karena itu mereka bukan orang yang mudah menyerah. Itu membuat generasi cukup tangguh,” kata Brown.

Sebelum menjadi Presiden, Xi Jinping, kata Brown, bukanlah orang populer. Ketika ia menjadi Presiden pada 2013, kebijakan besar pertama yang diperkenalkannya adalah tindakan keras terhadap perilaku korupsi. Tidak sedikit pejabat terjerat dalam pusaran hukum.

Pada 2018, sebanyak 23 “harimau” ditahan dengan 19 orang di antaranya dijatuhi hukuman, termasuk pejabat senior Sun Zhengcai, yang dianggap sebagai salah satu pemimpin generasi berikutnya di China. Harimau merupakan simbol untuk mengatakan orang yang paling kuat dan berkuasa di China.

Kampanye melawan korupsi ini mengangkat Xi Jinping menjadi sangat populer di kalangan rakyat China, sekaligus juga menciptakan ‘permusuhan’ di antara para elit China. “Tidak ada yang bisa menjadi pemimpin Partai Komunis China tanpa menjadi sangat kejam,” kata Brown.

Meski begitu, ketika China menghadapi krisis, para politisi tahu bahwa hanya ada satu orang yang harus bertanggung jawab, yaitu Xi Jinping. Steve Tsang, Direktur School of Oriental and African Studies China Institute di Universitas London mengatakan, jika mereka gagal menetralkan Xi Jinping secara politik, maka, “mereka tahu apa yang akan menunggu mereka.”

Baca juga: Tanggapan Said Iqbal KSPI soal RPP UU Cipta Kerja, Ikut atau Tidak?