Penahanan pesohor media sosial Millen Cyrus di sel tahanan laki-laki mendapat perhatian luas dari masyarakat mengingat status dirinya sebagai transpuan. Pendapat yang mengemuka meminta aparat Kepolisian menempatkan Millen Cyrus ke dalam sel tahanan khusus dengan pertimbangan keamanan, Selasa (24/11/2020)..

Millen Cyrus ditahan atas kasus penyalahgunaan narkotika. Satnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, melakukan penangkapan terhadap dirinya di salah satu hotel kawasan Jakarta Utara pada Minggu, 22 November 2020. Polisi menemukan satu alat hisap bong dan shabu seberat 0,3 gram yang diduga sisa dari narkoba yang digunakan Millen. Hasil tes urine menyatakan ia positif narkoba. Di tempat yang sama, Polisi juga menangkap rekan Millen berinisial JR.

Setelah menjalani pemeriksaan, status Millen Cyrus ditetapkan sebagai tersangka. Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Ahrie Sonta mengatakan Millen Cyrus ditahan di sel pria lantaran identitas di KTP menyebutkan jenis kelamin Millen Cyrus adalah laki-laki.

Namun, penahanan Millen Cyrus di sel tahanan laki-laki dianggap berpotensi mengancam keamanan dirinya dari perilaku tahanan lelaki di dalamya.

Semoga Millen baik baik aja. Secara fisik dia perempuan loh, apa ngga dipertimbangin bakal kena pelecehan kalo di sel laki-laki,” tulis pengguna akun Twitter mengomentari berita Tirto yang mengangkat persoalan penempatan Millen Cyrus di sel tahanan pria.

Ke depannya emang beneran perlu regulasi untuk ini. Dan sekarang tempatin di sel perempuan aja atau khusus menurutku, biar gak ada potensi terjadinya pelecehan. Juga sebaiknya pilihan hidup mereka untuk jadi transgender gak dijadiin guyon oleh masyarakat,” tulis pengguna lainnya.

Pentingnya penempatan sel tahanan terhadap Millen Cyrus turut ditanggapi Institut for Criminal Justice Reform (ICJR). Dalam keterangan tertulis, ICJR mengkritik keras aparat penegak hukum yang dinilai tidak memperhatikan kebutuhan khusus dan resiko keamanan terhadap Millen Cyrus. ICJR menyebut Millen Cyrus merupakan publik figur yang memiliki ekpresi gender perempuan.

“Seharusnya M diperlakukan sebagai perempuan, dan kebutuhan ini harusnya dipahami aparat yang melakukan seluruh tindakan berdasar instrumen hukum dan Hak Asasi Manusia,” tulis ICJR dikutip dari situs resminya.

Selain resiko keamanan, ICJR memandang penahanan Millen Cyrus di sel tahanan laki-laki berpotensi menimbulkan resiko terjadinya stigma, pelecehan dan kekerasan, serta potensi pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Baca juga: Bagaimana Nasib Akun Twitter Donald Trump Bila Tidak Jadi Presiden?

Dalam pertimbangan lain, ICJR memasukkan faktor pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Dengan kata lain, penahanan terhadap Millen Cyrus dinilai tidak seharusnya dilakukan sebagai langkah mencegah resiko penularan virus Corona.

Lebih lanjut, ICJR menjelaskan dugaan kasus Millen Cyrus adalah kepemilikan narkotika untuk konsumsi pribadi, karena itu, intervensi penahanan atau pemenjaraan tidak diperlukan.

Masalah pemahanan Millen Cyrus juga ditanggapi politis Senaya. Kritik disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni dari Partai Nasdem. Dalam wawancara kepada DetikNews, Sahroni menilai pihak kepolisian perlu bersikap bijak dan manusiawi dalam menentukan penempatan sel untuk Millen Cyrus. Sahroni berpendapat Millen Cyrus mungkin bisa dimasukkan ke ruangan khusus sementara dengan pertimbangan psikologis dan pendapat ahli terkait.

Baca juga: Ketika Miliader Jack Ma Digagalkan Presiden Xi Jinping di IPO Ant Group

Penahanan Millen Cyrus mengingatkan publik terhadap kasus hukum yang menjerat transpuan lainnya. Salah satu yang sempat menjadi fenomenal adalah transpuan Lucinta Luna. Ia juga tersandung kasus penyalahgunaan narkotika pada Februari 2020 lalu.

Namun, berbeda dengan Millen Cyrus, Lucinta Luna telah mengubah identitas dirinya di KTP yang semula laki-laki menjadi perempuan. Saat ditahan, ia menempati sel tahanan perempuan setelah pihak Kepolisian mempertimbangkan resiko keamanan dan perundungan terhadap dirinya.

“Siapa pun tahanan yang masuk, kami wajib menjaga keamanannya, baik fisik maupun psikologis, untuk menghindari di-bully,” kata Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polda Metro Jaya, AKBP Barnabas S Imam menjelaskan penempatan Lucinta Luna di blok perempuan dikutip dari Kompas.com.

Adanya potensi terjadinya stigma terhadap Millen Cyrus di tahanan laki-laki seperti yang diungkapkan ICJR memang menjadi isu krusial yang harus disikapi. Penghakiman terhadap Millen Cyrus telah terjadi di media sosial melalui komentar warganet. Stigma pada gender berujung pada potensi terjadinya perundungan.

Di media sosial, pandangan warganet terhadap ekspresi gender perempuan Millen Cyrus terlihat terbelah. Sebagian menganggapnya sebagai hal biasa, sedangkan yang lain menjadikan isu gender sebagai subjek perundungan terhadap Millen Cyrus.

Salah satu warganet menuliskan di kolom komentar postingan terakhir Instagram Millen Cyrus, “Lah Bambang ditangkap karena nyabu. Gimana, dong, masuknya sel cowok atau cewek.” Sementara di Twitter, pengguna mengatakan, “Makanya ga usah trans-transan dah pada, ribet kan. Gue kalo jadi cewek betulan di sel juga gamau dia masuk sel gue. Dia laki-laki. Bertingkah perempuan, ngaku perempuan, ngaku tiang listrik tetep aja laki-laki.”

 

Pendapat tersebut memperlihatkan bahwa eksistensi transpuan yang berhubungan pada LGBT belum sepenuhnya mendapatkan tempat di masyarakat Indonesia. Di sisi lain, kekhawatiran yang sama seriusnya tertuju pada sosoknya sebagai publik figur. Di Instagram, Millen Cyrus memiliki pengikut sebanyak 1 juta akun dan beragam komentar dari pujian sampai hujatan dari warganet yang mampir menanggapi postingannya.

Contoh perundungan terhadap publik figur pernah dialami YouTuber Ferdian Paleka pada Mei 2020. Ferdian yang terjerat kasus UU ITE karena melakukan video prank terhadap transpuan, justru mendapat serangan balik cyberbullying di media sosial yang mengecam tindakannya. Di lokasi tahanan, dia diminta melakukan push up dan squat jump, kemudian diminta masuk ke dalam tong sampah oleh tahanan lainnya. Kejadian itu terekam kamera ponsel yang kemudian tersebar ke media sosial.

Ungkapan ketidaksukaan terhadap salah satu figur, sebagaimana dialami Ferdian, bisa menjadi pemicu perundungan terhadap Millen Cyrus dengan segala macam stigma dari ekspresi gender yang dimilikinya.

Pekerjaan berat bagi negara untuk melindungi minoritas. Meski demikian, aparat penegak hukum tidak boleh mengendur untuk memberi perlindungan terhadap warga negara.