Tahun 2020 adalah tahun yang tidak mudah, tahun yang tidak gampang, sangat sulit karena adanya pandemi Covid-19.

Demikian sepenggal ungkapan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan acara outlook perekonomian Indonesia 2021.

Seperti biasa, di akhir tahun, pemerintah menyampaikan strategi perekonomian menyongsong tahun 2021, bagaimana proyeksi pertumbuhan dan tantangan yang harus dihadapi.

Kondisi perekonomian Indonesia tahun 2020 sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lagi-lagi, ini karena Covid-19 masih bergentayangan dan diperkirakan berlanjut di tahun mendatang.

Beberapa negara maju sekarang malah memasuki fase gelombang kedua penyebaran Covid-19. Meski terdengar pahit, asa optimisme dan semangat terus dibangun menyambut tahun 2021.

Kali ini, outlook perekonomian Indonesia 2021 mengangkat tema Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi 2021 yang diselenggarakan pada 22 Desember 2020 bertepatan dengan Hari Ibu yang dapat disaksikan dalam kanal YouTube Kemenko Perekonomian.

Sebelum beranjak pada proyeksi tahun 2021, mari melihat sekilas perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang 2020.

Pada triwulan II-2020 pertumbuhan ekonomi kontraksi 5,32 persen (y-o-y), lalu tumbuh membaik di kuartal III meski masih minus 3,49. Indonesia secara teknikal memasuki resesi.

Apa sebab? Pandemi Covid-19 yang dimulai Maret 2020 membatasi banyak aktivitas pergerakan penduduk. Sektor pariwisata, misalnya, menjadi sepi kunjungan pelancong karena khawatir tertular virus corona.

Baca juga: Bertahan di Masa Pandemi, Akankah Industri Sawit Bisa Tersenyum di 2021?

Tidak hanya di pariwisata, dampak pandemi Covid-19 juga menerpa sektor usaha lainnya. Imbasnya ke ketenagakerjaan, PHK terjadi dan sebagian pekerja dirumahkan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2020, terdapat sekitar 9,7 juta pengangguran, jumlahnya naik siginifikan, dan di antaranya pengangguran karena dampak Covid-19 sebanyak 2,56 juta orang.

Tidak semua sektor terpukul. Ada juga yang mengalami pertumbuhan signifikan seperti informasi dan komunikasi. Sektor ini, menurut data BPS, tumbuh 10,88 persen pada triwulan II-2020 secara tahunan.

Penyebabnya, penggunaan jasa internet meningkat seiring orang menjalankan masa karantina di rumah, bekerja dan belajar di rumah.

Untuk sektor lainnya yang mengalami tekanan, pemerintah menerbitkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) seperti memberikan bantuan sosial dan permodalan kepada UMKM diluncurkan.

Realisasi belanja bantuan sosial mencapai Rp191,4 triliun per 30 November 2020, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2019.

Menurut Presiden Joko Widodo, pemulihan ekonomi di Indonesia saat ini secara konsisten telah memperlihatkan hasilnya.

“Kita berharap situasi perekonomian kita akan lebih baik dan akan membaik di tahun 2021. Tentunya kebijakan yang baik akan kita lanjutkan, kita akan teruskan terutama di bidang kesehatan untuk penanganan Covid-19 dan pemberian bansos untuk rakyat,” kata Jokowi.

PDB sisi supply: pemulihan aktivitas produksi
Sektor yang tumbuh dan pulih. (cuplikan YouTube Kemenko Perekonomian)

Vaksinasi menjadi penentu pemulihan ekonomi

Meski pandemi Covid-19 diprediksi tetap ada di tahun depan, bukan berarti itu tidak bisa diakhiri. Caranya dengan program vaksinasi untuk mencapai herd immunity. Indonesia sudah mendapatkan vaksin Sinovac dari China menyusul vaksin lain di tahun mendatang.

Jokowi menegaskan, pemerintah akan memberikan vaksin secara gratis kepada seluruh rakyat.

Kapan dimulai? Jokowi mengatakan akan dimulai pada awal 2021. Tentu dengan catatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan izin vaksin.

Pelaksanaan vaksinasi menjadi penting untuk menaikkan kepercayaan publik dan menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Dengan begitu, Jokowi meyakini pemulihan ekonomi nasional bisa terselenggara cepat, konsumsi meningkat dan investasi akan kembali meningkat di akhir 2020.

“Ekspor kita sudah mulai kelihatan pulih. Tentunya tren ini terjaga dan meningkat di 2021, terlebih lagi kita juga mendapatkan fasilitas GSP dari Amerika. Ini akan mendorong kinerja ekspor,” kata Jokowi.

Program demi program baru disiapkan untuk menggenjot perekonomian pada 2021. Salah satunya Sovereign Wealth Fund (SWF) yang direncanakan meluncur di awal tahun 2021, SWF merupakan sumber pembiayaan baru yang bukan berbasis pinjaman tetapi dalam penyertaan modal atau ekuitas.

Jokowi mengatakan, negara yang sudah tertarik untuk SWF antara lain AS, Jepang, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Kanada. Menurunya, SWF dapat menyehatkan BUMN di bidang infrastruktur dan energi.

 

Tahun 2021 adalah momentum untuk kembali bekerja normal

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memandang tahun 2021 merupakan waktu untuk kembali bekerja, kembali mengembangkan usaha, dan optimis memanfaatkan peluang.

Beberapa peluang dari pemulihan ekonomi, terlihat dari penguatan nilai tukar Rupiah dan pasar saham.

“Kita melihat bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke pre-covid level 6.000. […] Akhir tahun ini tembus 6.100. JP Morgan memprediksi tahun depan 6.800 dan tentu ini trek yang sudah positif,” kata Airlangga.

Tanda-tanda baik lainnya diperlihatkan harga komoditas Indonesia kembali normal, seperti harga CPO.

Perekonomian di wilayah Sumatera dan Kalimantan terbantu berkat program B30 yang berefek ke nilai tukar pekebun. B30 merupakan upaya pemerintah supaya CPO terserap lebih banyak ke dalam negeri,

Indeks PMI manufaktur pun lekas sehat dengan melaju ke level 50,6 yang menandakan adanya ekspansi walau terkepung tekanan akibat pandemi Covid-19.

Rock Bottom sudah kita capai. Di kuartal ketiga sudah ada perbaikan meski terkontraski 3,49 persen, namun [pertumbuhan] secara kuartal, kita sudah positif 5,05 persen dan ini ditopang oleh belanja pemerintah yang tumbuh 9 persen mengkompensasi kontraksi di sektor konsumsi.”

“Apabila ini kita teruskan di kuartal keempat dengan didorong spending pemerintah dan pemulihan di sektor indirect investasi, capital inflow di pasar modal, tentu kita berharap pertumbuhan 5,05 persen, kalau bisa dipertahanakan di akhir tahun ini, kita bisa melihat range pertumbuhan akan membaik, antara -2 sampai positif 0,6,” kata Airlangga.

Ringkasnya, Airlangga menyampaikan game changer tahun depan antara lain:

  1. Pelaksanaan vaksinasi
  2. Implementasi UU Cipta Kerja. Selain itu, disiapkan juga program stimulus kepada UMKM

Lalu, ini faktor utama pendorong ekonomi Indonesia 2021:

  1. Penanganan pandemi Covid-19 dengan pengendalian kasus Covid-19 dan ketersediaan vaksin di tahun 2021
  2. Dukungan kebijakan fiskal ekspansif untuk melanjutkan PEN
  3. Percepatan reforamsi, antara lain reformasi produktivitas daya saing dan iklim investasi melalui UU Cipta Kerja
  4. Pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan akan membaik di tahun 2021

Sementara strategi meraih peluang pemulihan ekonomi pada 2021 antara lain:

  1. Vaksinasi Covid-19
  2. Melanjutkan program pemulihan ekonomi nasional
  3. Implementasi UU Citpa Kerja
  4. Keberpihakan kebijakan ekonomi pada UMKM
  5. Penyusunan Daftar Prioritas Investasi/Positive list
  6. SWF

Strategi pengungkit pertumbuhan lainnya:

  1. Program ketahanan pangan
  2. Pengembangan kawasan indsutri
  3. Mandatori B30
  4. Padat karya
  5. Pengembangan ekonomi digital

Apalagi yang bisa diukur sebagai optimisme? Jawabnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, ekonomi 2021 diperkirakan tumbuh di kisaran 4,5 sampai 5 persen.

“Pemerintah optimis bahwa perekonomian nasional di tahun depan tumbuh 4,5 sampai 5 persen namun upaya tersebut menjadi bisa lebih dilaksanakan apabila dukungan dan sinergitas stakeholder dipertahanakan.”

proyeksi pe 2021
Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021. (cuplikan YouTube Kemenko Perekonomian)

Tanggapan dunia usaha

Upaya dan strategi pemerintah dalam menjalankan pemulihan ekonomi nasional ditanggapi baik oleh kalangan pengusaha dengan beberapa catatan.

Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani mengungkapkan, program vaksinasi tetap menjadi hal penting dalam menentukan pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

Pandemi Covid-19 telah menciptakan ketidakpastian. Menurut Rosan, dalam ketidakpsatian yang terjadi sekarang, kelas menegah dan atas belum melakukan spending. Ini menjadi perhatian sebab konsumsi berkontribusi besar 56 persen untuk pertumbuhan ekonomi.

Jalan keluarnya, mobilitas harus normal. Dengan adanya vaksinasi yang mengurangi ketidakspatisan, di situ pengeluaran masyarakat akan bergerak lagi.

Kabar baik yang bisa dikenang dari tahun ini, investasi dalam negeri mengalami peningkatan meski dihadapkan pada tekanan perekonomian akibat pandemi Covid-19.

“Investasi dari dalam negeri pada tahun 2020 meningkat walau di tekanan perekonomian padahal kalau kita lihat investasi luar negeri mengalami penurunan. Dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat mendukung perekonomian nasional, ini cukup surprising dengan proyek infrastruktur yang memberi dampak tenaga kerja,” katanya.

Supaya lebih maksimal, tahun depan, sudah waktunya mengimplementasikan UU Cipta Kerja. Tetapi, ini perlu kesabaran mengingat serikat buruh sedang mengajukan judicial review UU Cipta Kerja ke Mahkamah Konstitusi.

“Kita sangat mengapresiasi pemerintah dengan UU Cipta Kerja yang ini akan memberikan momentum perbaikan kita ke depan dengan sangat signifikan yang dirasakan tidak hanya dunia usaha tetapi masyarakat secara keseluruhan,” kata Rosan.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Tidak Selalu Berdampak Buruk, Ini 5 Kebaikan yang Bisa Kamu Temukan

Pandemi tidak selamanya memberi pukulan, pelbagai perubahan di dunia usaha terjadi. Sektor digital, kata Rosan, mengalami akselerasi besar yang mendorong peningkatan tenaga kerja di bidang teknologi.

Pencari kerja mendapatkan bekal pelatihan melalui kartu Prakerja, jumlah UMKM didorong supaya masuk ke dunia digital.

Menurut Rosan, ke depan, digitalisasi UMKM yang berfokus kepada pelatihan digital akan lebih tinggi, begitu juga dengan akselerasi modernisasi di sektor riil.

“Kalau kita lihat untuk dunia usaha ini produktivitas menurun dan cost akan meningkat walau sudah ada kebijakan dilakukan dunia usaha yang paling banyak penurunan jam kerja sekitar 50 persen.”

“Tetapi, tentunya melihat ke depan sangat optimis pertumbuhan 4 sampai 5 persen di 2021,” kata Rosan.

Jam kerja menyesuaikan PSBB
Pengurangan jam kerja menyesuaikan PSBB.