Canon dan Nikon, dua brand kamera potret paling populer dan banyak diperbincangkan di dunia. Tanpa disadari, foto-foto yang merangkum momen-momen luar biasa dan tempat-tempat mengagumkan ditangkap melalui lensa dua brand asal Jepang ini.

Hasil potret yang tidak sekadar menampilkan keindahan tetapi menjadi memori dan arsip sejarah yang sangat bernilai bagi peradaban.

Sebagai contoh, foto berjudul Tank Man yang memperlihatkan seorang lelaki yang berdiri menghadang laju tank dalam peristiwa di lapangan Tiananmen, China pada 1989.

Foto tersebut diambil fotografer Jeff Widener dari Association Press menggunakan kamera Nikon FE2 yang selanjutnya menuai komentar luas internasional sampai hari ini sebagai gambaran untuk melihat tragedi di balik kerasnya perlakuan pemerintahan China menghadapi demonstran pro-demokrasi.

Begitu pun dalam total penjualan kamera global, Canon dan Nikon selalu menempati posisi tertinggi. Canon hampir menguasai setengah dari total penjualan kamera di dunia yang tercatat 14,8 juta kamera pada tahun lalu, meskipun Nikon hanya mampu menjangkau 18,6% dari seluruh pangsa pasar global.

Bagaimanapun, kemajuan Canon dan Nikon memiliki riwayat panjang yang tidak dapat dilepaskan dari para pelanggan mereka.

Dari sekadar hobi atau tuntutan pekerjaan, pengguna telah mengambil bagian dalam perkembangan dunia fotografi untuk memancing minat orang-orang membeli produk Canon atau Nikon.

Masing-masing pengguna kemudian menyebut diri mereka sebagai Canonian dan Nikonian menandai equipment yang mereka kenakan selama memotret.

Apa itu Canonian dan Nikonian? Dari penelusuran yang ada, predikat Canonian dan Nikonian merupakan julukan untuk individu pengguna produk kamera bermerek Canon atau Nikon.

Di sisi lain, Canonian dan Nikonian membentuk forum dan komunitas tersendiri. Sebagai komunitas, Canonian dapat merujuk pada Klub Fotografi Datascrip (KFD) yang dibentuk pada 2005 silam.

KFD sendiri bernaung di bawah perusahaan Canon melalui perusahan distributor PT Datascrip. Dengan kata lain, Canonian diwadahi melalui layanan membership korporasi itu sendiri.

Ilustrasi fotografer
Ilustrasi fotografer. (Foto: Pixabay/BruceEmmerlin)

Ketua KFD Januardo Henry Salvetty dikutip dari selular.id pada 2017 menjelaskan bahwa klub KFD dibentuk atas dasar apresiasi Canon PT Datascrip kepada para pengguna kamera Canon dan asesorisnya seperti lensa, speedlite, dan lain-lain yang memiliki garansi resmi dari PT Datascrip.

Pada 2017 silam, keanggotaan KFD tercatat mencapai 25.000 anggota. KFD sendiri terbilang klub eksklusif. Berbagai event, seminar, pelatihan dan gathering diselenggarakan khusus dan terbatas hanya kepada anggota KFD yang aktif.

Sedangkan riwayat komunitas Nikonian diketahui muncul pada tahun 2000 walau sebenarnya pengagum produk Nikon sudah ada jauh sebelum itu.

Riwayat komunitas Nikonian berawal dari keresahan dua fotografer J Ramon Palacios dan Bo Stahlbrandt. Mereka awalnya bertemu dalam forum review Nikon F5 secara online di pengujung tahun 1999.

Seperti yang dituliskan di situs Nikonian, Baik Ramon dan Bo merasa jengah dengan banyaknya forum diskusi yang cukup kasar, memberikan pesan-pesan palsu kepada orang lain, tidak bertanggungjawab dan kekanak-kanakan.

Baca juga: Alasan di Balik Nikon Indonesia Tutup: Restrukturisasi hingga Covid-19

Ramon dan Bo sepakat untuk membuat komunitas fotografi mereka sendiri. Keduanya juga menaruh minat yang sama, fotografi dengan Nikon. Mereka melakukan perencanaan, menyusun desain, filosofi, kebijakan, hingga tata letak dan warna untuk komunitas online.

Kerja keras mereka membuahkan hasil setelah situs Nikonian pertama hadir pada 30 April 2020 dengan jumlah anggota perdana sebanyak 30 orang. Terbentuknya komunitas Nikonian memang tidak melibatkan campur tangan dari korporasi Nikon sendiri.

Nikonian sendiri mengklaim bahwa mereka merupakan komunitas independen, tanpa iklan dalam arti tidak mempunyai hubungan struktural terhadap kantor pusat Nikon di Jepang.

Akan tetapi, relasi komunitas dan korporasi tetap dijaga dengan keterlibatan dalam berbagai event dan perlombaan. Keanggotaan Nikonian bertambah besar secara global seiring berjalan waktu mencapai 500.000 anggota pada September 2014 lalu.

Mengakses situs Nikonian, pengunjung akan diajak untuk menjelajah forum diskusi dan sharing informasi seputar fotografi dan Nikon. Anggota bisa meninggalkan pertanyaan apa saja yang nantinya akan dibalas pengguna lainnya.

Bila jawaban yang beredar merupakan informasi palsu atau keliru, moderator yang merupakan fotografer kawakan akan meluruskan informasi tersebut.

Tidak hanya untuk kalangan profesional, situs ini juga menyediakan wadah bagi fotografer pemula untuk mendalami seluk-beluk dunia fotografi. Forum juga menyediakan kritik foto untuk pengembangan keahlian fotografer.

Baca juga: Nikon Hengkang, Tambah Catatan MNC yang Angkat Kaki dari Indonesia

Sementara di Indonesia, forum Nikonian dapat ditemukan di grup Facebook Nikon Team yang telah memiliki anggota sebanyak 48.000 akun per 24 Oktober 2020.

Seperti kebanyakan grup fotografi lainnya, grup Nikon Team dalam aturannya hanya memperbolehkan anggota untuk hal-hal seputar fotografi secara umum dan Nikon secara khusus, tidak untuk melakukan aktivitas jual-beli.

Di luar komunitas independen, Nikonian Indonesia juga mendapat wadah dari PT Nikon Indonesia melalui keanggotaan membership. Namun, salah satu layanan Nikon Z privilege membership telah ditutup sejak 21 Oktober 2020 seiring dengan pengumuman penutupan operasional PT Nikon Indonesia.

Baik Canonian atau Nikonian boleh dikatakan lebih banyak melekat sebagai predikat bagi individu. Mereka berjejaring di banyak forum dan komunitas fotografi, walau beberapa di antara Canonian dan Nikonian kadang terlihat menjadi rival sebagaimana persaingan pasar Canon dan Nikon.

Toh, perbedaan pandangan kedua kelompok itu dalam menanggapi fotografi karena mendasarkannya pada referensi brand kamera masing-masing.

Tetapi sejauh penelusuran di mesin pencarian Google, Nikonian masih lebih baik dari Canonian yang belum mengarah pada situs atau setidaknya forum diskusi layaknya Nikonian. Sebuah pekerjaan besar di era digitalisasi.