Kerja di Jakarta? Menggiurkan bagi para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia. Seolah peluang karir terbuka seluas-luasnya, segala macam bidang dan sektor industri tersedia. Selain Pusat Pemerintahan dan bisnis, Jakarta juga sebagai salah satu kota yang berperan kuat di bidang pendidikan. Beberapa universitas ternama ada di Ibukota termasuk Universitas Indonesia yang terletak di Depok, beberapa kilometer dari pusat kota Jakarta. Tapi tahukah kamu, apa komentar mereka yang sudah merasakan mencari nafkah di Ibukota kita tercinta ini? Kerja di Jakarta itu tua di jalan! Lho, kok? Apa maksudnya ya?

Padatnya Pusat Pemerintahan dan kawasan perkantoran memang membuat Jakarta seperti magnet bagi kota-kota disekelilingnya terutama yang kerap kita sebut Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Alih-alih sewa kost, para pekerja ini lebih memilih pergi-pulang setiap hari dari rumah masing-masing ke kantornya di Jakarta. Akibatnya, kendaraan pribadi dan transportasi umum berseliweran nyaris duapuluh empat jam dalam sehari.

Pemerintah Daerah bukannya tidak tanggap atas keadaan ini, karena seiring waktu banyak upaya-upaya yang terus dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kemacetan di Jakarta. Mulai dari pendisiplinan aturan lalu lintas, penambahan armada transportasi umum dan yang baru-baru ini tengah gencar dijalankan adalah proyek MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta. Seiring upaya-upaya tersebut dijalankan, kesadaran masyarakat pengguna kendaraan pribadipun sebenarnya telah mulai tumbuh. Akibatnya, pengguna transportasi umum mulai membludak baik TransJakarta maupun Commuterline.

Biaya yang relatif terjangkau dan efisiensi waktu menjadi alasan utama masyarakat memilih dua layanan transportasi publik ini. Keputusan pengelola untuk menambah jumlah armada memiliki dampak baik dan buruk.  Baiknya, penumpang memiliki lebih banyak pilihan jam keberangkatan. Buruknya, antrean sinyal masuk seringkali tertahan sehingga seakan tidak ada bedanya antara Commuterline yang menggunakan jalur rel dan TransJakarta yang melintas diatas jalur khusus namun seringkali masih dicurangi oleh kendaraan pribadi.

Selain permasalahan transportasi, lagi-lagi kita harus mengingat bahwa Jakarta adalah ‘rumah’ pemerintahan yang menyimpan banyak instansi penting. Hampir setiap sekali dalam sepekan ada demonstrasi disana-sini dari berbagai macam problema dan lapisan masyarakat. Aksi-aksi protes ini kerap kali mengganggu kelancaran lalu lintas dan menimbulkan keresahan bagi mereka yang tengah melakukan perjalanan. Para pegawai kantoran yang telah habis jam kerjanya pun menjadi enggan cepat-cepat pulang dan memilih untuk tinggal di kantor atau kafe terdekat hingga aksi tersebut selesai.

Itulah sebabnya, tak jarang mereka yang melakukan perjalanan pergi-pulang berceletuk, “berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam”. Ungkapan ini nyaris benar karena untuk menghindari kemacetan, mereka harus berangkat subuh dari rumah dan jam pulang kantor yang membuat jalanan semakin ramai menyebabkan mereka sampai di rumah pada malam hari. Akibatnya rumahlah yang menjadi tempat transit sementara, sedangkan jalanan dan kantor lebih menyita waktu di keseharian.

Maka istilah tua di jalan memang tak dapat dihindarkan dari kehidupan para pekerja di Jakarta. Nyaris separuh waktu jam kerja habis di jalanan, entah karena macet, menunggu armada sepi penumpang atau sekedar mampir ke pusat belanja yang masuk dalam rute perjalanan pulang. Lantas, dengan terpublikasinya betapa keras kehidupan di Ibukota apakah menyurutkan tekad para pendatang? Tentu tidak. Jakarta, dengan kegemilangannya terus menjadi magnet bagi para investor, pelajar dan pekerja yang datang dari berbagai macam kalangan dan latar belakang. Maka dari itu, sudah selayaknya kita masyarakat umum perlu ikut andil dalam upaya pemerintah untuk menjadikan kondisi Jakarta menjadi lebih baik.