Indoneside – Pandemi COVID-19 membuat setiap manusia harus siap untuk menjaga dirinya dari celah penyebaran virus. Berbagai alat kesehatan seperti masker, baju hazard, atau obat-obatan seperti vitamin, dan makanan sehat seperti sayur dan buah buahan menjadi bagian yang sangat penting. Namun, COVID-19 tidak hanya menguji ketahanan fisik seorang manusia. Lebih dari itu, virus juga menguji ketahanan mental. Begitu banyak informasi yang lalu lalang di beranda media sosial, di televisi, maupun di berbagai portal media. Dampaknya, masyarakat semakin mudah untuk dibuat cemas atas hidupnya sendiri, keluarga, teman-teman terdekat, hingga lingkungan sekitar.

 

Selain kecemasan yang berpotensi akut, kondisi sosial yang berubah drastis pasca kebijakan PSBB maupun isolasi membuat manusia bisa menjadi stress. Kecemasan berlebihan saat karantina akan mengarah pada bentuk depresi hingga gejala stress pasca trauma. Kecemasan ini juga memiliki segudang penyebab eksternal lainnya, yang tentunya tiap orang memiliki masalah yang berbeda. Misal, beberapa orang mengalami stress tidak hanya karena karantina, tetapi juga terdampak oleh fenomena sosial ekonomi seperti potensi terkena PHK, masalah finansial, pekerjaan, maupun rencana masa depan yang hancur akibat pandemi.

 

 

Dilansir dari kompas.com, Asisten Direktur di Pusat Studi Stres Traumatis UNiformed Services University of the Health Sciences AS, Joshua Morganstein menyampaikan bahwa luapan emosi yang berujung masalah mental adalah fenomena yang wajar. “Belakangan banyak ketidapkastian, kondisi ini membuat orang sulit merencanakan masa depan dan membuat jengkel,” ujarnya. Gangguan kecemasan ini juga akan diperparah oleh orang-orang yang sebelumnya telah memiliki riwayat gangguan kecemasan, serangan panik, atau gangguan obsesif kompulsif.

 

Lalu bagaimana mengetahui bahwa pandemi telah berdampak pada potensi gangguan mental. Dilansir dari siloamhospital.com, berikut adalah tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan mental akibat pandemi: (1) perubahan pola tidur; (2) gangguan pola makan; (3) sulit berkonsentrasi; (4) penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan; (4) timbul rasa bosan dan stres; (5) memburuknya kesehatan fisik; (6) rasa takut berlebihan; dan (7) munculnya gangguan psikosomatik.

World Health Organization, sebuah organisasi kesehatan dunia PBB menyatakan bahwa ancaman kesehatan mental dapat dilihat sebagai masalah serius umat manusia. Oleh karena itu, WHO menyarankan masyarakat untuk memilah informasi seputar wabah sesuai kebutuhan. Paparan informasi pandemi virus corona yang berlebihan tetap menjadi alasan utama dan terpenting mengapa orang bisa cemas atau pun stress. Namun, Anda tetap perlu memperbarui informasi sesekali dari sumber kredibel untuk memantau perkembangan wabah penyakit ini. Selain itu, kesehatan mental akan sangat berhubungan dengan pertolongan orang terdekat untuk saling menguatkan dan tetap optimis dalam menghadapi pandemi COVID-19.