Orang Indonesia adalah orang pemaaf. Ungkapan saling memaafkan itu juga telah menjadi tradisi seperti ketika merayakan Idulfitri.

Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang yang terancam terjerat hukum pidana bisa terlepas dari beban masalah hanya dengan meminta maaf atau dengan kata lain, kasusnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Maaf mengisyaratkan dua hal: ada orang yang meminta maaf dan ada orang yang menerima permintaan maaf tersebut. Jika saja penerima menolak permintaan maaf, maka gugurlah maaf tersebut.

Dan belakangan ini, ungkapan bahwa orang Indonesia adalah bangsa pemaaf agaknya menjadi tidak relevan lagi. Orang-orang mulai sulit untuk menerima permintaan maaf dengan alasan tertentu.

Via Vallen misalnya yang pada hari ini, Sabtu (24/10/2020) meminta maaf kepada grup vokal Korea IU, fans IU dan pendukungnya sendiri karena adanya kemiripan dari video musik terbarunya “Kasih Dengarkanlah Aku” dengan video klip IU berjudul Above The Time.

Via Vallen mengklarifikasi bahwa ia tidak mengetahui konsep video klipnya ternyata mempunyai kemiripan dari video IU.

Via Vallen dalam video klip Kasih Dengarkanlah Aku
Via Vallen dalam video klip Kasih Dengarkanlah Aku.

Namun, klarifikasi tidak cukup meredakan. Netizen beranggapan bahwa Via Vallen bermaksud mencari popularitas dengan peluncuran video klipnya.

“ngebacot minta maap doang mah gampang takedown coba hey,” tulis seorang pengguna Twitter mengomentari postingan berita detikNews tentang permintaan maaf Via Vallen. Dan terpantau video klip terbarunya sudah tidak ditemukan di akun resminya di YouTube.

via vallen minta maaf
Permintaan maaf Via Vallen kepada fans IU lewat Story Instagram

Itu baru satu contoh. Jauh sebelumnya, kejadian paling fenomenal adalah permintaan maaf Ahok pada 2016 silam.

Kala itu Ahok yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta meminta maaf kepada umat Islam atas perkataannya yang mengutipkan Surat Al Maidah ayat 51 di hadapan warga Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Permintaan maaf itu sepertinya tidak berarti banyak sebab sebagaimana diketahui, ucapan Ahok di Kepulauan Seribu itu menjadi pemantik munculnya gelombang aksi protes dari 411 sampai 212.

Dalam konteks antarindividu, permintaan maaf pun sulit diterima, kadang menjadi tidak bermakna bahkan memberikan kesan aneh kepada orang lain.

CNBC merangkum alasan mengapa meminta maaf dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri. Mengutip buku, “The Power of an Apology,” psikoterapis Beverly Engel mengatakan meminta maaf yang berlebihan tidak jauh berbeda dengan memuji secara berlebihan.

Orang lain mungkin mengira seseorang yang meminta maaf sedang menampilkan diri sebagai orang yang baik dan perhatian, tetapi sebenarnya orang tersebut mengirimkan pesan bahwa dia kurang percaya diri.

Dengan kata lain, orang yang meminta maaf tersebut memberi ruang kepada orang lain untuk memperlakukannya dengan buruk. Ia pun terlihat kurang percaya diri yang akhirnya menjadi sasaran empuk untuk dijahili orang lain.

Sebaliknya, orang-orang yang menolak mengungkapkan penyesalan atau tidak meminta maaf, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The European Journal of Social Psychology, menunjukkan tanda-tanda bahwa ia memiliki harga diri yang besar, perasaan lebih kuat, dan integritas.

Apa yang harus dilakukan?

Via Vallen mungkin bisa mengambil pilihan untuk tidak meminta maaf demi mempertahankan kebenarannya bahwa ia memang tidak mengetahui konsep video klipnya memiliki kemiripan dengan video klip lain yang ia tidak ketahui sama sekali.

Mungkin saja Via Vallen lalai, tidak mengecek lebih lanjut video klip sebelum diedarkan. Jika demikian ia seharusnya hanya bertanggungjawab untuk kelalaiannya, bukan pada kesadaran telah mencuri kreativitas pihak lain. Tapi keadilan di negeri ini pun hanya mitos. Tuntutan video klip dihapus telah dipenuhi, tetapi hujatan tidak berhenti.

Bila ditanya apa solusi dari ini semua ketika mengakui kesalahan dan meminta maaf pun tidak mendapat tempat di Indonesia?

Barangkali Via Vallen dan orang lain yang senasib dengannya dapat mengambil pilihan untuk bersikap “bodo amat” agar tidak bereaksi berlebihan atas tanggapan orang lain.

Atau mungkin bersikap permisif, apa saja boleh dilakukan, melanggar aturan boleh saja dilakukan. Toh, hal-hal semacam ini bukan fenomena baru di Indonesia, apalagi sudah cukup sering dilakukan pejabat negeri ini seperti hendak mengatakan hidup ini hanya satu kali.