Masih mengenai Raja Salman dan kunjungannya ke Indonesia. Juga dengan pemberiannya dalam investasi besar untuk dikerjakan dalam beberapa sektor dan bidang.

Patutnya, kita harus mengapresiasi kinerja awak media yang sebelum dan hari kedatangan raja menyampaikan kegiatan raja dengan terus-menerus. Apapun yang dilakukannya, serta orang-orang yang di sekitarnya, pastilah menjadi sajian yang bernilai layak sebagai berita.

Misalnya berita itu mengenai Raja Salman menghabiskan hari-harinya ke depan dengan mengunjungi Pulau Dewata Bali. Pulau yang membius dan menghipnotis banyak orang dengan keindahannya sejak zaman dahulu. Mungkin sebagian besar analis ekonomi bersepakat bahwa hal tersebut akan menarik lebih besar minat turis-turis mancanegara berwisata di Indonesia.

Dan selanjutnya, kita tentu menantikan keajaiban apalagi yang dapat diberikan Raja Salman. Sang pangeran, eskalator, harga sewa hotel, atau sebagainya. Tema-tema semacam itu yang akan mengisi batok kepala kita. Atau eskalator mulai mendapat tempat di hati orang-orang ‘mager’ untuk ditaruh di dalam rumah.

Selama seminggu ini, sebelum kedatangan raja, ada pertanyaan, apa memang Raja Salman ingin agar pemberitaannya sebesar ini? Saya menduga-duga bahwa raja sendiri tidak menginginkannya demikian.

Tapi dia tentu menyadari konsekuensi yang diembannya sebagai orang paling berpengaruh di dunia. Pemberitaan media massa dalam perspektif apapun akan selalu menghiasi halaman-halaman depan surat kabar. Keran-keran kebebasan berpendapat atau bermedia terbuka lebar di negeri ini. Kita merasa semakin dekat dengan Raja Salman.

Tapi Wakil Presiden Jusuf Kalla muncul untuk menyeimbangkan tempo permainan. Seperti dilansir dari tribunnews.com (6/3), dia menggambarkan perilaku kita yang agak menggelikkan. Pada hari yang sama saat Raja Salman tinggal di Indonesia, hadir juga 15 kepala negara untuk mengikuti KTT IORA yang berlangsung di Jakarta (6/3).

Konferensi ini merupakan pertemuan antar negara yang berada dalam kawasan Samudera Hindia. Kali ini topik pembahasan mengangkat keamanan dan keselamatan maritim dan fasilitas perdagangan investasi. Tapi tidak banyak di antara kita mengetahui kehadiran kepala negara tersebut, pun isi konferensi tersebut.

Dari situ, melebarlah penjelasannya, yang harus dilihat sebagai bahan koreksi kita bersama. Lihatlah bahwa kita telah menanti-nanti, kita berharap ada investasi besar ke negeri ini. Selalu saja kita meletakkan tangan di bawah.

Memang kita hanyut dalam kekayaan Raja Salman yang tidak mungkin terkirakan lembarannya. Jajaran menteri kita pun menunggu dengan tersenyum manis-manis pada besaran nilai investasi. Jika memang keadaan seperti ini yang terjadi, siapa yang mampu mengemudikan kapal besar ini?

Jawaban terakhirnya adalah kita sebagai rakyat, orang dan warga negara Indonesia sendiri. Kita semestinya menyampaikan rasa terima kasih karena kejujuran Jusuf Kalla yang mengingatkan betapa surutnya mata kita memandang negerinya sendiri. Dan, agak parahnya, kita memuja yang lain meskipun pada akhirnya meminta ampun juga.

Apa sebab? Akar masalahnya sudah berkarat lama. Kita berjalan mabuk dengan pragmatis. Karenanya ide-ide besar dianggap mimpi yang sudah pasti tidak menyentuh kenyataan. Orang-orang visioner hanya ditemukan dalam kelas motivasi atau di I’m possible, yang idealis menginap di dalam kampus.

Mungkin kita tidak pernah berpikir, investasi apa yang dapat diberikan Indonesia kepada Arab Saudi? Dalam segala kemungkinan, Indonesia dapat memberikan bantuan kepada Arab Saudi. Sebijak-bijaknya kita harus mencari lebih tahu. Jangan pula kita berharap agar orang lain yang memeriksa isi rumah kita. Didapatnya emas, mampus kau! Malahan orang itu kita dambakan pula.

Pesan Jusuf Kalla hendaknya dimaknakan lebih luas bahwa kita memang harus menjadi pemain utama di atas panggung internasional. Harus itu! Sudah telinga bosan karena hampir sepanjang waktu, bahkan di dalam diskusi akademis sekalipun, bahasan terus menerangkan betapa kita telah diperdaya oleh negara lain. Apalah itu konspirasi.

Kita telah belajar dan mengetahui banyak tentang kelemahan dan kekurangan yang dimiliki oleh bangsa ini. Habis bab demi bab imperialisme, kolonialisme dan sejarah perjuangan bangsa. Berharap datangnya Ratu Adil yang siapapun dapat saja mendaku dan menafsirkan kehadirannya.

Benarlah kata orang Melayu ini, tak kaya oleh emas pembawa, tak gadis oleh kain berselan. Bahwa hendaklah berusaha sendiri untuk mencapai kemuliaan dan hidup dan janganlah mengharapkan bantuan orang.