Permintaan maaf sejatinya ungkapan privat manakala seseorang mengaku telah melakukan kesalahan. Ucapan maaf mampu memberikan susana intim kepada orang-orang yang terlibat di dalam perkara yang menghubungkan mereka.

Hakikatnya manusia tidak sempurna. Semua orang tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, kealpaan, kelalaian atau dosa berat menurut ajaran dan keyakinan masing-masing.

Terkadang, si pemaaf tersebut mendapat pengampunan, namun tidak jarang ia harus menerima kenyataan bahwa ungkapan lubuk hatinya tidak memperoleh balasan atau diabaikan. Pahit-pahitnya, pihak lain yang mengetahui itu mulai mengambil peluang dari kesalahan orang tersebut, terlebih masalah tersebut telah menjadi perbincangan luas di media sosial.

Baca juga: Pentingnya Dukungan terhadap kesehatan mental karyawan: Employee Assisstance Program

Ini yang mendera perusahaan pakaian dan peralatan rekreasi PT Eigerindo Multi Produk Industri atau biasa dikenal dengan brand Eiger. Mereka menimbulkan keriuhan di media sosial setelah beredarnya surat keberatan yang mereka tujukan kepada seorang konten kreator YouTube.

Kejadian ini bermula dari cuitan pengguna akun Twitter bernama profil Dian Widiyanarko mengunggah lembaran surat keberatan Eiger yang dikirim kepadanya.

Dian adalah konsumen Eiger yang melakukan review produknya melalui kanal YouTube dengan judul “REVIEW Kaamata EIGER Kerato I Cocok Jadi Kacamata Sepeda“.

“Halo @eigeradventure jujur kaget saya dapat surat begini dari anda. Lebih kaget lagi baca poin keberatannya. Saya kan review produk gak anda endorse. Kalau anda endorse atau ngiklan boleh lah komplen begitu. Lha ini beli, gak gratis, lalu review pake alat sendiri,” tulis Dian Widiyanarko yang menyertai cuitannya dengan foto lembaran surat keberatan Eiger, Kamis, 28 Januari 2021.

Baca juga: Mengenal Poulet Roti “Ayam Panggang Nenak” asal Prancis yang Resepnya Diturunkan Turun-temurun

Kekecewaan Dian mencuat lantaran keberatan Eiger dianggap membatasi kreativitas konsumen dalam memberikan pendapatnya atas suatu produk, terlebih produk tersebut dibeli dengan uang hasil jerih payah sendiri.

Dalam surat keberatan itu, Eiger mempersoalkan kualitas video, adanya suara mengganggu yang dinilai dapat membuat informasi tidak jelas kepada konsumen, dan lokasi pengambilan video yang dinilai kurang layak untuk pengambilan video. Selanjutnya, Eiger meminta Dian melakukan review ulang atau menghapus videonya dari YouTube.

Isi surat ini kemudian memicu warganet dan pesohor Tanah Air untuk mengomentarinya lebih lanjut. Ada yang menyinggung persoalan buruknya pemasaran karena pengirim surat ternyata orang yang mengurung bagian hukum. Ada pula yang menyoroti dari kaidah kebahasaan isi surat.

Komedian Ernest Prakarsa menanggapi dengan menuliskan, “Absurd banget kayak komplen ke agency padahal bukan konten buzzingan (emoticon).” Sementara penyanyi Fiersa Besari mengatakan dirinya sudah menerukan cuitan Dian tersebut ke tim Eiger dan mengatakan “Kok kayak mengekang kebebasan berpendapat? Padahal modalin videonya juga enggak.”

Nama Eiger pun memuncaki kolom trending topic selama seharian suntuk yang memperlihatkan banyak kritik terhadap Eiger. Media arus utama mengangkat persoalan ini menjadi pemberitaan.

Baca juga: Penyebab Industri Baja Nasional Kembali ‘Menjerit’ Tahun 2021

Beberapa brand pesaing memanfaatkan momentum ini untuk mengajak warganet bebas mengunggah konten review produk mereka. Di satu sisi seolah memberikan kebebasan berpendapat kepada warganet, namun bisa jadi ajakan tersebut adalah taktik pemasaran untuk memperkenalkan brand ke hadapan publik.

Tidak butuh waktu lama, CEO Eiger, Ronny Lukito kemudian menyampaikan pernyataan berupa permohonan maaf kepada warganet.

Dear Eigerian, Menanggapi tweet @duniadian dengan kerendahan hati kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Kami menyadari apa yang kami lakukan tidak tepat dan salah. Kami berterima kasih pada Eigerian yang dengan upaya keras mau meluangkan waktu dan tenaga untuk berkreasi membuat konten berhubungan dengan EIGER. Sekali lagi kami memohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan kami,” tulis Eiger melalui akun Twitter @eigeradventure, Kamis, 28 Januari 2021.

Sayangnya, surat permohonan maaf tersebut tidak mampu meredam kritik warganet. Justru Eiger menimbulkan perkara baru.

Bisa gak sih? Minta maaf tanpa ngeles? Geli banget berlindung di kata-kata sejatinya sejatinya kayu jati?” tulis salah satu pengguna yang mengutip petikan surat pernyataan yang menuliskan, “Sejatinya maksud dan tujuan awal kami adalah untuk memberikan masukan kepada reviewer agar lebih baik lagi. Tetapi sekali lagi, kami menyadari bahwa cara penyampaian kami salah.”

Sejatinya, bukan hanya Eiger pemicu keriuhan di media sosial pada hari itu. Ada pesohor Permadi Arya atau dikenal sebagai Abu Janda dengan perkara tersendiri yang membuat dirinya menyampaikan permintaan maaf.

Persoalannya kali ini berhubungan dengan agama. Dia mencuitkan di Twitter yang mengatakan, “Islam memang agama pendatang dari Arab, Agama Asli Indonesia itu Sunda Wiwiwtan, Kaharingan dll. Dan memang arogan, mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. Kalau tidak mau disebut arogan, jangan injak2 kearifan lokal @awemany”.

Terang saja cuitan itu menjadi kontroversi bersamaan dengan persoalan Eiger yang belum tuntas di tangan warganet. Timbullah perang komentar di Twitter untuk menanggapi maksud Islam arogan tersebut, tetapi skalanya semakin luas mengingat rekam jejak Abu Janda telah beberapa kali membuat geger publik melalui unggahannya.

Bahkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyerukan untuk meng-unfollow akun Twitter Abu Janda @permadiaktivis1 dengan tujuan “untuk kedamaian dan kesehatan kita semua”.

Di tengah pandemi Covid-19 yang menekan banyak kehidupan masyarakat, pesan-pesan semacam ini berpotensi mengganggu kenyamanan batin sekaligus menghambat upaya persatuan untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari bencana.

Pernyataan Abu Janda tersebut sampai kepada para tokoh agama Islam. Mereka turut memberikan tanggapan. Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti meminta Abu Janda untuk belajar mengaji dan mendalaminya supaya tidak keliru memahami agama Islam, mengutip laporan Tempo.co, Jumat, 29 Januari 2021.

Permadi Arya Abu Janda
Pesohor media sosial Permadi Arya atau Abu Janda. (Foto: Twitter/permadiaktivis1)

Baca juga: Lima Kiat Sukses Mendidik Anak dengan Mindfulness Parenting

Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Zulfa Mustofa menganggap tindakan Abu Janda “tidak jelas ke NU-annya dan lebih banyak merugikan NU,” mengutip laporan CNNIndonesia.com, Jumat, 29 Januari 2021.

Waktu terus berjalan yang semakin menambah panjang debat dan komentar di Twitter. Abu Janda akhirnya menyampaikan klarifikasi atas cuitannya melalui rekaman video.

Cuitannya yang menyinggung Islam dan arogan bukan sekali saja ia sampaikan karena menyebutnya juga di kolom balasan postingan Ustaz Tengku Zulkarnain. Cuitan balasan inilah yang dikutip Abu Janda sebagai bahan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf.

Izinkan saya Kyai, Gus, Ustaz untuk menjelaskan kesalahpahaman saya di Twitter, pertama-tama komentar saya itu diviralkan dipotong tanpa konteks seolah pernyataan mandiri padahal itu cuitan adalah jawaban cuitan saya kepada Ustaz Tengku Zulkarnain yang sedang memprovokasi SARA mengatakan minoritas di Indonesia arogan ke Indonesia. Jadi karena itu keluar kata arogan di tulisan saya,” katanya sebagaimana dipantau dari akun @narkosun yang diretweet ulang oleh Abu Janda.

Dia menambahkan bahwa komentar tersebut disampaikannya sebagai seorang Muslim dalam konteks otokritik bahwa Islam agama pendatang yang dimaksud adalah Islam transnasional, bukan menggeneralisasi Islam secara keseluruhan.

Mohon maaf jika ada kesalahpahaman. Maklum jempol menulis saat debat panas jadi keluarnya suka tidak singkron, sekali lagi saya ingin megnucapkan matur suwun Kyai Gus Ustaz. Mohon arahannya terus,” katanya.

Baca juga: Mengapa Foto Bernie Sanders Sangat Viral di Media Sosial?