Pulau Sebira, pulau kecil yang terletak paling ujung di utara DKI Jakarta. Jaraknya sekitar 100 mil atau sekitar 160 km dari teluk Jakarta, jauh di tengah laut Jawa.

Posisinya terasing dari daratan Ibu Kota Jakarta, dikelilingi hamparan lautan biru.

Tetapi, Pulau Sebira nyatanya memiliki penduduk. Pemprov DKI Jakarta melalui situsnya pada 2017 lalu mencatat setidaknya terdapat 506 jiwa yang menjadi penghuni pulau ini.

Meski terpelosok, penduduk di sana setidaknya cukup beruntung mendapati kondisi laut yang jauh dari pencemaran lingkungan.

Lautan sudah menjadi tempat untuk mereka bisa bertahan hidup. Sebagian besar mata pencarian penduduknya adalah nelayan.

Dengan lautan yang bersih dan biru, hasil tangkapan melimpah bisa didapatkan.

Sebagian nelayan terbiasa menjual hasil tangkapannya ke wilayah Lampung karena jaraknya juga dekat ke pulau Sumatera.

Misalnya, jarak Pulau Sebira ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Gading Mas, Kabupaten Lampung Timur. Jika ditarik lurus dalam Google Maps, kedua tempat ini berjarak 45,37 mil atau sekitar 73 km.

Berita Jakarta melaporkan, pengusaha Sandiaga Uno ketika menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta pernah berkantor dalam kunjungan kerja di Pulau Sebira pada Juli 2018 lalu.

Sandi bersama rombongan menempuh perjalanan selama tiga jam menggunakan kapal dari Dermaga Marina Ancol, Jakarta Utara. Dia juga mencicipi barangko, makanan khas di sana yang berbahan baku pisang.

Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, Jakarta (Foto: klikhotel via Kataomed.com)

Barangko sebenarnya makanan tradisional masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan. Berhubung mayoritas penduduk Pulau Sebira adalah orang Bugis, maka Barangko menjadi makanan khas Pulau Sebira yang diberikan untuk menyambut kedatangan tamu.

Pulau Sebira sebenarnya tidak ditujukan sebagai tempat hunian. Dahulu, di pulau ini hanya terdapat menara Mercusuar dengan petugas penjaga.

Mercusuar ini sudah berusia lebih dari seabad, tegak berdiri sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Hal ini didasarkan pada tulisan yang termuat dalam prasasti di bagian bawah mercusuar tersebut.

“ONDER DE REGERING VAN Z.M. WILLEM III, KONING DER NEDERLANDER, ENZ., ENZ., ENZ., OPGERICHT VOOR DRAAILICHT, 1869.”

Artinya kurang lebih, “Di bawah pemerintah H.M. Willem III, Raja Belanda, dll, dll, dll, didirikan untuk lampu suar, 1869. Belanda sendiri menjuluki pulau ini sebagai Noord Wachter yang berarti penjaga utara.

Penduduk mulai menempati pulau ini sekitar tahun 1975. Hartuti, warga setempat, dalam wawancaranya kepada Merdeka.com mengatakan, penduduk awal pulau Sebira merupakan warga dari Pulau Genteng.

Kala itu, mereka diminta pemerintah Kepulauan Seribu untuk meninggalkan Pulau Genteng Besar pada 1975.

Mereka diberikan biaya ganti rugi untuk pindah ke Pulau Pemagaran. Namun warga lebih memilih pindah ke Pulau Kelapa Dua dan Pulau Sebira karena sudah sering singgah dan menangkap perikanan di perairan Sebira.

Penduduk awal pulau Sebira dari ‘eksodus’ itu berjumlah 22 orang dan terus bertambah seiring tahun berganti.

Salah satu masalah penduduk Sebira selama ini adalah layanan listrik dari PLN. Dikutip dari Mongabay, warga hanya menikmati listrik selama 15 jam tiap harinya. Sumber listrik ini berasal dari PLTS bantuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PLTD.

Baca juga: Fleets, Fitur Baru Twitter yang Disambut Geger Pengguna Indonesia, Benarkah Demikian

Kendala itu berakhir pada 2019. Warga akhirnya bisa mendapatkan akses listrik selama 24 jam setelah mendapat tambahan satu PLTD berkekuatan 125 KWh dan dua unit PLTS.

Namun, dua PLTS di sana dilaporkan tidak berfungsi maksimal. Pemerintah Kepulauan Seribu pun tengah mematangkan rencana pembangunan PLTS di Pulau Sebira untuk melengkapi kebutuhan energi listrik.

PLTS dibangun pada lahan milik Pemda dengan luas sekitar 4.900 meter persegi di sisi timur Pulau Sebira.

WISATA DAN TARIF

Pulau Sebira bisa menjadi salah satu destinasi wisata. Selain terdapat mercusuar yang bersejarah, pelancong bisa menikmati aktivitas memancing dan snorkling.

Mengutip situs jakarta-tourism.go.id, untuk menuju Pulau Sebira, terdapat dua titik keberangkatan dari Jakarta

1. Dermaga Marina, Ancol

Wisatawan bisa berangkat menggunaka speed boat dari Dermaga Marina. Waktu tempuh kurang lebih 3-6 jam perjalanan.

Waktu operasional kapal pukul 07.00-16.00 WIB.

Tarif berkisar Rp100.000 sampai Rp300.000.

2. Muara Angke

Jika ingin ongkos lebih murah, wisatawan bisa berangkat dari Muara Angke menggunakan kapal dari Dinas Perhubungan (Dishub).

Waktu tempuh sekitar 3 sampai 6 jam perjalanandan kurang lebih memakan waktu 3 hingga 6 jam perjalanan.

Waktu operasional kapal setiap hari pukul 09.00 WIB, 10.00 WIB dan 13.00 WIB.

Baca juga: RUU Larangan Minuman Beralkohol: Minimnya Data dan Kegagalan Amerika