Film Tilik yang tayang perdana di YouTube pada 17 Agustus 2020 berhasil memikat hati banyak orang Indonesia. Dalam waktu sehari saja sejak penayangannya, film itu meraup 500 ribu lebih tayangan. Ulasan positif membanjiri lini masa media sosial.

Film Tilik adalah film pendek berdurasi 32 menit yang mengisahkan Bu Tedjo yang selalu menggunjingkan gadis desa bernama Dian kepada Ibu-ibu di desanya sepanjang perjalanan mereka yang ingin menjenguk Bu Lurah di Rumah Sakit dengan menumpang truk ukuran sedang.

Paras Dian diakui begitu memikat hati para lelaki dan suami Ibu-ibu di desa. Sebaliknya, kecantikan Dian menjadi teror bagi kaum hawa.

Bu Tedjo memantik perbincangan dengan menyinggung kehidupan pribadi Dian yang kabarnya punya hubungan mesra dengan lelaki yang bukan suaminya.

Gaya bicaranya yang bersemangat membuat Ibu-ibu di sekitarnya kesedapan mendengar. Apalagi mereka harus berjaga-jaga jangan sampai suami mereka malah kecantol dengan kemolekan Dian.

Tudingan buruk kepada Dian lebih banyak didasarkan pada postingan yang beredar di Facebook. Bu Tedjo merasa yakin atas kebenaran informasi yang dilihatnya di media sosial, bahkan menunjukkan foto Dian bersama seorang lelaki.

Film Tilik
Cuplikan dialog Bu Tedjo dan Yu Ning di film Tilik. (YouTube/Ravacana Films)

Ia juga pernah memergoki Dian muntah-muntah yang diduga Bu Tedjo sebagi muntah tanda kehamilan. Makin mantaplah Bu Tedjo bercerita.

Yu Ning yang mendengar tuturan Bu Tedjo, resah. Ia meminta Bu Tedjo untuk berhenti memfitnah Dian. Meski demikian, Bu Tedjo tetap melanjutkan gosipnya tentang Dian, bahkan keduanya sampai beradu mulut di dalam bak truk.

Apa yang dituding Bu Tedjo, benar.

Di akhir cerita, Dian ternyata ada di Rumah Sakit menyambut rombongan Ibu-ibu ini.

Setelah rombongan balik dari RS, Dian diam-diam masuk ke dalam mobil sedan hitam yang terparkir untuk menemui seorang lelaki tua.

Di dalam mobil, Dian yang tampak sedih bercerita kepada lelaki itu tentang rencana pernikahan mereka, lalu bersandar di bahunya.

Dian bimbang karena khawatir Fikri, anak lelaki tua ini tidak akan menyetujui pernikahan mereka.

Mengenai siapa sosok kekasih Dian masih misterius karena tidak dijelaskan banyak dalam film. Namun kuat dugaan lelaki tua itu adalah suami dari Bu Lurah yang sakit.

Dalam cerita itu, Fikri adalah anak Bu Lurah.

Akhir cerita inilah yang menjadi pemikat film Tilik. Tudingan menggebu-gebu dari Bu Tedjo kepada Dian yang ternyata terbukti benar, seolah membenarkan slogan akun Lambe Turah bahwa gosip adalah fakta yang tertunda.

Warganet pun lebih banyak menyoroti sosok Bu Tedjo yang digambarkan sangat dekat dengan orang-orang di kehidupan nyata.

“Film Tilik mengajarkanku untuk ghibah tanpa batas karena salah satunya pasti benar. Hebat banget bu tedjo ngalahin cenayang,” tulis seorang warganet.

Film Tilik terus mendapat perbincangan dengan beragam analisa, baik membahas moral, teknik sinematografi, ataupun alur cerita. Tentu, yang paling fenomenal adalah Bu Tedjo itu sendiri.

Hingga hari keempat sejak penayangan perdana di YouTube, Film Tilik telah ditonton lebih dari 3 juta tayangan.

Namun, tidak ada pujian yang abadi.

Pada hari ini, saat artikel ini ditulis, Sabtu (22/8/2020) news anchor Rory Asyari memberikan kritik tajamnya lewat unggahannya di fitur Story Instagram. Tidak tanggung-tanggung, ia menganggap nilai edukasi film Tilik adalah nol.

RAME FILM “TILIK”. MENCOBA MENONTON
DENGAN PIKIRAN TERBUKA, SANTAI DAN
ENJOY. TAPI TERNYATA BIKIN TERGANGGU.
TERGANGGU BANGET DENGAN ENDING FILM INI.

PENYEBAR HOAX DAN FITNAH JUSTRU MENANG.

PIHAK YANG BERJUANG UNTUK NGEYAKININ CEK DULU KEBENARAN INFO DI INTERNET (CHECK BEFORE YOU SHARE) MALAH DIKALAHKAN.

TERLEBIH LAGI DI TENGAH SITUASI DIMANA DESAS-DESUS, HOAX, TEORI KONSPIRASI NGAWUR, BUDAYA MALAS BACA DAN RISET LAGI MARAK-MARAKNYA.

MATERI EDUKATIF FILM INI NOL. NIHIL. SEMUA SOAL PREJUDICE, FITNAH, STIGMATISASI PEREMPUAN, DAN KEMENANGAN HOAX MAKER. STIGMATISASI SANGAT KENTAL. PEREMPUAN PEDESAAN DIANGGAP BODOH, BIANG GOSIP, TONG KOSONG NYARING BUNYINYA. PADAHAL PERMPUAM DESA DI JAWA YANG TANGGUH, BERBOBOT, DAN PINTER BUANYAK. DI FILM INI, YANG BERISI DAN BIJAK KALAH SUARA. YANG MUSTINYA KITA TIRU, JADI DIKESANKAN DUNGU.

Tentu kritik Rory Asyari dibalas pembelaan warganet atas film Tilik.

La endingnya kan jelas, apa yg d bilang bu tejo bkn hoax, la iku buktinya dian dan calon suaminya yg ternyata ayah dari fikri, bisa jadi masih suami bu lurah ato mantan suami bu lurah, dian bilang kl di capek harus hidup sembunyi2.

Bahkan kritik Rory dapat balasan dari rekannya sesama jurnalis, Sofie Syarief.

But that’s the whole point, tho: will you still do the right thing onward when the right thing punches you in the gut? It doesn’t teach us something, it questions our beliefs.

And I don’t think movies or films should be forced to educate. It’s there to express and that’s enough.

Kemudian ditimpali dengan pendapat aktivis Ligwina Hananto.

Aku setuju Sof. Kok selesai film aku malah ketawa. Rasain. Hidup mmg gak hitam putih. Kesel bgt iya. Tp bukankah hidup kadang begitu?

Kl mau hitam putih ya nonton yg versi propaganda macam G30S/PKI.

Kritik terhadap film, sepahit apapun bahasanya adalah bentuk apresiasi atas sebuah karya. Film Tilik telah membuka banyak perbincangan tentang bagaimana realita pergaulan publik di dunia maya.

Namun, belajar dari film Tilik agaknya ada timbul sebuah dilema. Pembela film Tilik dan Bu Tedjo justru tampak berperan sebagai Yu Ning yang mati-matian membela Dian dengan keterbatasan informasi. Yu Ning akhirnya kurang populer dan terpinggirkan.

Memang demikianlah kebenaran selalu terpinggirkan. Hmmmmm.