FC Barcelona mendapatkan sejarah buruk di pentas sepakbola setelah kalah telak 2-8 dari Bayern Munchen dalam pertandingan perempatfinal Liga Champions di Lisbon, Portugal, Sabtu (15/8/2020) waktu Indonesia.

Mimpi mereka kandas untuk bisa mengangkat trofi Liga Champions musim 2019/20. Torehan buruk juga dicatatkan Barcelona pada musim ini dengan hanya finish di posisi dua klasemen La Liga.

Tahun yang tidak menggembirakan penggemar Barcelona.

Bagi penikmat sepakbola ataupun tidak, kita sama-sama tahu bahwa Barcelona adalah klub sepakbola terbesar yang pernah ada di jagat bumi sejak 12 tahun terakhir.

Sepanjang sejarah berdirinya tim, mereka sudah 26 kali memegang title La Liga dan membawa pulang total 5 trofi Liga Champions sepanjang keikutsertaan mereka di sana.

Komposisi skuad diisi pemain dengan kualitas cetar mentereng mulai Lionel Messi di baris serangan hingga Pique di daerah pertahanan.

Adanya Messi sebagai mesin gol membuat klub ini terlihat sangat digdaya baik dari nilai brand mencapai 1,413 miliar Euro menurut laporan Brand Finance maupun di atas rumput hijau dengan kemenangan di tiap laga.

Sulit menemukan kelemahan Barcelona. Melihat fakta-fakta yang ada, nyaris tidak ada alasan untuk menjatuhkan nama baik klub berjuluk Blaugrana ini.

Namun, kekalahan 2-8 pada dini hari tadi memutarbalikkan semuanya. Kritik besar justru datang dari internal mereka.

Sang bek Gerard Pique dalam wawancara usai laga mengatakan Barcelona harus melakukan perubahan besar.

Dia secara mengejutkan mengaku siap pindah klub jika diperlukan untuk membenahi kondisi tim.

Sebagai pemain senior, pernyataan Pique ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Pelatih Quique Setien pun meminta manajemen Barcelona harus memikirkan ucapan Pique tersebut.

Pique tampaknya sangat geram dan emosional dalam komentarnya sehingga penulis merasa perlu menanggapi beberapa hal kepada pembaca sekalian.

Pertama, isu kepindahan pemain sepakbola dari sebuah tim merupakan masalah kompleks bagi kedua pihak, terutama jika sang pemain merupakan pemain kunci dengan kontribusi luar biasa.

Barcelona tentunya akan mati-matian membujuk Pique untuk tetap bertahan dengan cara apapun.

Kedua, apa maksud Bung Pique mengatakan Barcelona harus melakukan perubahan besar? Anda adalah pemain dari klub terbesar di dunia. Harus sebesar apalagi Barcelona dibentuk?

Tidak elok melontarkan pernyataan-pernyataan sensitif di tengah suasana duka saat ini. Bung Pique mestinya sadar posisinya sebagai tokoh publik dengan 18 juta followers di Instagram punya pengaruh besar.

Apa Bung Pique sudah memikirkan konsekuensi ke depan bila pecinta sepakbola juga ikut menuntut hal serupa kepada manajemen Barcelona?

Mengkritik boleh, tetapi harus disertai solusi. Tidak dengan cara-cara mengancam atau playing victim padahal tujuan sebenarnya adalah menekan Presiden Josep Maria Bartomeu.

Terlepas dari pernyataan Pique tadi, kekalahan Barcelona atas Bayern Munchen merupakan pelajaran berharga untuk semuanya, termasuk Indonesia yang berusaha menggolkan RUU Cipta Kerja Omnibus Law.

Barcelona dan Indonesia memang berbeda dalam hal kedaulatan. Barcelona berdaulat sebagai klub besar sepakbola sementara Indonesia berdaulat sebagai negara berkembang.

Akan tetapi, kesamaan keduanya adalah sama-sama tidak punya lawan seimbang.

Barcelona hanya bermain serius ketika bertemu Real Madrid. Ketika berhadapan dengan lawan lain, mereka lebih bermain lepas atau santai. Mereka merasa yakin Messi akan menyelesaikan semuanya.

1. Kesadaran untuk evaluasi mandiri

Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo pun terlihat seperti Barcelona. Pakde Jokowi tidak mendapat lawan seimbang sejak Pemilu 2019 lalu karena minimnya partai oposisi di parlemen.

Kekuatan politik dibangun dengan merangkul partai-partai besar, bahkan memasukkan Gerindra yang menjadi lawan Jokowi saat Pilpres 2019 ke dalam susunan kabinet.

Roda pemerintahan berjalan stabil tanpa banyak gejolak dari partai oposisi. Buktinya, RUU Cipta Kerja Omnibus Law yang baru diwacanakan tahun lalu bisa masuk mulus ke Prolegnas DPR RI tahun ini.

Tolak RUU Cipta Kerja Omnibus Law
Demo tolak RUU Cipta Kerja Omnibus Law. (Sumber: AyoJakarta.com)

Pengesahan RUU Cipta Kerja Omnibus Law sama pentingnya seperti Barcelona yang bermimpi dapat menyabet trofi Liga Champions pada musim ini.

Barcelona punya kepercayaan diri dengan memamerkan komposisi pemain dan statistik pertandingan yang ada.

Namun, yang terjadi sebaliknya. Barca gugur dengan hasil memalukan.

Menyimak apa yang disampaikan Bung Pique tadi, evaluasi internal menjadi kunci untuk memperkuat kerja kabinet Indonesia Maju.

Orang kepercayaan Pakde yang setia selama bertahun-tahun mungkin saja akan pindah haluan atau menjadi kutu loncat yang mengkritik balik Pakde karena selama ini tidak puas dengan RUU Cipta Kerja Omnibus Law.

Siapakah mereka? Ya, hanya Pakde Jokowi yang tahu. Makanya, evaluasi internal penting dilakukan.

2. Hal memalukan itu bisa datang tanpa terduga-duga

Para penggemar Barcelona tidak menyangka langkah klub kesayangan mereka di Liga Champions pupus di babak perempatfinal.

Sebelum pertandingan, mereka mungkin sudah mengukur data statistik dan peluang lain dan berpikir Barcelona dapat menumbangkan Munchen.

Perkiraan itu ternyata meleset. Yang lebih meleset jauh adalah Barcelona kalah dengan skor telak 2-8.

Pengamat sepakbola profesional sekalipun terheran-heran. Adalah hal mustahil memprediksi Barcelona dapat dibobol 8 kali! Barca terakhir kali kemasukan 8 gol saat melawan Sevilla pada 1946 di Copa Del Rey.

Media pun ramai-ramai menyebut pertandingan dini hari tadi merupakan laga memalukan Barcelona.

Seperti itu juga politik. Dalam keterbatasan waktu, selalu ada hal-hal di luar prediksi dan dugaan.

Berbagai pendapat mengatakan RUU Cipta Kerja diprediksi kuat akan membuka banyak lapangan kerja kepada masyarakat.

Tetapi, jangan abaikan pendapat orang-orang yang berseberangan dengan RUU Cipta Kerja terutama soal Ketenagakerjaan.

Sebab bisa jadi klaim tersedianya lapangan kerja berkat RUU Cipta Kerja akan meleset ketika sudah disahkan–mudah-mudahan tidak sampai meleset jauh.

Memang tidak seorangpun bisa memprediksi tepat apa yang akan terjadi ke depan.

Tetapi itu lho Pakde, netizen dan media kalau menyimpulkan sesuatu hal pasti memakai bahasa-bahasa yang sangat pedas.

3. Jangan anggap remeh

Minimnya oposisi di parlemen tidak lantas membuat pengesahan RUU Cipta Kerja dapat berjalan mulus.

Media Kompas.com melaporkan bahwa Airlangga yakin RUU Cipta Kerja disahkan pada masa sidang tahun ini.

Civil society dari pelbagai kelompok buruh, politik, dan akademisi membentuk aliansi untuk menjegal pengesahan RUU Cipta Kerja yang dianggap merugikan buruh.

Memang kewenangan dan jaringan mereka di parlemen terbatas. Tetapi, ritme yang mereka pakai perlu dicermati. Orang-orang yang menolak RUU ini juga bukan pemain baru. Jikapun ada pemain baru, skillnya setara dengan Mbappe ketika direkrut PSG.

Mereka bekerja di darat, udara dan pikiran khalayak. Buktinya, sejumlah influencer yang mengampanyekan tagar #IndonesiaButuhKerja angkat tangan, keok, setelah dikritik di media sosial karena dituduh mendukung RUU Cipta Kerja Omnibus Law. Mereka akhirnya menghapus unggahan mereka dan meminta maaf. Hebat, bukan?

Taktik aliansi dalam melawan RUU Cipta Kerja Omnibus Law mirip-mirip Bayern Munchen.

Pemain Munchen Kingsley Coman mengutarakan bahwa mereka terus menekan, menahan serangan Barcelona dan membuat banyak ritme selama jalannya pertandingan.

Aliansi tahu bahwa mereka menghadapi lawan serius sehingga menerapkan gaya klasik dengan menyerang pemerintah sebagai ritme utama.

Mereka memainkan tagar bernada penolakan RUU Cipta Kerja sampai menempati kolom trending topic di Twitter dan mengisi paltform lainnya. Tujuannya untuk mempengaruhi warganet yang sangat banyak memakai media sosial sebagai sumber informasi. Tidak mudah untuk memandang mereka dengan sebelah mata.

Bisa jadi mereka akan meniru Bayern Munchen yang tanpa ampun mempermalukan Barcelona dalam sejarah sepakbola modern.

Bayern Munchen sebenarnya sudah cukup mengantongi skor 4-2 untuk memenangkan pertandingan dengan memimpin skor 4-2. Sebab, Barcelona sudah tidak mampu melakukan serangan berarti ke pertahanan Munchen di babak kedua.

Tapi sebaliknya Neuer dkk justru semakin brutal terhadap Barcelona. Coutinho yang notabene pernah membela Barcelona malah ikut terlibat untuk membungkam bekas klubnya dengan melesatkan dua gol di 5 menit terakhir babak kedua.

Apa hubungannya dengan oposisi RUU Cipta Kerja? Mereka mungkin tidak akan berhenti pada satu tujuan. Tentu, berbagai kemungkinan lain akan mereka ciptakan selagi ada kesempatan, memanfaatkan kelengahan pemerintah.

Kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi kelak. Tetapi semoga saja tidak ada yang harus dipermalukan di tengah suasana pandemi Corona yang masih menggentayangi Indonesia.