Dunia resmi memasuki tahun 2021 sekaligus menjadi momentum perubahan kepada semua orang. Tahun baru membawa harapan baru, meski ada masalah lama dari tahun lalu yang terus merayap, yaitu pandemi Covid-19, Sabtu, 2 Januari 2021.

Pandemi Covid-19 yang berawal dari kasus penularan virus corona di China pada akhir Desember 2019, tetap menjadi ‘musuh bersama’ yang harus dihadapi negara-negara di belahan dunia, termasuk Indonesia pada 2021.

Gejalanya sudah terlihat dari momen perayaan pergantian tahun 2021. Suasananya terasa berbeda dari tahun sebelumnya.

Baca juga: Menahan Diri Untuk Tetap Di Rumah Saat Menyambut Tahun Baru Tetaplah Mengasyikkan

Tidak banyak pertunjukan kembang api, pemerintah daerah melarang keramaian pada puncak malam tahun baru. Senyum perlahan redup.

Tahun 2020 menjadi pelajaran dengan pelbagai pengalaman pasang-surut dan tidak menentu. Isu kesehatan masyarakat dan ekonomi seperti dua mata koin yang saling berhubungan.

Sekarang adalah momentum untuk memperbaiki dan memulihkan kesehatan dan perekonomian supaya semua orang kembali menampangkan senyum lebarnya.

 

1. Distribusi vaksin Covid-19

Penerapan vaksinasi Covid-19 adalah kunci dalam memulai langkah pemulihan ekonomi. Januari 2021 adalah waktu untuk vaksinasi, menunggu keluarnya izin darurat (UEA) dari BPOM.

Kementerian Kesehatan memperkirakan vaksinasi untuk kategori prioritas pertama bisa dimulai antara 15-25 Januari 2021. Vaksin akan diberikan secara gratis, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, mengatakan pihaknya bergerak cepat berkoordinasi dengan penyedia vaksin antara lain Sinovac, Novavax, Pfizer, AstraZeneca dan COVAX/GAVI.

Kelima vaksin tersebut diperkirakan memenuhi jumlah total 400 juta dosis. Untuk mencapai herd immunity, Indonesia membutuhkan sedikitnya 468,8 juta dosis vaksin untuk 181,5 juta orang atau 70 persen dari jumlah penduduk. Budi meyakinkan, sejumlah vaksin bisa tersedia.

Indonesia untuk sementara ini telah memastikan ketersediaan 3 juta vaksin Covid-19 Sinovac, hasil pengiriman 1,2 juta vaksin pada 6 Desember dan 1,8 juta vaksin pada 31 Desember.

Tampilan awal vaksin Sinovac, Sumber: dw.com

Siapa saja penerima vaksin Covid-19 yang diprioritaskan? Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 54 Tahun 2020 mengatur kelompok prioritas penerima vaksin, yaitu:

  1. Tenaga kesehatan
  2. TNI
  3. Kepolisian
  4. Aparat penegak hukum dan petugas layanan publik
  5. Tokoh masyarakat/agama
  6. Pelaku perekonomian strategis
  7. Guru atau tenaga pendidik
  8. Aparatur kementerian
  9. Organisasi perangkat daerah
  10. Anggota legislatif
  11. Masyarakat rentan geospasial, sosial dan ekonomi
  12. Masyarakat pelaku perekonomian lainnya

Baca juga: Mengenal Frank Abagnale, Penipu Kelas Internasional yang Abadi Melalui Film Catch Me If You Can

Untuk informasi lebih lanjut tentang siapa penerima prioritas, pemerintah mengirimkan SMS ke nomor masing-masing penerima.

Penerapan vaksinasi Covid-19 penting dilakukan untuk menangkap peluang pemulihan ekonomi di tahun 2021, seperti yang dipaparkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara outlook perekonomian Indonesia 2021, 22 Desember 2020.

Pentingnya vaksinasi juga diungkapkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani. Ia mengatakan, mobilitas masyarakat harus normal agar mendorong kembali perputaran perekonomian yang tertekan akibat pandemi Covid-19.

Dengan vaksinasi, Rosan yakin ketidakpastian berkurang sehingga masyarakat mau bergerak dan melakukan pengeluaran yang akhirnya mendorong peningkatan kapasitas produksi industri.

 

2. Terpilihnya Budi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan

Penunjukan Budi Sadikin menjadi Menteri Kesehatan menggantikan dr Terawan pada 23 Desember 2020 dinilai sebagai langkah untuk melakukan penanganan pandemi Covid-19 yang lebih baik.

Ekonom INDEF Faisal Basri mengatakan Budi Sadikin merupakan seorang pemikir dan mau berbicara dengan ahli epidemiologi untuk menghasilkan map penanganan yang jelas sehingga akan membangkitkan kepercayaan masyarakat.

Budi Sadikin
Budi Gunadi Sadikin (Foto: Dok.KPCPEN)

 

3. Perekonomian

Konsekuensi pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan pada dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan akibat pemberlakuan pembatasan gerak melalui PSBB.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memperkirakan kemungkinan PHK besar-besaran tetap terjadi pada tahun 2021, terutama di industri pariwisata dan UMKM.

Namun, Rosan mengatakan dirinya belum melihat adanya PHK besar-besaran tahun ini. Indikator seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), business confident, naiknya penjualan mobil dan motor serta indeks PMI lebih dari 50 poin menjadi penggerak untuk pemulihan ekonomi di tahun 2021.

Baca juga: Coba Ikuti Gaya Hidup Ini untuk Mantapkan Resolusi Tahun Baru 2021

“Memang, ada industri yang mengalami tekanan besar, misalnya pemilik mal, kalau dulu bisa bertahan, sekarang tenant sudah tidak kuat.”

“Tetapi, untuk industri lain, saya tidak melihat PHK atau [pekerja] dirumahkan pada saat sekarang. Dulu sudah terjadi, tetapi dengan naiknya mobilitas menciptakan demand yang meningkat. Ini sudah cukup untuk membuat kita bertahan dulu,” kata Rosan, 29 Desember 2020.

Pemerintah sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5 persen pada 2021.

Dengan kata lain, proyeksi ini menunjukkan optimisme yang besar. Sebelumnya, Indonesia mengalami kontraksi ekonomi pada triwulan II dan III tahun 2020 (yoy), meninggalkan Indonesia yang secara teknis masuk resesi ekonomi.

Baca juga: Pendapat Ekonom untuk UU Cipta Kerja dan Masukan kepada Pemerintah