Penggunaan water cannon menjadi pilihan aparat keamanan untuk membubarkan kerumunan unjuk rasa. Derasnya luncuran air membuat orang harus berlari menyelamatkan diri.

Di Yogyakarta, misalnya. Ketika unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD pekan lalu berujung ricuh, aparat keamanan menyemprotkan air dari kendaraan taktis water cannon mengarah ke barisan pengunjuk rasa. Alhasil, mereka terpencar menghindari terpaan water cannon.

Gejala serupa terjadi di negara tetangga, Thailand. Pengunjuk rasa pro-demokrasi di sana bahkan sudah menyiapkan langkah antisipasi seperti menyediakan payung sebagai tameng untuk melindungi diri dari semprotan water cannon.

Penggunaan water cannon di unjuk rasa damai itu pun menjadi headline sejumlah media massa lokal dan internasional. Di sisi lain, demonstran memprotes aparat keamanan yang diduga menyemprot air dengan campuran bahan kimia yang membuat mata iritasi.

Semprotan water cannon di unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja
Semprotan water cannon di unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja, Kamis (8/10/2020). (Foto: Cuplikan video Twitter/AksiLangsung)

Human Rights Watch yang mengamati unjuk rasa di Thailand melayangkan protes. Menurut pemantau hak asasi manusia ini, aparat tidak perlu memakai water cannon dalam menangani aksi damai.

Human Right Watch dalam keterangan resmi menjelaskan bahwa berdasarkan pedoman PBB tentang senjata tidak terlalu mematikan dalam penegakan hukum, water cannon hanya boleh digunakan dalam situasi kekacauan serius di mana ada kemungkinan besar hilangnya nyawa, cedera serius, atau perusakan properti yang meluas.

“Water cannon tidak boleh menargetkan semprotan air mengarah pada individu atau kelompok dalam jarak dekat karena berisiko menyebabkan kebutaan permanen atau cedera sekunder karena tekanan air,” tulis Human Rights Watch dalam website mereka, Sabtu (17/10/2020).

Dalam video yang beredar, semprotan water cannon terlihat diberikan ke pengunjuk dalam jarak yang dekat. Jangan mengira semprotan air water cannon ini terasa nikmat dan sejuk selayaknya air pancuran di kolam renang.

Dampak semprotan water cannon dengan tekanan tinggi dapat menyebabkan cedera hingga kematian.

Sebagai contoh, demonstran bernama Dietrich Wagner mengalami kebutaan di salah satu mata dan mengalami gangguan penglihatan serius di mata sebelahnya akibat semburan water cannon dalam unjuk rasa “lindungi pohon” di Stuttgart, Jerman pada 2010 lalu.

Kemalangan Dietrich menjadi perhatian internasional. Berkaca dari musibah itu, warga London, Inggris, menolak rencana pembelian kendaraan taktis water cannon Rosenbauer Wasserwerfer 9,000 (WaWe9) yang diusulkan Boris Johnson pada 2014 silam.

Kendaraan taktis water cannon tersebut memiliki spesifikasi sama dengan kendaraan yang melukai Dietrich. Sebanyak 35.000 akun telah menandatangani petisi penolakan di situs change.org.

Semprotan water cannon ke pengunjuk rasa pro-demokrasi di Bangkok, Thailand
Semprotan water cannon ke pengunjuk rasa pro-demokrasi di Bangkok, Thailand. (Foto: Twitter/tonhom_shallot)

Water cannon adalah cara yang dipakai menghalangi pengunjuk rasa damai. Apa yang terjadi pada Dietrich menunjukkan bahwa water cannon tidak aman, tidak dapat diprediksi, dan mengancam keselamatan orang,” kata Jo Darrant penggagas petisi dikutip dari Evening Standard.

Menteri Dalam Negeri Inggris saat itu, Theresa May, mengakomodir risiko serius dari semprotan water cannon sehingga ia tidak menyetujui pembelian water cannon.

Theresa May mengutip juga insiden kebutaan mata Dietrich sebagai alasan penolakan itu. Ia mengaku telah menerima bukti ilmiah dan medis tentang bahaya serius penggunaan water cannon.

Dengan dampak sebesar itu, Theresa May mempertanyakan bagaimana petugas dapat mengontrol ‘senjata’ ini.

Contoh lain, Amnesty International melaporkan aktivis Korea Selatan Baek Nam-gi meregang nyawa di rumah sakit setelah mengikuti unjuk rasa anti pemerintah pada 2016 silam. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, Baek sempat mengalami koma akibat terkena semprotan water cannon dari jarak dekat.

Risiko-risiko water cannon terhadap orang

Komite penasihat ilmiah independen Inggris, The Scientific Advisory Committee on the medical implications of less-lethal weapons (SACMILL) menyebutkan sejumlah risiko kecil hingga serius dari dampak semburan water cannon ke manusia.

  • Risiko cedera serius apabila water cannon bertekanan tinggi masuk ke lubang anatomis, seperti lubang hidung, telinga, dan mulut.
  • Risiko cedera serius pada mata akibat semburan air bertekanan tinggi. Kemungkinan terparah apabila semprotan air menghancurkan kacamata yang membuat serpihan kaca, plastik, atau bahan lain mengenai mata.
  • Risiko kecil adalah hipotermia akibat badan basah. Kemudian dampak lainnya berakibat psikologis atau kesehatan mental seseorang.

Efek kejut

Dari sudut pandang aparat kemanan, mereka beralasan bahwa semprotan water cannon merupakan efek kejut terhadap para demonstran.

Wartawan The Guardian, Robert Booth, mencari tahu bagaiamana dampak langsung water cannon terhadap dirinya ketika isu pembelian water cannon menjadi perbincangan luas.

Tidak tanggung-tanggung, Booth menjajal langsung kendaraan taktis water cannon Ziegler WaWe 9000 di Belgia yang mampu melepaskan 18 liter air per detik.

Dalam sebuah simulasi, kendaraan taktis awalnya menyemprotkan air pada tekanan 3 bar lalu naik menjadi 15 bar. Tekanan air sebesar ini mampu menghempaskan orang seperti boneka. Saat air disemprotkan mengenai tanah, tercipta efek kabut ke sekitar.

Ketika air berkekuatan tinggi itu mengenai kaki, Booth kehilangan keseimbangan dan nalurinya bereaksi untuk segera cepat berlari.

Komandan Polisi Federal, Alain Moreels, yang mendampingi Robert Booth menjelaskan bahwa dalam situasi ramai, semprotan water cannon membuat orang tidak mempunyai waktu untuk berpikir selain harus bertindak.

“Kami menggunakan tekanan tinggi untuk menciptakan efek kejut tetapi kami selalu memulai dengan tekanan rendah dan membiarkan orang-orang di jalan punya waktu untuk pergi,” katanya.

 

Apa yang diungkapkan Moreels mungkin terlihat ideal dalam simulasi. Pada praktiknya, penggunaan water cannon sangat membutuhkan kematangan emosional bagi aparat keamanan agar menghindari dampak serius kepada orang-orang.

Di Hongkong, Amnesty International pada tahun lalu mengecam rencana kepolisian yang mengetes penggunaan water canon dengan mengisi air bercampur bahan kimia penyebab iritasi mata dan pewarna untuk menandai identitas para demonstran.

Ini menjadi kekhawatiran. Semprotan air berwarna bisa mengenai orang-orang secara serampangan. Jika air berwarna disemprotkan water cannon, siapa saja bisa dituduh sebagai perusuh tanpa peduli bahwa dia adalah tim medis, jurnalis, atau warga biasa.

Amensty International juga mengingatkan kepolisian untuk menggunakan water cannon secara proposional jika keadaan memang sudah benar-benar serius dan tidak diarahkan kepada pengunjuk rasa yang tidak berdaya.