Pembaca yang baik tentu menimang baik-baik segala hal yang disaksikannya. Dia akan mencari tahu lebih dalam, bertanya kalau masih ragu-ragu. Karena kata-kata adalah senjata, maka tentu dia tidak ingin dijadikan sasaran peluru tajam.

Di negeri ini kata-kata tersebut telah disalahgunakan dengan parah. Apa boleh buat, dunia maya bak ladang serangan untuk para penebar kebencian dan ketakutan. Jika diperhatikan, hampir tidak ada faedah selain sensasi yang diberikannya.

Harap berhati-hati dengan situasi yang hanya menawarkan sensasi. Masyarakat dapat disulut, diobok-obok oleh segelintir pihak yang mengaku pembawa keadilan. Mereka mempunyai resep rahasia dengan memanfaatkan keluguan masyarakat dalam melihat manuver politik.

Kita tidak hanya melihat permainan politik semata. Lebih lanjut lagi, ternyata sudah saling menyusup ideologi-ideologi nakal yang bertabrakan dengan dasar dan konstitusi negara. Bangkitnya komunis, gerakan kaum radikal agama, separatis dan pemberontakan yang sudah beranjak dewasa pada tahun ini.

Jika pemerintah tidak tanggap dan peka membaca situasi, artinya kita juga turut berpartisipasi dengan mereka, menyiram benih-benih yang mereka tanam. Mereka akan mengambil anak muda-muda, generasi yang dititipkan untuk merawat kebhinekaan dan keragaman bangsanya.

Kita tidak sendiri untuk melawan penghasut dan pemecah belah bangsa. Kita mengapresiasi GP Ansor yang terus mendukung eksistensi keragaman dan perbedaan di negeri ini. Mereka bersedia menshalatkan jenazah di tengah maraknya penolakan dengan alasan lawan politik.

Memang selama hulu masalah tidak dibersihkan, sikap dan tindakan yang tidak menjunjung rasa memilik dan menghormati akan semakin jamak ditemukan. Mengharapkan pemerintah dapat menyelesaikan hanyalah lagu lama yang berlarut-larut dapat terselesaikan. Sebab, kita sendiri nyatanya memilih pasif dan diam ketika pembelokan terjadi.

Berita sensasi atau propaganda yang belum terbukti kesahihannya justru dipercaya sebagai satu-satunya kebenaran. Media tersebut menjadi viral dan menjadi bahan konsumsi kita sehari-hari. Ledekan maupun candaan vulgar, rasis, dan diskriminasi saling bersahutan dengan maksud merendahkan martabat manusia.

Mungkin itu juga terjadi karena panggung virtual dikuasai baik oleh para pihak yang menginginkan perpecahan di antara kita. Kaum moderat dan pluraritas justru menjadi silent majority. Maka, setelah sekian lama dinyenyakkan dengan fantasi dan sensasi murahan, tidak ada jalan lain selain melawan konten-konten tersebut, yang sewaktu-waktu mengubah generasi muda (milenial) menjadi generasi intoleran.

Sudah saatnya, mulai hari ini, para pembaca dan penikmat konten virtual di dunia maya mau mengalihkan posisi, turut menjadi aktor dalam perubahan. Generasi muda harus memberikan alternatif dengan segudang ide-ide kreatif yang dimilikinya.

Buang semua rasa malu, minder dan keluarlah dari persembunyian. Kita juga berharap generasi muda mengisi pertunjukkan di atas panggung untuk memberikan wajah Indonesia yang sebenarnya, yang menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan. Kita bersuara semoga semangat kebhinekaan dan saling menghormati yang dititiskan Gus Dur tidak hanya menjadi dongeng belaka di tengah maraknya tindakan yang ingin merobek keindonesiaan.