Saat Donald Trump memenangkan pemilihan Presiden AS 2016 silam, banyak orang terkejut atas kenyataan tersebut. Mereka dipimpin seseorang yang kontoversial.

Sejak hari pertama pencalonannya, Trump diremehkan karena salah satunya ucapan dia tentang imigran Meksiko sebagai pemerkosa (rapist).

Trump sendiri kerap menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang kontroversi. Misalnya, cuitannya pada Januari 2018 yang menggegerkan dunia dengan mengatakan ia mempunyai tombol nuklir yang lebih besar dari Korea Utara menanggapi statement Kim Jong Un.

Tetapi, Trump hanyalah satu dari sekian politisi di dunia ini dengan sikap nyentrik, kontroversi dan di luar dugaan. Sebelum ia terpilih sebagai Presiden AS, contoh kecil dari politik yang tidak biasa itu pernah terjadi di Inggris.

Tepatnya di Nottingham. Ada partai politik bernama Bus Pass Elvis Party atau dikenal dengan nama lain Church of the Militant Elvis Party (CMEP) yang berdiri pada 2001.

Dari namanya, kemunculan partai ini bisa ditebak karena menginsipirasi sang Rock N Roll, Elvis Presley, yang populer pada era 1950-70’an. Ketuanya adalah seniman bernama David Laurence Bishop.

Jika melihat lebih jauh, penokohan Elvis Presley semata tampak sebagai simbol perlawanan. CMEP lebih menyuarakan perlawanan untuk kaum kanan negeri itu.

Dalam websitenya, CMEP dituliskan lahir untuk menggulingkan negara kapitalis korporat yang mengubah Elvis dari pria dengan bakat luar biasa menjadi lelucon media yang rakus.

“Church of the Militant Elvis Party adalah partai semi-religius yang percaya bahwa Elvis masih hidup dan tinggal di rumah tua di Lincolnshire antara Skegness dan Mablethorpe,” tulis partai ini dalam konstitusinya.

Meski terkesan dagelan, CMEP nyatanya diakui sebagai partai politik yang sudah teregister di Electoral Commission. Partai ini bukan gerakan satir seperti Nurhadi-Dildo yang muncul sebagai selingan di Pilpres RI 2019.

Dalam konstitusi 2010, tujuan CMEP adalah penyeimbang pengaruh sayap kanan dalam partai-partai besar di Inggris. Yang tidak kalah heboh adalah CMEP memandang keterlibatan gereja besar dalam pasar global adalah kontradiksi lain dari ajaran Yesus.

Kejutan pun datang saat pemilu dewan kota Nottingham 2014 silam. Sang ketua David Bishop berhasil mengungguli kandidat Partai Liberal Demokrat (Lib Dem) dalam perolehan suara di Clifton North, Nottingham. David Bishop memperoleh 67 suara sedangkan kandidat Lib Dem, Tony Marshall, hanya mendapatkan 56 suara.

Ketua CMEP David Bishop. (Foto: YouTube/The Lincolnite)

Juru bicara Lib Dem seperti dikutip dari BBC mengaku pihaknya begitu terguncang dengan hasilnya. Sedangkan pimpinan Lib Dem, Nick Clegg, menyampaikan pendapat yang lebih serius bahwa hal baru tersebut mendorong partainya untuk bersaing melawan Bus Pass Elvis Party.

Lucunya, David Bishop sendiri juga sama kagetnya saat mengetahui namanya unggul dari Tony Marshall. Ia menduga kekalahan Lib Dems disebabkan karena partai itu tidak terlalu populer di Clifton North.

Setelah terpilih, sebagai bagian dari manifestonya, David Bishop berjanji untuk memperketat undang-undang tentang kepemilikan senjata tangan dan melegalkan rumah bordil dengan diskon 30% untuk pensiunan tua (OAP).

Selain Bus Pass Elvis Party atau CMEP, Inggris juga dipenuhi beberapa partai kecil nyentrik lain seperti Dungeons Death and Taxes Party.

Partai ini memperkenalkan kembali hukuman gantung untuk pelanggaran kecil seperti menulis grafiti dan membuang sampah sembarangan. Ada juga janji untuk menduduki dan mencaplok wilayah Prancis dan mematok tarif pajak sebesar 90%.

Ide yang terdengar gila dan tidak masuk akal. Tetapi, Dungeons Death and Taxes Party pernah mengikuti dua pemilihan.

Pertama pemilihan 2005 di Edinburgh Timur. Brett Haris yang kandidat partai ini berhasil mendapatkan 89 suara. Kandidat lainnya, Damien Fleck, berhasil mengantongi 93 suara di City of York, unggul dari kandidat independen.

Mereka memang tidak menang, tetapi eksistensi partai kecil dalam keikutsertaan pemilu sudah cukup merepresentasi kualitas dan bagaimana pandangan warga untuk pilihan politik mereka.

Faktor Psikologis lebih utama dari proses Demokrasi

Kontroversi dalam kehidupan politik mempunyai beberapa kriteria, biasanya rakyat sering menggunakan term-term khusus kepada pemimpin mereka: nyentrik, plin-plan, pembohong, tidak konsisten sampai idiot. Anggapan seperti itu umum terjadi di belahan dunia, entah di Indonesia atau di Barat sebagai konsekuensi negara demokrasi.

Selalu saja ada yang buruk dari keputusan seorang pemimpin. Barangkali ini juga berlaku di rakyat yang memberikan pilihan tidak terduga saat pemilu.

Salah satu tulisan menarik dari Doktor neurosciences Dean Burnett bisa mendekatkan alasan kontroversi di politik. Kontroversi bisa terjadi karena ada proses demokrasi dan psikologis yang beroperasi secara bersamaan.

Penjabaran lebih lanjut dituangkannya dalam artikel yang dimuat di The Guardian pada 2015 dengan judul “Democracy v Psychology: why people keep electing idiots.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang dapat menjadi populer berkat ukuran kepercayaan diri mereka. Kepercayaan diri adalah proses psikologis. Seberapa hebat pun ideologi dan pandangan politik kandidat, ini bisa tenggelam jika ia tidak tampil meyakinkan.

Hal ini telah dibuktikan dalam banyak penelitian. “Banyak studi berfokus pada pengaturan ruang sidang dan menyebut bahwa saksi yang percaya diri lebih meyakinkan bagi juri, daripada saksi yang gugup atau ragu-ragu,” tulis Dean Burnett.

Fenomena kepercayaan diri ini sudah lama dieksploitasi oleh penjual mobil bekas dan agen perumahan selama beberapa dekade. Dean Burnett menilai para politisi menyadari kerja proses psikologis ini untuk mendongkrak popularitas. Jika saja mereka tampil dengan tidak percaya diri, maka konsekuensinya, mereka mudah dihancurkan oleh media.

Faktor kedua adalah kedekatan atau menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Sudah rahasia umum jika kebanyakan politisi cum pengusaha kerap membuat dirinya terlihat merakyat untuk menarik simpatik masyarakat.

Di Indonesia, calon Kepala Daerah bisa tiba-tiba mendadak religius ketika berkampanye. Sementara di AS, George W Bush sering dicitrakan sebagai orang yang mudah diajak minum bir bersama orang lain, sesuatu yang menyenangkan bagi orang Amerika. Tetapi, keputusan invasi AS ke Irak tidak mungkin dihentikan hanya dengan duduk minum bir bersama.

Faktor ketiga adalah mayoritas orang rentan terhadap berbagai bias bawah sadar, prasangka, stereotip, dan kecenderungan untuk lebih memilih “kelompok” mereka sendiri.

Stereotip ini barangkali lebih menguntungkan bagi David Bishop dan kandidat dari partai kecil lainnya. Alasan ini juga menguntungkan bagi keterpilihan Donald Trump yang berhasil menakuti warganya terhadap ancaman imigran di negara Amerika.

Presiden AS Donald Trump
Presiden AS Donald Trump. (Foto: Instagram/realdonaldtrump)

Tidak ada penjelasan logis mengenai subjektivitas semacam ini, tetapi efeknya dapat dilihat pada kemenangan Trump pada 2016 lalu. Ia percaya diri dengan ucapan kontroversinya.

Meski pada Pilpres AS tahun ini Trump kalah dari Joe Biden, ia tidak lantas gagal dalam segalanya.

Ia berhasil memenangkan perolehan suara di kalangan umat Katolik menurut survey VoteCast yang dihimpun Association Press. Secara persentase, 50% umat Katolik mendukung Trump yang bukan seorang Katolik sementara sang lawan Joe Biden yang merupakan penganut Katolik mendapat dukungan 49%.

David Gibson, Direktur Cener Religion and Culture dari Fordham University menilai perolehan tersebut menunjukkan adanya keterbelahan suara umat Katolik yang diduga akibat ‘sterotip’ anti-imigran yang dikampanyekan Partai Republik yang mengusung Donald Trump.

Umat Katolik di AS dapat dikelompokkan antara mereka yang berkulit putih dan Hispanik yang merupakan imigran dari negara-negara berbahasa Spanyol.

Retorik imigran itu dianggap telah memicu ketakutan umat Katolik kulit putih tentang keberadaan imigran. Sebanyak 57% Katolik kulit putih mendukung Trump, sementara Biden hanya 42% dukungan.

Stereotip dan isu ras-etnis bisa mengalahkan faktor teologis.

Bagaimanapun, saat pemilihan selesai, faktor-faktor proses psikologis mungkin dilupakan karena tujuan kemenangan sudah tercapai. Selanjutnya, pemimpin terpilih akan terlihat berbeda dari sebelumnya demi mencapai ambisi memenuhi tujuan politiknya yang barangkali berbeda dari janjinya di kampanye.

Jika setelah itu rakyat tidak puas dan menuding pemimpinnya dengan label seperti idiot atau pura-pura bodoh, Dean Burnett mengingatkan bahwa tidak semua politisi idiot.

Kemampuan intelektual melibatkan berbagai macam faktor ideologis, budaya, sosial, sejarah, keuangan, dan lain-lain. Sehingga cakupan untuk mengukur intelektualitas pemimpin akan sangat sulit terdefinisi.

Pada akhirnya, segala tindak-tanduk pemimpin yang kontroversi dapat terkesan benar bila ia tampil meyakinkan dengan percaya diri.