Kim Kardashian, selebritis kenamaan dunia, menuliskan pernyataan serius untuk diperhatikan para pengikutnya di platform Twitter. Cuitan itu adalah upaya terakhir yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa seorang pria bernama Brandon Bernard.

“Brandon Bernard tidak seharusnya dieksekusi,” tulis Kim Kardashian, Kamis (10/12/2020), sambil menyertakan 5 pembelaan, satu di antaranya Bernard saat kejadian berusia 18 tahun.

Namun, harapannya sirna. Kurang dari sehari setelah Kim mengunggahnya, Bernard dikabarkan menghembuskan napas terakhir karena menerima suntikan mati di penjara Terre Haute, Indiana.

Pemerintah federal mengeksekusi Bernard di usia 40 tahun atas keterlibatannya dalam pembunuhan kejam pasangan Stacie dan Todd Bagley pada 1999 silam. Kematian Bernard menyita perhatian masyarakat Amerika, juga menjadi pembahasan warganet Indonesia.

Sejumlah media massa Amerika Serikat mengangkatnya sebagai headline, mengulas kembali apa yang sebenarnya terjadi dalam kejadian tersebut dan proses peradilan yang dilaluinya.

CNN melaporkan, Bernard bersama lima anggota geng lainnya dinilai terlibat dalam pembunuhan Stacie dan Todd Bagley. Bernard dijatuhi hukuman mati bersama Christopher Vialva yang telah diekseskusi sebelumnya. Pelaku lainnya mendapat hukuman penjara, tidak hukuman mati, karena saat kejadian mereka berusia di bawah 18 tahun.

Baca juga: Kolom Kosong Naik di Pilkada 2020, Regulasi Perlu Digodok Ulang

“Saya meminta maaf… Saya berharap bisa mengembalikan semuanya, tetapi saya tidak bisa,” kata Bernard kepada keluarga Bagley jelang eksekusi. “Hanya ini kata-kata yang bisa saya ucapkan yang menggambarkan perasaan saya pada hari ini dan waktu itu.”

Kim Kardashian adalah satu dari sekian orang yang mengupayakan eksekusi mati Bernard dihentikan. Tim pengacara Bernard telah mengajukan petisi penundaan eksekusi ke Mahkamah Agung, namun ditolak.

Robert Owens, pengacara Bernard, adalah orang yang gigih memperjuangkan keadilan kepada kliennya. Ia berusaha mendatangkan bukti baru yang sebelumnya tidak disajikan pada persidangan Bernard di tahun 2000 demi membatalkan hukuman mati itu.

Pembelaan lain yang mengemuka adalah Bernard dinilai tidak memiliki peran sentral di dalam geng. Ia bukan pula anggota penuh di geng tersebut.

Baca juga: Dinasti Politik Bangkit dan Tenggelam di Pilkada Serentak 2020

Perkara eksekusi mati ini sampai ke Gedung Putih. Pendeta Jesse L Jackson yang juga aktivis hak asasi manusia telah meminta Presiden Donald Trump untuk meringankan hukuman dan mengampuni semua narapidana yang akan dieksekusi. Kim Kardashian, yang saat ini tengah menempuh studi pengacara di California, juga dikabarkan sempat menyampaikannya kepada Trump

Menurut informasi yang dihimpun CNN, Trump disebut telah mendengar rencana eksekusi tersebut, terlebih gaungnya disuarakan sejumlah aktivis dan selebritis, Namun hal itu tidak terlalu mempengaruhinya untuk campur tangan dan menyerahkan proses hukum berlanjut.

Keluarga Bagley telah mengetahui kabar kematian Bernard. Perasaan itu berkecamuk setelah eksekusi itu, mengakhiri penantian 21 tahun setelah kematian Stacie dan Todd Bagley.

“Saya berdoa agar Brandon menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya, karena jika dia menerimanya, Todd dan Stacie akan menyambutnya di dalam surga dengan cinta dan pengampunan,” tulis Charles Woodard sebagai perwakilan keluarga Bagley.

Georgia Bagley, ibu Todd, yang mendengar permintaan maaf Bernard dan Vialva setelah eksekusi menjadi sangat emosional. Penyesalan dan permintaan maaf keduanya, kata Georgia, membantu menyembuhkan hatinya.

Brandon Bernard
Brandon Bernard. (Foto: UPI.com)

Baca juga: Riuh Suporter Bola Menandai Momen Bersejarah Inggris Keluar dari Pandemi Covid-19

Ia mengingat kembali momen-momen kematian anaknya yang juga memohon kepada pelaku untuk diberikan kesempatan hidup. Georgia mengatakan, pelaku bisa menghentikan pembunuhan tersebut.

Stacie dan Todd Bagley mendapat perampokan dari Bernard dan teman-temannya di Texas. Saat kejadian, keduanya dipaksa terbaring di bagasi belakang mobil mereka, sebelum ditembak oleh Vialva. Bernard kemudian menyalakan mobil sebelum kendaraan itu dibakar.

Vialva yang saat kejadian berusia 19 tahun dianggap memiliki superioritas dalam geng itu. Bernard berada dalam posisi sulit. Pengacaranya mengatakan, Bernard merasa takut jika menolak mengikuti perintah Vialva.

Perkembangan lebih lanjut, tim pengacara menyebut bahwa korban kemungkinan telah tewas sebelum mobil dibakar. Mereka merujuk temuan penyelidik independen yang mengatakan Stacie telah “meninggal secara medis” sebelum kebakaran.

Angela Moore, jaksa penuntut saat Bernard dimajukan ke hadapan pengadilan Waco, Texas, pada tahun 2000 lalu. Dalam opini yang ditulisnya di Indianapolis Star pada 18 November 2020, Moore mengaku terkejut atas rencana eksekusi terhadap Bernard.

Ia tidak seharusnya dihukum mati, inilah pengamatan Moore. Ia memang tidak banyak terlibat dalam proses peradilan Bernard karena berpindah ke San Antonio, lalu meniti karir sebagai profesional di kantor hukum.

Di masa itulah, Moore bergumul banyak untuk mengenal kehidupan remaja yang sering berhadapan di peradilan pidana.

Banyak dari remaja ini berada di tempat yang salah atau dengan orang yang salah, seperti Brandon. Kadang-kadang, remaja seperti Brandon tidak mengantisipasi munculnya kejahatan sampai keadaan menjauhkan mereka dari sana.”

“Pengalaman saya bersama remaja yang telah melakukan kejahatan disertai kekerasan, terutama remaja laki-laki dari kulit berwarna, telah mengajarkan saya banyak hal tentang kenekatan dan kerapuhan remaja, serta kemampuan mereka untuk menjadi dewasa dan berubah,” kata Moore.

Ia berkeyakinan atas kemajuan sains yang menyebut otak anak muda secara fisik masih belum matang di usia 18 tahun. Struktur otak, katanya, berkembang dalam masa muda sampai mereka berusia 25-26 tahun.

“Saya telah belajar banyak sejak tahun 2000 tentang proses pematangan otak manusia, dan setelah melihat Brandon tumbuh menjadi orang dewasa yang rendah hati dan penuh penyesalan, ia sepenuhnya mampu hidup dengan damai di penjara,” lanjut Moore.

Keputusan untuk memulai eksekusi mati selama masa pandemi menjadi pembahasan di masa pandemi Covid-19. Terlebih, Donald Trump berada dalam periode transisi pemerintahan ke Presiden terpilih Joe Biden.

BBC melaporkan, ada empat eksekusi lagi sebelum akhir masa kepresidenan Donald Trump. Sejak Juli 2020, pemerintah federal telah menjadwalkan total 13 eksekusi sebelum pelantikan Biden pada 20 Januari 2021.

Baca juga: Dua Menteri Jokowi Terjerat Korupsi: Perlunya Pembaruan Sistem, Bukan Hukuman Mati