Seorang bocah kecil berbicara dengan kalimat pendek untuk mengungkapkan perasaannya selama pandemi Covid-19. Ketika ditanyai, apa hal menyenangkan selama pandemi, ia mengatakan, “Bisa main terus.”

Itulah perbincangan singkat siswa kelas 1 SD Rumah Citta, Jogjakarta, menyampaikan pengalamannya selama pandemi Covid-19 dalam Seminar Anak Sekolah Rumah Citta-ECCD RC Jogja pada Juli 2020.

Dan lima bulan setelahnya, di akhir tahun 2020, keadaan belum berubah. Pandemi Covid-19 masih terus berjalan dan belum menunjukkan tanda-tanda membaik.

Tahun 2020 akhirnya menjadi tahun yang dikenang sebagai musim panjang untuk pandemi Covid-19. Anak-anak mengalami keadaan seperti orang-orang dewasa mengurung diri di rumah untuk mencegah penyebaran virus corona.

Aktivitas di luar rumah sangat dibatasi, mengubah radikal kehidupan mereka dari keadaan normal. Anak-anak tidak bebas bermain atau berinteraksi dengan teman-teman sejawatnya.

Di sekolah, pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran jarak jauh virtual. Guru dan murid dihubungkan melalui jaringan menggunakan perangkat elektronik seperti komputer, laptop, atau gawai.

Kesenangan siswa Rumah Citta Jogja tadi terdengar mengesankan. Ini memang harus dipertahankan.

Akan tetapi seperti pandemi Covid-19 itu sendiri, pembelajaran jarak jauh yang masif adalah fenomena baru di dunia pendidikan Indonesia.

Pengalaman pembelajaran jarak jauh bisa menjadi bahan evaluasi orang tua untuk menjaga kesehatan anak. Apalagi pembelajaran jarak jauh kemungkinan masih akan berlanjut di 2021.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memang mengatakan pembelajaran tatap muka diperbolehkan, tetapi itu ternyata tidak diwajibkan.

Cegah mata dari rabun jauh

Belajar online
Ilustrasi pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19. Gambar oleh StartupStockPhotos dari Pixabay

Selama pembelajaran jarak jauh, anak tidak pernah lepas dari penggunaan perangkat elektronik.

Dalam jangka panjang, efek penggunaan perangkat elektronik dapat menimbulkan gangguan kesehatan tubuh anak. Salah satunya rabun jauh atau miopi.

Dokter spesialis mata, dr Martin Hertanto SpM menjelaskan, penyebab miopi bisa dipicu faktor keturunan atau aktivitas membaca dalam jarak dekat.

“Memang pembelajaran online secara jangka lama dapat meningkatkan resiko mata minus, baik anak yang belum minus maupun anak sudah berkacamata,” kata dr Martin.

Penjelasan itu disampaikannya dalam Webinar Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI) Men Sana In Corpore Sano: Mata dan Tubuhku Berubah Karena Kelamaan Daring pada 4 Desember 2020.

Masalah miopi pada anak sudah menjadi perhatian lama di dunia pendidikan sebelum pandemi Covid-19.

Dr Martin memberi contoh, siswa di negara yang memiliki jam belajar panjang, seperti Indonesia dan negara Asia Timur ternyata mengalami kerabunan lebih banyak dibanding siswa yang berjam sekolah pendek.

Untuk mengurangi resiko pertumbuhan mata minus, anak perlu mengambil jeda waktu lalu melakukan aktifitas luar ruangan seperti olahraga. Ini cara sederhana selain harus melakukan terapi atau memakai lensa kontak khusus.

Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, faktor lain yang dapat merusak mata adalah paparan sinar biru (blue light) dengan intensitas 400-500 nm.

Namun, dr Martin mengatakan penelitian terbaru menyebutkan perangkat elektronik saat ini, seperti tablet atau gawai, mengeluarkan sinar biru dengan kadar rendah sehingga cukup aman dan tidak sampai merusak mata.

Meski demikian, efek sinar biru gawai bisa menggangu pola tidur anak. Tubuh memiliki irama tidur yang bekerja lewat hormon melatonin, sebagai contoh, orang mudah mengantuk di suasana gelap dan susah tidur di siang.

“Bila menggunakan tablet saat malam, ini bisa mengganggu hormon, bisa mengurangi kemampuan untuk tidur. Makanya, ada rekomendasi satu jam sebelum tidur, tidak menggunakan alat elektronik,” katanya.

Kelelahan mata

Mata sebenarnya mudah lelah selama menjalani proses belajar daring. Dulu, efek dari komputer terhadap mata dinamakan computer vision syndrome (CVS). Istilah terkininya adalah digital eye strain, apapun jenis gawainya.

Gejalanya, mata mudah lelah, buram perih, sampai tidak fokus. Efek lainnya (non-ocular symptoms) adalah badan pegal dan sakit kepala. Kelelahan mata dapat dipicu, salah satunya, faktor tampilan visual materi pelajaran yang dibagikan ke layar gawai atau komputer.

“Baik guru dan pengajar yang memberikan slide, kalau kualitas gambarnya buruk, itu akan mempengaruhi kenyamanan mata siswa […] Lalu, ukuran huruf, font-nya, dan kontras layar,” terang dr Martin.

Karena itu, guru sebisa mungkin menggunakan gambar-gambar beresolusi tinggi dalam materi pelajaran. Penggunaan huruf kapital yang terlalu banyak (all capslock), jarak antarbaris yang rapat juga dapat melelahkan mata.

Jangan lupa berkedip untuk membasahi permukaan mata dan menghindari mata kering dan pedih.

Posisi badan

Materi selanjutnya, anjuran dari dokter fisik dan rehabilitasi dr Agatha Mulyo SpKFR. Orang tua, katanya, harus lebih kritis untuk melihat postur tubuh anak, terutama memperhatikan posisi duduk anak di depan layar.

Orangtua dapat memeriksa postur tubuh anak di depan cermin. “Posisi kepala, badan dan tungkai kaki harus dalam satu garis lurus,” jelasnya.

Paparan dr Agatha Mulyo menjelaskan postur tubuh anak yang normal dan tidak normal.
Paparan dr Agatha Mulyo SpKFR menjelaskan postur tubuh anak yang normal dan tidak normal. (Cuplikan video YouTube ASJI Provindo)

Demikian saat anak menatap layar. Dalam kondisi normal, kepala manusia memiliki berat sebesar 6 kg untuk manusia dengan berat badan 70 kg. Nah, bobot kepala ini disangga bahu sampai bagian tubuh di bawahnya.

“Kalau kepala kita maju sedikit saja [mencondongkan kepala ke araha layar], beratnya menjadi 11 kilogram. Otot di bagian belakang menahan untuk tidak jatuh. Melihat lebih maju lagi, menjadi 18 -21 kilogram. Jadi jangan siksa leher dan kepala untuk melihat lebih dekat karena jgua menyiksa tulang-tulangnya,” kata dr Agatha.