Pandemi Covid-19 telah memberikan efek berganda pada kehidupan seseorang. Selain masalah kesehatan, fenomena lain yang tidak dapat diabaikan adalah naiknya tingkat perceraian.

Di Kota Batam, misalnya. Laporan Kompas.com menyebut Pengadilan Agama Kota Batam, Kepulauan Riau mencatat angka perceraian di masa pandemi Covid-19 mencapai 1.509 perkara dari Januari-Agustus 2020. Naik tajam dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Humas Pengadilan Agama Barmawi mengatakan mayoritas gugatan perceraian disebabkan oleh faktor ekonomi selama masa pandemi hingga perselingkuhan.

Kenaikan tingkat perceraian juga melanda negara lain, seperti di China yang mengalami kenaikan drastis di bulan Maret atau selepas lockdown.

Sementara, New York Post melaporkan gugatan perceraian di AS dari Maret-Juni 2020 mengalami kenaikan hingga 34% dibanding periode yang sama pada 2019.

Pemicu perceraian tersebut disebabkan oleh faktor kombinasi stres, masalah pengangguran, kesulitan keuangan, penyakit, anak-anak yang bersekolah di rumah, penyakit mental, dan lain-lain.

Semua pemicu di atas dianggap memberi tekanan yang signifikan pada hubungan rumah tangga selama menjalani masa karantina.

Kita mungkin menganggap alasan seperti masalah keuangan atau pengangguran terlihat sebagai alasan umum yang sudah terjadi sebelum pandemi.

Akan tetapi, dengan peningkatan yang terjadi, alasan-alasan klasik itu menjadi berbeda selama pandemi.

Perusahaan penyedia dokumen hukum yang berbasis di AS, Legal Templates, menyebutkan bahwa sebanyak 31% pasangan mengakui masa karantina atau lockdown di negaranya telah memicu retaknya hubungan pasangan yang sulit untuk diperbaiki.

Puncak dari gugatan perceraian itu dapat dilihat pada pertengahan April lalu atau 15-20 hari setelah beberapa negara bagian di AS memberlakukan lockdown.

Fakta baru yang ditemukan adalah sebanyak 20% gugatan perceraian diajukan oleh pengantin baru yang menikah dalam kurun waktu lima bulan atau kurang. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 11%.

“Ini menunjukkan bahwa pasangan yang baru menikah kurang siap untuk menghadapi tekanan Covid-19 dibandingkan pasangan dewasa,” tulis Legal Templates.

Tetapi, yang menjadi perhatian adalah masa karantina ternyata dapat memicu ketegangan dalam hubungan.

Beberapa pasangan belum terbiasa menghadapi sikap pasangan yang sibuk bekerja di rumah karena aturan work from home (WFH). Belum termasuk saat anak-anak juga bersekolah di rumah.

Situs The Inquirer melaporkan bahwa editor mereka Elly Tolsky yang harus bekerja di rumah (WFH) mengaku tidak dapat berbuat apa-apa setelah mengetahui tabiat pasangannya yang ternyata suka sembrono meninggalkan cangkir minumannya di sembarang tempat di dalam apartemen mereka.

Menanggapi persoalan pasangan semacam ini dalam masa WFH atau karantina, psikolog klinis Deb Derrickson Kossmann mengatakan, komunikasi mejadi penting untuk mencegah gangguan yang dihadapi berubah menjadi amarah.

Menurutnya, jika seseorang sebelumnya dapat menerima atau mentolerir sikap pasangan, sekarang masalah itu harus dibicarakan.

Ia mengatakan, ketika Anda misalnya kesal dengan sikap pasangan Anda yang suka menggigit jari, cobalah mengatakannya dengan kalimat yang peduli, “Sepertinya kamu menggigit jari lebih sering dari biasanya, ada masalah apa?”

Jangan menegurnya dengan berkata, “berhenti menggigit jari”.

Mengapa demikian? Menurut Kossmann, stress dapat meningkatkan kebiasaan unik seseorang.

Contohnya, orang yang suka menggigit jari tadi, sebelumnya hanya melakukan itu hanya sekali dalam sehari. Tetapi dalam kondisi tertekan akibat masa karantina, ia akan menggigit jarinya lebih banyak dari biasanya.

Ilustrasi pasangan
Ilustrasi pasangan. (Foto: Pixabay)

Pandemi memang memberikan ketidakpastian. Namun, tidak selamanya merupakan kabar buruk.

Laporan BBC.com mengatakan bahwa seorang Ibu rumah tangga bernama Susie Gao, menghabiskan masa karantina dengan lebih sering berkomunikasi bersama suami dan anak perempuannya yang masih balita. Sehingga hubungan keluarga mereka menjadi lebih rekat setelah China bebas dari masa karantina.

Lalu, bagaimana cara mempertahankan hubungan agar tetap dekat selama pandemi?

Society for Personality and Social Psychology (SPSP) dalam situsnya menjelaskan, cara penting untuk mengurangi ketegangan dan meredakan konflik dalam hubungan adalah dengan memberika dukungan satu sama lain.

Meski begitu, kepedulian itu perlu dilakukan secara seimbang.

Jika Anda memberi dukungan secara berlebihan, maka ini dapat membuat pasangan Anda merasa itu tidak mengatasi masalah.

Sementara, jika Anda terlalu memberi sedikit dukungan, maka Anda dianggap tidak mencintainya dan tidak diperhatikan.

Karena itu, perlu keseimbangan.

SPSP mengatakan ada tiga hal pokok yang dapat dilakukan agar tercipta keseimbangan atas kepedulian.

1. Responsivitas

Responsivitas yang berarti memberikan dukungan sesuai apa yang dibutuhkan pasangan Anda. Apakah pasangan Anda membutuhkan pelukan atau membutuhkan nasihat praktis atas masalahnya. Cobalah dengarkan dia.

2. Balasan (Reciprocity)

Dikutip dari situs mydomaine.com, reciprocity diartikan sebagai praktik bertukar barang dengan orang lain untuk keuntungan bersama, terutama hak istimewa yang diberikan oleh satu negara atau organisasi ke negara lain.

Cara timbal-balik ini bisa diterapkan untuk menjaga hubungan.

Pasangan Anda telah menunjukkan empati dan perhatian di saat Anda membutuhkan itu, maka sekarang berilah balasan yang sama terhadap pasangan Anda.

3. Memperluas relasi

Cobalah untuk memperluas relasi Anda. Sekarang adalah waktu yang tepat. Sebab dengan mengingat siapa saja orang-orang dalam relasi Anda, teman, saudara atau kolega kerja Anda, maka secara tidak langsung ini akan mengurangi tekanan pada hubungan Anda bersama pasangan.