Pengembangan vaksin Covid-19 membuka harapan baru untuk mengakhiri pandemi Covid-19 yang telah merajalela mengguncang dunia selama hampir satu tahun terakhir.

AstraZeneca dan Oxford pada Senin (23/11/2020) mengumumkan kandidat vaksin mereka telah mencapai efektivitas rata-rata 70 persen yang artinya ampuh untuk mencegah Covid-19. Laporan AstraZeneca kemudian disusul pengumuman keberhasilan dari vaksin Rusia Sputnik V. Sebelumnya, Pfizer/BioNTech dan Moderna juga melaporkan kemanjuran vaksin mereka sekitar 95 persen.

Secara umum adanya vaksin dianggap bisa mencegah virus masuk ke tubuh manusia dengan kekebalan tubuh. Ahli Virus Prof Dr dr Nasronudin SpPD K-PTI FINASIM sebagaimana dikutuip dari DetikNews menerangkan bahwa vaksin berfungsi untuk merangsang sel tubuh manusia dan mencegah SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 kepada manusia. Andaipun menginfeksi, masih dapat dicegah kekebalan tubuh dan tidak berakhir menjadi penyakit berat.

Baca juga: Kandidat Vaksin Covid-19 AstraZeneca Dianggap Cocok untuk Indonesia

Meski pengembangan vaksin sudah menunjukkan peningkatan baik, pada kenyataannya, masyarakat dunia sekarang masih hidup dalam masa pandemi Covid-19. Pandemi tidak hanya menjadi momok kepada mereka yang terinfeksi. Orang sehat sekalipun bisa terserang isu-isu seputar kesehatan mental.

Secara bersamaan, pandemi juga menyerang isi kantong pendapatan yang menyebabkan masalah keuangan bagi pekerja terkena PHK. Indonesia sudah masuk jurang resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 minus 3,49 persen.

Masalah perekonomian sebenarnya sudah dipikirkan pemerintah dengan meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional melalui PP 23/2020.

Namun, keberhasilan PEN sangat tergantung dari penurunan kasus. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati juga menyinggung keberadaan vaksin berhubungan pula dengan pemulihan ekonomi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Baca juga: American Music Awards 2020: Cerita di Balik Wajah Lebam The Weeknd

“Akses vaksin menjadi penting, karena tidak akan ada pemulihan ekonomi di seluruh dunia sampai seluruh negara mendapatkan akses vaksin tersebut,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers usai menghadiri KTT G20, dikutip dari Kompas.com Minggu (22/11/2020).

Ketika vaksin nanti tersedia, pertanyaan selanjutnya yang mesti dituntaskan adalah bagaimana cara mendistribusikannya dan usia mana yang akan diselamatkan terlebih dahulu.

Ada aturan berbeda dalam distribusi vaksin di tiap negara. Di Indonesia, uji klinis vaksin diberikan kepada kelompok usia 18-59. Pemerintah juga telah menetapkan enam kelompok prioritas penerima vaksin di akhir 2020 hingga tahun 2021.

Penerima prioritas pertama adalah tenaga medis, paramedis contact tracing, TNI, Polri, dan aparat hukum lainnya yang mencapai 3,4 juta orang. Kemudian, kelompok kedua adalah masyarakat, tokoh agama, daerah, kecamatan, dan RT/RW sebanyak 5,6 juta orang.

Baca juga: Hikmah Pandemi Covid-19, Ini Daftar Skills Kerja yang Bisa Dikembangkan di Rumah

Sementara itu, pemerintah membuka kemungkinan untuk melakukan vaksinasi di wilayah dengan zona merah menunggu hasil rembuk bersama kepala daerah yang akan diumumkan besok.

Di Inggris, Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi mempertimbangkan orang berusia di atas 50 tahun, petugas kesehatan, dan orang yang diinkubasi untuk mencegah kematian akibat Covid-19.

Pertimbangan atas vaksin ini turut ditelaah jurnalis Reuters Aimee Donnellan. Dalam artikelnya yang ditayangkan Selasa (24/11/2020), dia menggambarkan bahwa penyelamatan orang dari pandemi bukan seperti menyelamatkan orang dari kapal tenggelam di mana wanita dan anak-anak harus diselamatkan.

Melihat dari aturan di Inggris, dia menyebut warga lanjut usia ternyata memiliki harapan tinggi untuk segera mendapatkan suntikan vaksin. Dengan kata lain, orang lebih muda harus menunggu lebih lama. Dari kondisi ini, investor yang mengandalkan pemulihan cepat mungkin bakal kecewa.

Masalah lain muncul dari kelompok skeptis. Hal ini terjadi di Amerika Serikat. Aimee mengutip data Axios dan Ipsos menyebutkan hanya 40 persen orang Amerika mengatakan akan mendaftar untuk vaksin gelombang pertama. Jikapun mereka mau, orang muda dan sehat kemungkinan harus menunggu hingga 2022 untuk divaksinasi.

Mencegah lebih baik

Indonesia boleh dikatakan cukup dinamis dalam menanggapi pandemi. Ke depan, ada pelaksanaan Pilkada serentak pada Desember nanti dan libur akhir tahun yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

Libur panjang akhir tahun ini pun sedang dievaluasi, sebagaimana disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Prof Wiku Adisasmito, Selasa (24/11/2020).

Berkaca dari libur panjang Idul Fitri 22-25 Mei 2020, dari data yang disampaikannya, terjadi peningkatan kasus positif sebesar 69 sampai 93 persen pada 28 Juni 2020.

Evaluasi kedua, yaitu libur panjang HUT RI dari 17 Agsutus, dilanjutkan libur 20-23 Agustus 2020, telah berkontribusi pada peningkatan kasus positif sebesar 58 sampai 118 persen pada pekan 1 sampai 3 September 2020.

Dan libur panjang akhir Oktober dan awal November telah berdampak pada peningkatan kasus positif sebesar 17 sampai 22 persen pada 8 sampai 22 November 2020.

Mengapa terjadi peningkatan di waktu liburan? Wiku menjelaskan, dari hasil evaluasi, kenaikan itu disebabkan penularan akibat kurang disiplinnya masyarakat melaksanakan protokol kesehatan, terutama untuk menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Baca juga: Hikmah Pandemi Covid-19, Ini Daftar Skills Kerja yang Bisa Dikembangkan di Rumah

Data terbaru yang ditampilkan situs Satgas, Rabu (25/11/2020) memperlihatkan DKI Jakarta sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 127,164 kasus, disusul Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Ini belum laporan terbaru dari kasus kerumunan massa dalam momentum penyambutan Habib Rizieq Shihab di mana puluhan ribu orang berkumpul di Petamburan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan sempat diminta klarifikasi oleh pihak Kepolisian atas terjadinya kerumunan tersebut.

Sementara untuk pelaksanaan Pilkada 2020 pada 9 Desember nanti juga menimbulkan getar-getir. Ketua Bawaslu, Abhan melaporkan selama masa kampanye tercatat ada 1.763 pelanggaran protokol kesehatan. Bila berkaca pada pengalaman Pemilu sebelumnya, setiap selesai pencoblosan selalu ada perkumpulan dari pendukung masing-masing pasangan calon.

Pada akhirnya, euforia terhadap perkembangan vaksin harus dihadapi secara bijaksana. Jangan kendor mematuhi 3 M: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Sebab mencegah lebih baik daripada mengobati.