Kompetisi European Super League menuai kecaman dari penggemar sepak bola. Tradisi ratusan tahun sepak bola seketika dirusakan oleh keinginan sejumlah pemimpin klub-klub elit Eropa.

Sebanyak 12 klub elit dari Liga Primer Inggris, La Liga, dan Serie A mengumumkan keikutsertaan mereka dalam penyelenggaran European Super League pada 19 April 2021. Wacana yang mengudara pertama kali pada 1990an ini akhirnya terealisasi.

Krisis keuangan akibat pandemi mendorong tim seperti Manchester United, Real Madrid, Barcelona, Juventus dan sederet klub elit lainnya mencari upaya untuk menyelamatkan klub. Hingga akhirnya, mereka yakin untuk membuat sendiri kompetisi dengan lebih komersial menandingi UEFA.

Bank investasi JP Morgan sudah siap untuk mendanai kompetisi tersebut. Pemasukan klub diperkirakan akan mengalami peningkatan ketimbang menjalani kompetisi yang ada sekarang.

Namun, klub tak akan bernyawa tanpa suporter. Wacana Super League jelas mengejutkan para penggemar. Terlebih asosiasi sepak bola Eropa, UEFA. European Super League akan menimbulkan dualisme kompetisi.

Regulasi FIFA tak mengakui liga yang memisahkan diri dan bergabung dalam kompetisi sepak bola baru. Klub dan pemain yang terlibat dalam kompetisi semacam itu juga tak akan diizinkan berpartisipasi dalam kompetisi apa pun yang diselenggarakan FIFA atau konfederasi sepak bola.

Pemain Manchester United Van de Beek dan Bruno Fernandes
Pemain Manchester United Van de Beek dan Bruno Fernandes. (Foto: Twitter/ManUtd)

Baca juga: Haranggaol, Destinasi Alternatif Danau Toba yang Asri dan Jauh dari Hiruk Pikuk

Selama ini, klub-klub besar Eropa dipertemukan di gelaran Liga Champions yang berjalan sejak 1955. Sebanyak 32 kesebelasan top Eropa akan bertarung melewati fase penyisihan grup hingga mencapai babak gugur untuk merebut trofi.

“Ini adalah proyek sinis yang didirikan atas dasar kepentingan pribadi beberapa klub ketika masyarakat membutuhkan solidaritas lebih dari pada yang sebelumnya,” tulis pernyataan resmi UEFA.

Masalah kian pelik. Selain karena adanya dualisme, gelaran Super League dianggap membelokkan nilai-nilai sepak bola menjadi sangat komersial. Pendukung Manchester United di depan stadion Old Trafford menggelar aksi dengan menenteng spanduk berisi protes mereka terhadap klub.

Created by the poor, stolen by the rich (Diciptakan oleh orang miskin, dicuri oleh orang kaya)” demikian pesan kekecewaan pendukung klub berjuluk Setan Merah ini.

European Super League, kompetisi tanpa degradasi

Meski format resmi European Super League belum dikeluarkan, bayangan jalannya kompetisi dapat dibayangkan. Salah satu keistimewaannya adalah tak ada degradasi.

Jika benar demikian, maka format European Super League bakal menyerupai kompetisi basket NBA di mana setiap klub bermain satu musim tanpa takut terdegradasi.

Perbedaan ini sangat mencolok sebab akan menghapuskan promosi klub-klub kecil. Artinya, kesempatan klub kecil untuk bertarung melawan tim besar bakal pupus.

Sepak bola Eropa selama ini berjalan dengan sistem degradasi. Piramida sepak bola ini menciptakan persaingan sehat dan ketegangan selama satu musim. Pemimpin klasemen akan menjadi juara, sementara klub yang berada di dasar jurang klasemen akan tersingkirkan ke divisi di bawahnya.

Begitu sebaliknya, akan ada promosi naik kelas. Klub terbaik peringkat 1-3 klasemen dari kompetisi satu tier di bawahnya akan dipromosikan untuk menggantikan posisi klub degradasi tersebut.

Kehadiran klub-klub besar di lapangan memiliki daya tarik tersendiri untuk menikmati pertandingan. Stasiun TV akan berebut untuk mendapatkan hak siar dan sejumlah pemasang iklan berupaya mendapatkan slot di pertandingan klub-klub besar. Inilah yang menjadi sumber pemasukan bagi klub.

“LaLiga memiliki sejarah 90 tahun yang membanggakan sebagai kompetisi terbuka berdasarkan prestasi. Jutaan penggemar di seluruh dunia mengikuti 42 klub LaLiga Santander dan LaLiga SmartBank.”

“Keberhasilan kompetisi kami telah membantu sepak bola menjadi kontributor utama ekonomi Spanyol, menyumbang hampir 1,4 persen dari PDB dan menyediakan lapangan kerja bagi hampir 200.000 orang,” tulis pernyataan La Liga dikutip dari football-italia.net.

Manchester City mengundurkan diri, Florentino Perez masih yakin

Dua belas klub yang menyatakan bergabung ke European Super League antara lain, Juventus , AC Milan, Inter Milan, Atletico Madrid, Real Madrid, Barcelona Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United dan Tottenham Hotspur.

Dua klub kaya lainnya, Munchen dan Paris Saint-Germain tak bergabung ke sana meski sebelumnya mereka dikabarkan sudah ditawarkan.

Ancaman UEFA terhadap pemain klub yaitu tak bisa bertanding membela timnas ditambah gelombang protes pendukung mewarnai drama perjalana super League. Tumbal pun ditagih.

Manchester City dan Chelsea menarik diri dari Super League pada 21 April 2021. Sementara itu, Wakil ketua eksekutif Manchester United, Ed Woodward, akan mengundurkan diri dari jabatan yang didudukinya sejak 2012, laporan BBC.

European Super League berada di ujung tanduk. Kemungkinan gelaran tersebut bakal gagal terlaksana karena tak mendapat restu dari UEFA, FIFA, pemain dan penggemar sepak bola.

Meski demikian, petinggi Super League masih percaya diri bahwa kompetisi buatan mereka akan tetap berjalan. Dalam wawancara ke L’Equipe dikutip dari Marca, Presiden Real Madrid, Florentino Perez mengaku tak khawatir mengetahui Chelsea dan Manchester City mundur dari Super League.

Ia mengatakan, kondisi saat ini sudah sangat serius untuk sepak bola. “Semua orang setuju untuk melanjutkan proyek dan mencari solusi. Tak ada yang berada di bawah tekanan,” katanya.

Ia yakin Bayern Munchen dan PSG akan bergabung ke Super League. Namun, pihaknya, tambahnya, belum berbicara dengan dua klub tersebut. Super League juga memberi kesempatan kepada klub menengah Prancis, Lens untuk bisa bermain di Super League.

“Anda harus menyadari bahwa apa yang terjadi sekarang adalah seperti yang terjadi di tahun 2008 dengan kehancuran finansial,” kata Perez.

Baca juga: Kamu Dibuat Jengkel di Media Sosial? Ini Karakter Orang Toxic yang Harus Dihindari