Joe Biden dipastikan terpilih menjadi Presiden AS ke-46 setelah mengantongi lebih dari 270 electoral college dalam penghitungan suara sementara, Minggu (8/11/2020). Atas kemenangan itu, Joe Biden menyampaikan bahwa ia merasa terhormat atas pilihan masyarakat untuk memimpin negara AS.

“Saya menempati posisi ini untuk memulihkan jiwa Amerika,” kata Biden dalam pidato kemenangannya dikutip dari CNN.

Ungkapan Joe Biden itu menyiratkan bahwa Trump selama kepemimpinannya telah meninggalkan banyak perpecahan di dalam masyarakat Amerika dan internasional.

Sementara sang lawan, Donald Trump yang maju sebagai petahana belum mengakui kemenangan Joe Biden. Lewat akun Twitternya, Trump berkali-kali menuding adanya kecurangan dan sebaliknya mengklaim bahwa dirinya yang memenangi pemilihan ini. “71,000,000 Legal Votes. The most EVER for a sitting President!

Trump mungkin akan terus berjuang untuk menggugat hasil penghitungan suara melalui jalur hukum. Namun, selama pemilihan ini berlangsung, terdapat sejumlah fakta menarik dan rekor baru yang tercipta.

 

1. Rekor suara populer

Joe Biden
Joe Biden. (Foto: joebiden.com)

Presiden terpilih Joe Biden telah mencetak sejarah baru dengan rekor perolehan suara populer terbanyak sepanjang pemilihan Presiden AS.

Laporan CBS News, rekor suara terbanyak sebelumnya jatuh ke tangan Barack Obama pada Pilpres 2008 yang memperoleh 69.498.516 suara.

Namun, rekor itu dilampaui Joe Biden dengan perolehan sementara 74.446.452 suara pada Sabtu waktu setempat atau 50,5 persen dari total suara yang kemungkinan akan bertambah karena penghitungan masih berlangsung.

Trump juga pada pemilihan ini berhasil menembus perolehan suara Obama dengan meraup 70.294.341 suara yang kemungkinan akan bertambah lagi.

 

2. Wanita Wakil Presiden pertama di AS

Kamala Devi Harris yang mendampingi Joe Biden akan menjadi wanita pertama yang menduduki posisi wakil presiden AS. Selain itu, wanita kelahiran California ini juga menjadi orang non-kulit putih pertama yang menduduki kursi nomor dua di AS.

Kamala lahir dari Ibu seorang India dan Ayahnya yang merupakan keturunan Jamaika. “Meskipun saya wanita pertama di posisi ini, saya tidak akan menjadi yang terakhir,” kata Kamala dalam pidato pertama kemenangannya.

Ia juga menjadi simbol bagaimana perubahan karir pemerintahan menurut ras dan gender bisa terjadi di AS. The Guardian melaporkan bahwa Kamala adalah wanita kulit hitam pertama Jaksa Agung California.

Ketika dia terpilih menjadi Senat pada 2016, Kamala juga menjadi wanita kulit hitam kedua yang menempati posisi penuh amanah tersebut. Isu kesetaraan ini dipakai dalam pidato sambutannya yang membuka kemungkinan semakin luasnya kontribusi warga kulit hitam dalam membangun demokrasi AS.

 

3. Joe Biden Presiden kedua beragama Katolik

Joe Biden akan menjadi presiden AS kedua yang beragama Katolik setelah John F Kennedy (1961-1963). Soal agama ini, Joe Biden memang jarang tampil menggunakan atribut dan simbol Katolik.

Namun, ia berupaya menunjukkan bahwa ia adalah penganut Katolik yang taat untuk merebut simpatik warga Katolik. Ini terlihat dari iklan kampanyenya di TV yang menampilkan gambar pertemuan dia dan Paus Fransiskus.

Joe Biden bersama saudaranya bertemu Paus Fransiskus pada 2013 silam di Basilika St Petrus, Vatican
Joe Biden bersama saudaranya bertemu Paus Fransiskus pada 2013 silam di Basilika St Petrus, Vatican. (Foto: CNS)

Beberapa media juga menampilkan foto Biden yang keluar dari gereja usai menghadiri misa. Ia juga pernah menjelaskan bahwa imannya menyembuhkannya dalam masa-masa sulit.

Dalam tulisannya di Religion News Service akhir Desember lalu, Joe Biden mengatakan bahwa politik AS sangat toxic, kejam, dan memecah belah.

“Itu tidak mencerminkan nilai-nilai kita, ini bukan diri kita. Itulah sebabnya, sejak pertama kali saya mendeklarasikan pencalonan saya sebagai presiden, saya telah mengatakan, saya mencalonkan diri untuk memulihkan jiwa bangsa kita,” tulis Biden.

Ia mengaku pertama kali mempelajari nilai-nilai itu dalam masa kecilnya dalam keluarga Katolik kelas menengah di Scranton Pennsylvania dan Claymont Delaware.

Usahanya untuk mendapatkan suara pemilih Katolik cukup berat karena pilihannya untuk mendukung legalisasi aborsi.

Kebijakan ini bertentangan dengan prinsip penganut Katolik di AS. Sebaliknya, Donald Trump menentang praktik aborsi sehingga hampir dipastikan suara pemilih Katolik terbelah.

Polling dari Pew Research Center pada Agustus lalu menunjukkan bahwa 46 persen dari pendukung Trump and 35 persen dari pendukung Biden mengatakan isu aborsi “sangat penting” sebagai faktor bagaimana mereka akan memberikan vote dalam pemilihan.

4. Disinformasi Trump

Tampaknya Trump adalah orang yang cukup mendapat banyak sorotan selama masa pemerintahan, kampanye hingga pemilihan Presiden. Tetapi, pemberitaan media massa cenderung melemahkan Trump.

Perusahaan penyedia platform media sosial pun seakan tidak memihak kepadanya. Twitter berkali-kali melabeli cuitan Trump tentang klaim kemenangannya dan tuduhan kecurangan dengan peringatan atau kehati-hatian berdasarkan kebijakan integritas kewarganegaraan yang baru-baru ini diluncurkan oleh Twitter.

Cuitan Donald Trump dilabel Twitter

Berbeda dengan Trump, akun Twitter Joe Biden terlihat bersih dari label tersebut meskipun ia juga mengungkapkan keyakinannya sebagai pemenang pemilihan Presiden pada 5 November lalu saat proses penghitungan suara masih berlangsung sengit.

Akan tetapi, klaim kemenangan Trump dan permintaan untuk menghentikan penghitungan suara dinilai menyesatkan.

Negara bagian seperti Penssylvenia misalnya membutuhkan waktu lebih lama dari negara bagian lainnya untuk selesai menghitung total suara termasuk menunggu suara dari surat pos yang berpeluang menambah suara untuk Joe Biden.

Sekutu Trump ikut mengkritisi klaim kemenangan sepihak tersebut. Politis Partai Republik Adam Kinzinger meminta Trump untuk berhenti menyampaikan klaim kemenangannya dan bersabar untuk menunggu seluruh suara dihitung.