Pebalap Formula 1 asal Prancis, Pierre Gasly, mencatatkan sejarah baru di GP Monza Italia, Minggu (6/9/2020). Untuk pertama kalinya, pemuda berusia 24 tahun tersebut berhasil mencapai posisi pertama sepanjang keikutsertaannya di Formula 1, ajang balap mobil paling bergengsi di muka bumi.

Menariknya, kemenangan Pierre Gasly juga menjadi kegembiraan untuk warga Prancis. Mereka akhirnya bisa mendengarkan lagu nasional La Marseilles berkumandang di podium.

Maklum, pebalap Prancis terakhir kali menempati posisi pertama pada 1996 yang kala itu ditempati Olivier Panis du GP Monaco. Warganet pun memuji keberhasilan Pierre Gasly yang membuat kolom balasan akun resmi Formula 1 dibanjiri cuitan berbahasa Prancis.

Pierre Gasly
Pierre Gasly. (Twitter/PierreGASLY)

Que sensacional!!! Allez la France!!! Allons enfants de la patrie!! Le jour de gloire est arrivé, Pierre!!! Félicitations!!! 

(Sangat sensasional! Ayo Prancis! Ayo anak bangsa! Hari kemenangan telah tiba, Pierre!),” tulis seorang pengguna Twitter yang menyertakan penggalan lirik La Marseillais.

C’est vraiment émouvant d’entendre l’hymne national! 24 ans après Olivier Panis ! C’est vraiment magnifique!

(Ini benar-benar mengharukan ketika mendengarkan lagu kebangsaan! 24 tahun setelah Oliver Panis! Luar biasa!),” tuli pengguna lainnya.

Beragam ekspresi diungkapkan warga Prancis menyambut kemenangan tersebut. Misalnya, membeli 3 koran sekaligus yang mengulas kemenangan Pierre Gasly.

Lagi-lagi, ini karena soal nasionalisme. Bahkan ada yang sarkas karena postingan Pierre Gasly di Twitter memakai bahasa Inggris, bukan Prancis.

Parle Français non?” (Bisa bahasa Prancis, kan?),” tulis seorang pengguna membalas postingan @PierreGASLY.

Regarde ce que j’ai fais à cause de toi. J’ai acheté 3 journaux pour ta une. En tout cas bravo pour ta victoire. J’en reviens toujours pas. En plus t’es le 1er normand à remporter une course de F1. Continue de représenter la Normandie

(Lihat apa yang aku lakukan karena kamu. Aku membeli 3 surat kabar demi kamu. Semua karena kemenanganmu. Dan lagi semua karena kamu adalah orang Normandia pertama yang memenangkan balap F1. Teruskan),” tulis seorang warganet.

Ini baru di Formula 1. Ekspresi nasionalisme telah menular di sepakbola.

Sebelumnya, legenda sepakbola Prancis Thierry Henry yang belasan tahun membela klub Arsenal mengharapkan PSG menjuarai Liga Champions 2019/2020.

Kerinduan yang wajar. Prancis hanya sekali mengangkat trofi Liga Champions yang diwakilkan Olympique Marseille pada tahun 1993.

“Sekarang waktunya, kawan. Bawa itu kembali untuk sepakbola Prancis,” tulis @ThierryHenry pada 23 Agustus 2020 sebelum laga final Liga Champions antara PSG dan Bayern Munchen, walaupun, pada akhirnya PSG gagal memenangkan pertandingan malam itu.

Syukurlah, tahun 2018, timnas Prancis berhasil memboyong Piala Dunia untuk melegakan hasrat masyarakat di sana. Untuk diketahui, sepakbola adalah olahraga paling populer di Prancis berdasarkan jumlah keanggotaan di website, menyusul Tenis, Balap Kuda, dan Basket.

Dan lagi, ekspresi nasionalisme Prancis tampaknya menjadi isu penting bagi perekonomian negara heksagonal ini selama masa pandemi Corona.

Dalam laporan media Maddyness pada 4 Agustus 2020 berjudul “Relocalisation et Made In France : utopie ou réalité économique?“, baru-baru ini sebuah gerakan Made In France menjadi perbincangan hangat.

Sebabnya, Prancis mengalami kekurangan peralatan medis seperti masker, refrigerator dan obat Covid-19. Mereka sangat ketergantungan pada produk luar negeri. Bahan baku farmasi sebanyak 80% diproduksi di India dan negara Asia lainnya. Sehingga ini menajdi isu serius untuk tahun-tahun mendatang untuk dicari jalan keluar.

Teriakan serupa datang dari industri elektronik yang meminta pemerintah memfasilitasi Made In France. Mereka meminta komponen elektronik sebaiknya dibuat oleh produsen lokal.

Masalah ini kemudian berubah menjadi kesadaran tentang pentingnya produksi lokal Made In France.

Menurut survei Cetelem dan Harris Interactive, sebanyak 52% orang Prancis lebih banyak mengonsumsi produk lokal (daerah) dan 44% lebih banyak menggunakan produk Made In France dibandingkan tiga tahun lalu.

Sebagai contoh, orang Prancis menurut survey itu, tidak lagi memilih ayam yang dibersihkan oleh pemutih buatan AS. Brand pakaian murah buatan Bangladesh juga tidak lagi populer di Prancis.

Salah satu alasan mengapa hal ini bisa terjadi disebabkan pengaruh kampanye “kotor” yang beredar di internet sehingga mengubah preferensi pembeli, menurut Catherine Mercier Suissa, peneliti School of Management Universitas Jean Moulin.

Fenomena-fenomena nasionalisme a la Prancis ini mirip juga dengan yang sekarang terjadi di Indonesia. Warga di sini dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai pulau Rote, haus akan prestasi tim nasional dan putra-putri di kancah internasional.

Dulu, ada Rio Haryanto yang menjadi pebalap Indonesia pertama di F1 pada musim 2016/2017. Demi nama bangsa, pemerintah juga ikut memikirkan caranya agar pebalap Indonesia maju di F1 meski isu pendanaan sempat menjadi ganjalan. Pertamina akhirnya menjadi sponsor Rio Haryanto di Manor Racing Team.

Di sektor perekonomian, Indonesia dan Prancis sama terpukulnya. Pemerintah gencar menyerukan masyarakat untuk membeli produk UMKM dalam masa pandemi ini.

Fenomenanya mirip dengan Prancis, kendala yang dihadapi juga sebelas-dua belas, bagai pinang dibelah dua.

Masih menurut media yang sama, harga produk lokal Prancis lebih mahal dari produk luar. Masalah ini yang perlu dicari terobosan. Catherine juga mengatakan, untuk urusan B2B, pemasok hanya mungkin menolak produk asing jika barangnya berkualitas buruk, bukan karena alasan etika. Jika masih membandel, ancamannya sanksi WTO!

Tetapi, apapun hambatannya, selama pandemi, gejala nasionalisme ini agak-agaknya memang mulai bangkit secara pelan-pelan. Disadari atau tidak, ada terpendam masalah soal krisis identitas. Ujung-ujungnya yang bakal kena getahnya adalah Cin……ta.